Perempuan Penjaga Gurita: Dari Nelayan Pesisir hingga Pengendali Rantai Pasok 

Betty Herlina

News, Buruh, Lingkungan

Bagi masyarakat Kaur, khususnya sepanjang pantai Desa Marpas, Linau dan Sekunyit, perempuan memegang peranan penting dalam aktivitas perikanan. Mulai dari berburu gurita, pengumpul, hingga mengatur jalur distribusi dan olahan gurita lainnya. 

Bincangperempuan.com–  Air masih setinggi lutut ketika Maryana (60) menyusuri sepanjang Pantai Laguna, Desa Marpas, Kecamatan Nasal, Kabupaten Kaur, Provinsi Bengkulu. Tangan kanannya menggenggam tombak sepanjang sekitar satu meter. Di tangan kiri, ia memegang batang besi dengan panjang hampir sama.

Sesekali besi itu digunakan untuk memecah karang ketika ia berusaha menarik gurita yang mencengkeram kuat di dalam lubang-lubang batu. Di antara riak air dangkal, Maryana menunduk; matanya menelusuri celah karang tempat gurita bersembunyi.

Hanya butuh hitungan detik. Satu gerakan cepat, tombaknya menusuk ke dalam lubang karang. Beberapa saat kemudian, gurita itu berhasil ditarik keluar. Hewan berlengan delapan itu menggeliat sebentar. Sigap, Maryana menggigitnya sebelum akhirnya memasukkan gurita ke dalam jaring yang terikat di pinggang Maryana. 

Bagi Maryana, mencari gurita bukanlah hal baru. Kegiatan itu sudah mendarah daging dalam hidupnya. Sejak masih duduk di bangku sekolah dasar, ia sudah terbiasa menyusuri pantai untuk berburu gurita di sela-sela karang. 

Ia sudah bisa menandai lubang karang yang dihuni gurita, biasanya terlihat dari tanda berupa batu yang tersusun rapi menutupi area lubang. Selain itu, nyaris tidak ada sisa-sisa makanan yang terlihat di sekitar karang.  

Maryana merupakan satu dari hanya empat nelayan perempuan pencari gurita di pesisir yang masih bertahan di Desa Merpas. Pekerjaan itu ia jalani untuk menghidupi keempat anaknya.

Biasanya Maryana berangkat selepas subuh. Saat langit masih pucat dan ombak pelan menyapu pesisir, ia mulai berjalan menyusuri perairan dangkal. Menjelang siang, sekitar pukul 10 hingga 11 siang, ia kembali ke darat dengan hasil tangkapan yang dimasukkan ke jaring di pinggangnya.

“Kalau dulu sehari bisa membawa pulang lebih dari 35-50 kilogram gurita. Sekarang bisa dapat tujuh kilogram saja sudah bersyukur,” kata Maryana, Selasa (10/3/2026).

Saat ditemui Bincang Perempuan, Maryana baru saja mendarat dari Pantai Laguna. Kali ini hasil tangkapannya hanya lima ekor gurita, dengan berat rata-rata sekitar 1 hingga 1,5 kilogram per ekor.

Hasil tangkapan itu langsung disambut oleh pengepul yang sudah menunggu di bibir pantai. Setelah ditimbang, Maryana menerima sekitar Rp350.000 dari gurita yang ditangkapnya. Harga gurita saat itu sekitar Rp50.000 per kilogram.

Menurut Maryana, kondisi ini berbeda dengan beberapa tahun lalu. Dulu gurita jauh lebih banyak dan mudah ditemukan. Namun, harganya relatif rendah, bahkan ada yang dibuang-buang saja. 

“Dulu guritanya banyak, tapi harganya murah. Paling mahal sekitar Rp30.000 per kilogram,” ujarnya.

Sejak 2018, ketika Pemerintah Kabupaten Kaur pertama kali menggelar Festival Gurita, potensi perikanan sekaligus pariwisata daerah mulai diperkenalkan kepada publik. Seiring dengan itu, permintaan terhadap gurita pun perlahan meningkat

Situasi menjadi berbalik. Jumlah pencari gurita semakin banyak, sementara stok di alam tidak selalu melimpah. Akibatnya, harga gurita justru meningkat.

