Bincangperempuan.com– Sejak India ngumumin tentang tujuan emisi nol bersih 2070 pada 2021, negara itu langsung ngebut bikin berbagai kebijakan dan alat buat ngukur dampak strategi transisi energi di banyak sektor.
Tantangannya? India harus jalan di dua kaki: ngejar pembangunan ekonomi berkelanjutan sambil tetap mikirin kesejahteraan rakyatnya. Jadi, transisi energi di sana nggak bisa cuma soal teknologi—tapi juga harus nyentuh masalah kesenjangan energi, kesehatan, dan sosial-ekonomi yang saling kait.
Situasi makin rumit di sektor batu bara. Di sana, perubahan kebijakan punya efek domino besar ke kesehatan manusia dan kehidupan masyarakat lokal. Tapi sayangnya, masih minim banget data soal gimana upaya nol emisi ini melibatkan unsur inklusivitas, keberagaman, kesetaraan, dan aksesibilitas (IDEA)Â dari upaya nol bersih berdampak pada isu-isu ini.
Dengan ketergantungan India yang masih tinggi pada batu bara, udah saatnya penelitian dan kebijakan yang pakai kerangka IDEA jadi prioritas. Karena cuma lewat cara itu, hubungan antara aktivitas ekonomi, kesejahteraan masyarakat, dan pengelolaan sumber daya bisa benar-benar diselesaikan secara adil dan berkelanjutan.
Baca juga: Panas Ekstrem, Ancaman Serius buat Lansia India
Dampak terhadap kehidupan dan penghidupan
Pertambangan batu bara memang menyediakan lapangan kerja , ikut nyokong ekonomi lokal, dan bantu ngebangun infrastruktur di daerah-daerah yang sebelumnya terpencil atau tertinggal. Tapi di sisi lain, ketergantungan masyarakat pada satu sumber penghasilan bikin mereka rentan banget terhadap fluktuasi pasar energi—baik global maupun domestik—dan perubahan arah kebijakan.
Sayangnya, sejauh ini dampak sosial-ekonomi dari transisi energi di India, terutama setelah tambang-tambang batu bara ditutup, masih jarang banget dikaji. Salah satu yang mulai turun tangan adalah Proyek Transmine dari Ashoka Centre for a People-Centric Energy Transition (ACPET), yang fokus meneliti gimana penutupan tambang memengaruhi kehidupan dan penghidupan masyarakat lokal di Rajhara, Jharkhand.
Beberapa langkah nyata udah dicoba, misalnya memanfaatkan kembali air dari tambang terbuka dan membentuk Organisasi Produksi Petani lewat pendekatan partisipatif bareng masyarakat, pemerintah, dan industri. Penelitian ini dilakukan di tambang batu bara yang udah berhenti beroperasi di Rajhara—tempat demonstrasi percontohan ini sedang dievaluasi secara komprehensif buat ningkatin kesejahteraan masyarakat sekitar.
Pengurangan penggunaan bahan bakar padat tidak mengurangi polusi udara
Sekitar 56 persen rumah tangga di India memenuhi kebutuhan energi mereka dengan bahan bakar yang sangat berpolusi seperti batu bara, minyak tanah, dan kayu. Akibatnya, mereka menderita penyakit pernapasan yang berkaitan dengan kegiatan memasak di dalam ruangan, yang secara tidak proporsional memengaruhi perempuan, lansia, dan anak-anak.
Masyarakat yang bergantung pada pertambangan batu bara, seperti di Rajhara, telah mengembangkan praktik memasak yang berpusat pada penggunaan goliya yang terbuat dari campuran kotoran sapi dan sisa-sisa debu batu bara. Meskipun perkiraannya bervariasi, pembakaran bahan bakar padat dan minyak tanah untuk memasak, pemanas, dan penerangan di rumah tangga menyebabkan kematian dini sekitar 2,3 juta orang di India pada tahun 2019.
Namun, kemajuan telah dicapai. Dari tahun 1990 hingga 2016, terdapat penurunan polusi udara rumah tangga sebesar 23,6 persen yang berasal dari penggunaan bahan bakar padat. Skema Pradhan Mantri Ujjwala Yojana (PMUY) menghasilkan peningkatan penggunaan gas minyak cair sebesar 15 persen dari tahun 2016 hingga 2019. Sementara itu, sambungan gas alam pipa diperkirakan akan tumbuh sepuluh kali lipat menjadi 12,5 crore pada tahun 2032 .
