Istilah Pelakor dan Standar Ganda dalam Narasi Perselingkuhan

Ais Fahira

News

Istilah Pelakor dan Standar Ganda dalam Narasi Perselingkuhan

Bincangperempuan.com- B’Pers pernah dengar istilah pelakor? Biasanya dalam kasus perselingkuhan, perempuan yang menjadi selingkuhan akan cepat-cepat dicap sebagai “perebut laki orang”. Sekilas terlihat sebagai istilah netral—toh pelakor hanya label. Namun,kenapa justru perempuan yang langsung dicap pelakor, padahal yang melakukan perselingkuhan juga melibatkan laki-laki?

Mengapa hanya perempuan yang diberi label memalukan dan seolah menjadi penyebab utama kehancuran rumah tangga orang lain? Sementara itu istilah tandingannya, “pebinor” alias “perebut bini orang”, justru nyari tidak terdengar atau dipakai publik.

Asal Muasal Istilah Pelakor

Istilah pelakor mulai populer sekitar tahun 2017, salah satunya setelah viralnya video Shafa Harris yang melabrak Jennifer Dun—perempuan yang disebut-sebut menjalin hubungan dengan ayah Shafa. Kasus itu menyulut reaksi emosional netizen dan media, dan dari situlah istilah pelakor melesat menjadi senjata sosial yang digunakan untuk menyerang perempuan yang terlibat dalam perselingkuhan.

Tahun 2018, istilah ini semakin meledak setelah muncul video “Bu Dendy” yang melemparkan uang ke arah perempuan yang dituduh sebagai pelakor. Aksi dramatis menjadi tontonan sensasional di mata netizen. Padahal aksi semacam itu justry memperkuat budaya melabrak yang seksis, di mana istri melampiaskan amarahnya kepada “perempuan lain” alih-alih menuntut pertanggungjawaban dari sang suami.

Dan seperti yang sering terjadi di masyarakat patriarkal, istilah yang menyudutkan perempuan ini akhirnya diadopsi secara luas, bahkan hingga masuk ke Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) pada Oktober 2022. Kata pelakor resmi diakui, sementara akronim dari istilahnya yang merujuk pada laki-laki, yakni pebinor (perebut bini orang) masih terasa asing di telinga publik dan jarang sekali digunakan. Padahal dari segi makna, masih sama-sama menuding pihak ketiga dalam perselingkuhan.

Baca juga: Peyek Daun Kopi, Inisiatif Ekonomi di Tengah Perubahan Iklim  

Pelakor, Pebinor, dan Ketimpangan Narasi

Dalam banyak kasus perselingkuhan, baik pihak perempuan maupun laki-laki biasanya sama-sama tahu risiko dari tindakan mereka. Perselingkuhan bukan hasil dari guna-guna atau godaan sepihak. Tapi mengapa dalam narasi publik, hanya perempuan yang mendapat stigma buruk?

Junaiyah H.M., seorang ahli bahasa dari Badan Bahasa (pensiunan), dalam wawancaranya dengan Liputan6, menyatakan bahwa istilah seperti pelakor mencerminkan ketimpangan gender dalam bahasa. Menurutnya, istilah ini membentuk persepsi seolah-olah perempuan adalah pihak aktif yang “mencuri” laki-laki, sementara laki-laki digambarkan pasif, seolah tak punya kendali atas pilihannya sendiri. Padahal, dalam kenyataan, keduanya sama-sama aktif berkontribusi dalam tindakan perselingkuhan.

Lebih parah lagi, kosakata dalam bahasa Indonesia yang menyudutkan perempuan sangat melimpah. Kata-kata seperti sundal, perek, atau wanita jalang dengan mudah dilemparkan kepada perempuan yang dianggap tidak bermoral. Sebaliknya, adakah kata yang sama kuatnya dalam mencela laki-laki yang berselingkuh? Hampir tidak ada. Bahkan, dalam budaya populer, laki-laki yang “jago” menaklukkan banyak perempuan sering kali dianggap hebat atau keren.