“Sekarang yang mencari gurita sudah banyak, dan harganya juga semakin mahal. Gurita basah saja bisa Rp70.000 sampai Rp95.000 per kilogram,” kata Maryana.

Maryana menjadi ibu tunggal sejak 2024, setelah selama 16 tahun merawat suaminya yang terbaring sakit sambil menyekolahkan empat anaknya

Maryana berdiri di depan rumahnya, sembari menunjukkan alat tangkap gurita yang biasa digunakannya saat menyusuri pesisir pantai Laguna. (Foto: Betty Herlina/Bincang Perempuan)

Sejak saat itu, Maryana menjadi tulang punggung keluarganya. Ia memutuskan kembali menekuni pekerjaan yang telah lama ia kenal: berburu gurita di pesisir pantai Laguna. 

“Anak-anak saya memang tidak ada yang kuliah, tapi semuanya tamat SMA,” katanya.

Puluhan tahun bergulat dengan tubir pantai membuat Maryana fasih membedakan gurita jantan dan betina. Ia bahkan tidak perlu melihat bentuk fisiknya secara langsung. Cukup dari cara gurita menarik dan melawan saat terkena tombak.

“Kalau gurita jantan, pasti melawan saat ditombak. Kejutannya kuat sekali. Kalau betina biasanya tidak,” ujarnya.

Menurut Maryana, perbedaan itu juga terlihat dari bentuk tubuhnya. Gurita jantan umumnya memiliki lengan yang lebih pendek dengan ujung berbentuk oval. Sementara gurita betina memiliki lengan yang lebih panjang dan meruncing, dengan mata yang tampak lebih menonjol.

Meski sesekali terpaksa menggunakan besi untuk memecah karang ketika gurita bersembunyi di celah batu, Maryanah mengaku tidak sembarangan menangkap gurita.

Ia menghindari menangkap gurita yang masih kecil. Selain susah untuk menangkapnya, gurita kecil tersebut menjadi simpanan Maryana yang akan ditangkap di bulan-bulan selanjutnya. 

“Kalau beratnya di bawah satu kilogram, biasanya itu masih kecil,” katanya.

Gurita kecil umumnya bersembunyi di lubang-lubang karang, sedangkan gurita yang lebih besar sering ditemukan di benawang, area tempat ombak memecah di sekitar karang.

“Kalau masih kecil, lebih baik dilepas lagi ke laut. Nanti satu atau dua bulan lagi baru didatangi lagi untuk ditangkap. Gurita itu, dia bergerak tidak akan jauh-jauh, pasti di sekitar situlah,” ujar Maryana.

Belakangan, Maryana tidak lagi setiap hari melaut. Cuaca yang semakin sulit diprediksi membuat badai, angin kencang, dan gelombang tinggi lebih sering datang. 

Ia harus menunggu air laut surut sebelum kembali menyusuri pantai untuk berburu gurita.

Perubahan pola cuaca tersebut membuat nelayan pesisir harus menyesuaikan cara mereka mencari nafkah. Tidak hanya mengurangi frekuensi melaut, tetapi juga mencari sumber penghasilan lain seperti bertani atau mengelola hasil tangkapan.

Saat tidak melaut, Maryana menghabiskan waktunya mengurus sawah peninggalan suaminya. Lahan seluas sekitar satu hektare itu bisa dipanen dua kali dalam setahun.

“Kalau tidak menangkap gurita, ya dari hasil panen gabah yang dijual,” kata Maryana.

Baca juga: Di Bawah Terik yang Kian Panas: Kemiskinan dan Perkawinan Anak di Seluma

Pengepul, Pedagang Keliling dan Pengolah Tangkapan Gurita

Tak hanya mendominasi sebagai nelayan pesisir, perempuan di Desa Merpas juga memegang peran penting dalam distribusi gurita dan berbagai hasil perikanan lainnya.

Mereka mengelola tempat penampungan hasil tangkapan nelayan, mencatat dan menghitung hasil tangkapan, sekaligus menentukan ke mana komoditas laut tersebut akan dijual.