Namun, momok polusi udara yang semakin meningkat masih membayangi, tetapi dari sumber baru: industrialisasi dan urbanisasi yang pesat. Pada tahun 2021, emisi transportasi dan industri yang terkait dengan konsumsi rumah tangga saja berkontribusi hampir dua kali lipat terhadap konsentrasi PM2.5 ambien dibandingkan emisi langsung dari kompor biomassa. Meskipun manfaatnya signifikan bagi kesehatan manusia dan kesetaraan energi, inisiatif memasak bersih hanya berdampak kecil terhadap polusi udara ambien dan emisi gas rumah kaca.
Baca juga: India dan Perjuangan Menuju Kesetaraan Menstruasi
Kelangkaan data masih menjadi tantangan
Kurangnya informasi tentang bagaimana kebijakan dan jalur transisi energi India akan berdampak berbeda — dan tidak merata — terhadap masyarakat dan wilayah tetap menjadi hambatan kritis bagi transisi yang adil.
Misalnya, meskipun undang-undang penutupan tambang batu bara saat ini memberi perhatian besar pada hasil teknis seperti penghentian operasional mesin, namun diakui ada kurangnya fokus pada faktor sosial-ekonomi dan budaya, termasuk transisi masyarakat ke mata pencaharian pasca-penambangan dan penilaian migrasi keluar masyarakat dan sumber daya yang diakibatkannya.
Demikian pula, penelitian tentang dampak kesehatan dari upaya transisi energi India relatif langka dan sebagian besar dihasilkan oleh lembaga non-India yang menggunakan target iklim internasional atau yang sudah ketinggalan zaman, alih-alih target nol bersih India tahun 2070. Meskipun sebagian besar penduduk India terpapar polusi udara tingkat tinggi, relatif sedikit penelitian yang mengaitkan paparan PM2.5 jangka panjang dengan kematian di dalam negeri. Studi internasional, yang secara tidak proporsional memengaruhi penelitian tentang kesehatan masyarakat India, didasarkan pada data dari negara-negara dengan tingkat polusi udara awal yang lebih rendah daripada India.
Bahkan intervensi yang berhasil seperti peningkatan elektrifikasi transportasi—yang diproyeksikan akan mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 7 miliar metrik ton setara karbon dioksida (GtCO2e) antara tahun 2020 dan 2070 —dapat menghasilkan peningkatan kesehatan yang tidak merata. Namun, tanpa peralihan ke sumber energi bersih, wilayah penghasil batu bara di India akan menanggung dampak kesehatan akibat pemenuhan kebutuhan energi kendaraan listrik di pusat-pusat perkotaan, yang pada gilirannya akan merasakan manfaat signifikan dari pengurangan emisi transportasi.
Inklusi, keberagaman, kesetaraan, dan aksesibilitas (IDEA)
Mengeksplorasi isu-isu IDEA lintas kelompok sosial-ekonomi dan wilayah dalam penelitian transisi batu bara (dan transisi energi secara umum) masih jarang dilakukan di India, di mana dampaknya tidak merata di antara penduduk pedesaan dan suku. Terdapat kebutuhan mendesak untuk mengembangkan penelitian dan kebijakan menggunakan pendekatan berbasis masyarakat dan perangkat penelitian seperti penilaian pedesaan partisipatif yang secara eksplisit memperhitungkan IDEA dan isu-isu sosial-budaya lainnya terkait dengan penghapusan bertahap batu bara dan bahan bakar fosil lainnya.
Kolaborasi semacam itu dapat berfokus pada produksi data, kebijakan, dan bukti konsep yang spesifik untuk suatu wilayah, komunitas, dan demografi. Hal ini akan mengungkap, dan idealnya memitigasi, ketimpangan biaya dan manfaat dari proses transisi energi di negara yang heterogen secara geografis dan sosial-ekonomi seperti India.
Diadaptasi dari India’s energy transition needs focus on inclusion, diversity, equity, accessibility yang sudah tayang terlebih dahulu di 360info.org