Ketimpangan kosakata yang merendahkan salah satu gender adalah bentuk nyata dari standar ganda. Ketika perempuan berselingkuh atau menjadi pihak ketiga, ia dibakar hidup-hidup oleh opini publik. Tapi ketika laki-laki melakukannya, masyarakat cenderung memberikan alasan, atau malah memaafkan karena “laki-laki memang begitu.”

Di Balik Bahasa: Cermin Budaya Patriarki

Bahasa tidak pernah netral. Kata-kata yang kita gunakan sehari-hari menunjukkan sistem nilai yang kita anut. Dan dalam kasus istilah pelakor, bahasa menjadi alat untuk mempertahankan ketimpangan gender.

Masyarakat patriarkal menanamkan gagasan bahwa perempuan harus menjaga moralitas rumah tangga, menjadi penanggung jawab utama keharmonisan keluarga. Ketika ada perselingkuhan, perempuan dianggap gagal menjaga suami atau gagal menjaga diri. Sehingga lahir istilah bahwa “laki-laki direbut orang”. Narasi ini mengandung bias gender yang serius dan berbahaya, karena mengabaikan tanggung jawab laki-laki dalam relasi. 

Padahal secara tidak langsung dengan menempatkan laki-laki sebagai sesuatu yang dapat direbut, bukankah artinya sama dengan mengobjektifikasi laki-laki juga? Apakah dalam perselingkuhan laki-laki diibaratkan seumpama benda yang mudah direbut? tidak memiliki kehendak bebas dalam sebuah relasi. Seolah ia hanyalah objek pasif, yang bisa dipindah-tangankan seperti barang.

Padahal, dalam kenyataannya, laki-laki adalah subjek yang punya agensi, kehendak, dan pilihan moral yang sama seperti perempuan. Dalam kasus perselingkuhan, tidak bisa hanya satu pihak yang disorot dan dihukum secara sosial, sementara pihak lain lolos dengan dalih “khilaf”, “tergoda”, atau “lemah iman”. Menganggap laki-laki sebagai korban yang direbut justru merendahkan kapasitasnya sebagai manusia dewasa yang bertanggung jawab atas tindakannya.

Baca juga: Pengaling Cemara Laut, Mitigasi Perempuan Adat Menghadapi Perubahan Iklim 

Apakah Kita Masih Butuh Istilah Seperti Ini?

Lalu, apakah kita benar-benar butuh istilah seperti pelakor atau pebinor? Apakah dengan memberi label semacam ini membantu menyelesaikan masalah, atau justru memperkeruh stigma?

Alih-alih terus memperkuat dikotomi “yang merebut” dan “yang direbut”, lebih baik membangun narasi yang lebih setara, yang tidak hanya menyalahkan satu pihak, tapi mengajak pada pemahaman yang lebih adil tentang relasi dan etika.

Jika memang ingin menyebut pelaku perselingkuhan, maka sebutlah dua-duanya. Jangan berhenti pada si “perempuan penggoda” saja. Karena faktanya, dalam perselingkuhan, tak pernah ada pelaku tunggal. Selalu ada dua kepala dan dua keputusan yang saling terlibat.

Kita hidup di zaman ketika percakapan soal gender, relasi, dan etika mulai terbuka. Tapi sayangnya, masih banyak warisan budaya yang belum kita uji secara kritis, termasuk dalam hal bahasa. Label seperti pelakor adalah contoh bagaimana masyarakat masih memandang perempuan sebagai sumber kegaduhan. Padahal dalam hubungan tidak ada yang bisa direbut atau diisi orang ketiga jika tidak ada yang memberi celah kesempatan.

Referensi:

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Teras

Artikel Lainnya

Paradoks: Kenapa 92% Orang Indonesia Merasa Bermoral tetapi Korupsi Tetap Tinggi?

Bromance, Lelaki Juga Butuh Ruang Aman

Bromance, Lelaki Juga Butuh Ruang Aman

Memotret Beban Reproduksi Perempuan Melalui Tren Saat Gadis Vs Setelah Jadi Ibu

Memotret Beban Reproduksi Perempuan Melalui Tren Saat Gadis Vs Setelah Jadi Ibu

Leave a Comment