Miharni (48) adalah satu dari dua pengumpul perempuan yang masih bertahan di Desa Merpas. Ia mulai mengumpulkan hasil tangkapan nelayan sejak sekitar 28 tahun lalu. Gurita dan ikan yang terkumpul biasanya dijual ke Lampung atau ke Kota Bengkulu.

Pada masa jayanya, Miharni bisa mengumpulkan ikan dan gurita dalam jumlah besar. 

Dulu setiap hari tangkapan yang masuk bisa mencapai lima hingga sepuluh ton,” katanya.

Dua buku catatan milik Miharni yang merekam jumlah tangkapan nelayan setiap hari. Catatan lama menunjukkan hasil tangkapan yang jauh lebih banyak dibandingkan dengan catatan terbaru. (Foto: Betty Herlina/Bincang Perempuan)

Namun, kondisi itu kini jauh berubah. Saat ini ia hanya mampu mengumpulkan sekitar 15 hingga 17 kilogram hasil tangkapan per hari dari para nelayan.

“Untuk gurita saja sekarang paling sekitar lima kilogram yang masuk. Itu pun kadang masih ada yang kecil, beratnya di bawah satu kilogram,” ujarnya.

Kondisi tersebut, menurutnya, menjadi salah satu alasan nelayan mulai mencoba penutupan sementara habitat gurita (Temporary Closure/TC). Dengan memberi waktu bagi gurita untuk tumbuh, ukuran tangkapan saat masa panen kini jauh lebih besar

Jika sebelumnya banyak gurita yang tertangkap dengan berat di bawah satu kilogram, setelah masa penutupan tiga bulan bobotnya bisa mencapai 1,5 hingga 2 kilogram per ekor.

Menurut Miharni, jumlah tangkapan nelayan terus menurun dalam beberapa tahun terakhir.

“Semakin ke sini, hasil tangkapan nelayan makin sedikit,” katanya.

Hubungan Miharni dengan para nelayan telah terjalin selama bertahun-tahun. Dulu ia bahkan memiliki jaringan nelayan yang secara khusus bekerja sama dengannya.

Setidaknya sepuluh nelayan pernah menjadi mitranya. Miharni menyediakan modal bagi mereka untuk melaut, dengan kesepakatan bahwa hasil tangkapan akan dijual kembali kepadanya.

Sayangnya, pola kerja sama itu kini tidak lagi berjalan seperti dulu. Jumlah tangkapan yang semakin menyusut membuat perputaran modal juga ikut berkurang.

“Kalau dulu sehari bisa menabung Rp500 ribu sampai Rp1 juta. Sekarang susah,” keluhnya sambil memperlihatkan buku catatan penerimaan hasil laut yang mulai jarang terisi.

Miharni, pengumpul hasil tangkapan nelayan di Desa Merpas. Ia biasa menunggu di bawah pohon di halaman rumahnya, tempat para nelayan datang membawa ikan dan gurita hasil tangkapan mereka. (Foto: Betty Herlina/Bincang Perempuan)

Bergeser ke Desa Linau, Kecamatan Maje, Kabupaten Kaur, peran perempuan dalam rantai pasok hasil laut, terutama gurita, bahkan terlihat lebih dominan. Di desa pesisir ini, sebagian besar aktivitas pengumpulan, pengolahan, hingga penjualan gurita dijalankan oleh perempuan.

Zaidah (47) adalah salah satunya. Ia mulai menjadi pengepul gurita sejak 2005. Seperti pengepul lainnya, pada masa awal ia bisa mengumpulkan gurita dalam jumlah yang cukup besar.

“Dulu sehari bisa sampai 80 kilogram,” katanya, Rabu (11/03/2026).

Namun, kondisi itu kini berubah. Gurita semakin sulit ditemukan. “Hari ini saja baru dapat 1,7 kilogram. Itu pun guritanya kecil,” ujarnya.

Biasanya Zaidah membeli gurita basah dari nelayan dengan harga sekitar Rp70.000 per kilogram. Gurita tersebut kemudian ia olah menjadi gurita kering sebelum dijual kembali. 

Harga jualnya pun bervariasi. “Kalau sudah kering, jualnya tidak lagi per kilogram, tapi per ekor,” kata Zaidah.

Zaidah, pengepul gurita yang juga mengolah gurita kering dan kerupuk gurita di Desa Linau. (Foto: Betty Herlina/ Bincang Perempuan)

Untuk gurita berukuran besar atau kualitas super, harganya bisa mencapai Rp150.000 per ekor. Sementara ukuran lebih kecil biasanya dijual dengan harga sekitar Rp100.000 hingga Rp120.000 per ekor.

Tak hanya menjual gurita dalam bentuk segar maupun kering, Zaidah juga mengolah sebagian hasil tangkapan menjadi kerupuk gurita mentah.

Menurutnya, cara membuat kerupuk gurita tidak jauh berbeda dengan kerupuk berbahan ikan. Daging gurita terlebih dahulu diblender hingga halus, lalu dicampur dengan tepung dan bumbu sebelum dikukus hingga matang.

“Setelah diangkat dari kukusan, baunya mirip empek-empek,” kata Zaidah sambil tersenyum.

Adonan yang sudah matang kemudian diiris tipis sebelum dijemur di bawah terik matahari. Untuk mendapatkan kerupuk yang benar-benar kering, Zaidah membutuhkan waktu sekitar satu minggu.

Baca juga: #PerempuanRawatBumi: Kelompok Perempuan Kaba Lestari, dari Ladang Konflik ke Solusi Pangan yang Memberdayakan

Seperti proses pengeringan gurita, metode yang digunakan masih sederhana, yakni hanya mengandalkan panas matahari.

Produk olahannya cukup diminati pembeli. Zaidah mengaku tidak perlu repot mencari pasar.  Ia cukup menunggu di rumah dan para pelanggan biasanya datang sendiri untuk membeli.

“Pembelinya banyak, apalagi sekarang mau Lebaran. Biasanya gurita kering dan kerupuk gurita lebih banyak dicari orang,” ujarnya.

Selain pengepul, perempuan di Desa Linau juga banyak yang berperan sebagai pedagang keliling ikan dan gurita. Mereka dikenal dengan sebutan cingkau.

Proses pengeringan gurita yang dilakukan Zaidah di halaman rumahnya di Desa Linau, Kabupaten Kaur. (Foto: Betty Herlina/Bincang Perempuan)

Salah satunya adalah Nelly Oktavia. Selama 12 tahun terakhir, Nelly menjalani profesi sebagai cingkau—penghubung antara nelayan dan konsumen rumah tangga.

Setiap pagi, Nelly lebih dulu berjualan di Pasar Inpres Linau. Menjelang siang, ia melanjutkan aktivitasnya berkeliling desa menggunakan sepeda motor, membawa ikan dan gurita untuk dijajakan langsung ke rumah-rumah warga.

Dalam dua hari, Nelly bisa menghabiskan sekitar 60 hingga 70 kilogram ikan dan gurita. Dari setiap kilogram yang dijual, ia biasanya memperoleh keuntungan sekitar Rp5.000 hingga Rp10.000.

Meski keuntungan per kilogram tidak besar, perannya sebagai cingkau memastikan hasil tangkapan nelayan tetap terserap pasar lokal dan sampai ke meja makan masyarakat. 

“Baik, gurita dan ikan, jumlahnya sudah tidak sebanyak dulu,” tutur Nelly, Kamis (12/03/2026). 

Nelly Oktavia membersihkan ikan sebelum dijual kembali kepada pelanggan. Selama 12 tahun terakhir, Nelly menjalani profesi sebagai cingkau—penghubung antara nelayan dan konsumen rumah tangga di Desa Linau, Kabupaten Kaur. (Foto: Betty Herlina/Bincang Perempuan)

Perempuan dan ketahanan ekonomi pesisir

Akademisi Sosiologi Universitas Bengkulu, Retno Wahyuningtyas, mengatakan dinamika kehidupan masyarakat pesisir di Bengkulu, khususnya di Desa Merpas dan Linau, menunjukkan realitas yang membongkar mitos lama tentang pembagian peran gender.

Selama ini, konstruksi sosial tradisional kerap menempatkan laki-laki sebagai nelayan utama yang melaut dan menguasai ruang publik serta kerja produktif. Sebaliknya, perempuan sering diposisikan hanya sebagai penjaga rumah tangga atau sekadar membantu mengurus hasil tangkapan di bibir pantai.

Namun, praktik perburuan dan tata niaga gurita di Kabupaten Kaur memperlihatkan gambaran yang berbeda. Dalam aktivitas ekonomi pesisir, perempuan justru terlibat aktif di hampir seluruh rantai produksi.

Menurut Retno, fenomena ini menunjukkan bahwa perempuan pesisir memiliki agensi atau kemampuan untuk menentukan pilihan ekonomi mereka sendiri.

“Jika melihat keseharian mereka, peran perempuan sangat nyata. Ada Maryana yang setiap subuh menyusuri perairan dangkal dengan tombak untuk menangkap gurita di sela-sela karang. Lalu ada Miharni dan Zaidah yang menampung sekaligus mengolah hasil tangkapan. Hingga Nelly yang memastikan gurita dan ikan sampai ke tangan konsumen,” ujar Retno.

Menurutnya, fakta-fakta tersebut membuktikan bahwa perempuan bukan sekadar tenaga kerja cadangan yang muncul saat ekonomi keluarga sedang sulit.

“Mereka justru menjadi penggerak utama dalam rantai ekonomi perikanan, dari hulu saat penangkapan hingga hilir di pasar,” jelasnya.

Retno menilai keterlibatan perempuan seperti yang terlihat di pesisir Bengkulu menjadi kritik nyata terhadap pandangan lama yang memisahkan secara tegas ruang domestik perempuan dan ruang publik laki-laki.

“Realitas di lapangan menunjukkan batas-batas itu tidak selalu berlaku. Perempuan pesisir justru memainkan peran penting sebagai nelayan, pengolah, sekaligus pedagang hasil laut,” katanya.

Secara sosiologis, keterlibatan perempuan dalam aktivitas ekonomi pesisir sebenarnya bukan hal yang sepenuhnya baru. Di banyak wilayah pesisir Indonesia, perempuan memang terbiasa mencari biota laut di perairan dangkal atau mengolah hasil tangkapan.

Namun, dominasi perempuan dalam rantai ekonomi gurita di Bengkulu memiliki karakter yang cukup unik.

“Perempuan tidak hanya berada di tahap pascapanen, tetapi juga aktif dalam produksi dan distribusi. Ini menunjukkan adanya otonomi ekonomi yang kuat,” kata Retno.

Proses pengeringan kerupuk gurita. (Foto: Betty Herlina/Bincang Perempuan)

Selama ini, lanjutnya, pekerjaan perempuan pesisir sering dianggap sekadar membantu suami. Padahal dalam praktiknya, mereka menjadi motor penggerak ekonomi keluarga nelayan.

Selain berperan dalam ekonomi, perempuan pesisir juga memiliki pengetahuan ekologis yang penting bagi keberlanjutan sumber daya laut.

Pengalaman panjang berinteraksi dengan lingkungan membuat mereka memahami perilaku biota laut, musim, hingga kondisi perairan.

Kemampuan Maryana, misalnya, dalam membedakan gurita jantan dan betina atau memilih gurita yang layak ditangkap merupakan bagian dari pengetahuan lokal yang terbentuk dari pengalaman sehari-hari.

“Pengetahuan seperti ini sebenarnya sangat penting untuk menjaga keberlanjutan sumber daya laut,” ujar Retno.

Karena itu, ia menilai perempuan seharusnya memiliki posisi yang lebih kuat dalam pengambilan keputusan terkait pengelolaan sumber daya pesisir.

“Perempuan berada di dua posisi sekaligus: sebagai penjaga hulu dan pengendali hilir dalam rantai ekonomi. Karena itu, mereka seharusnya dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan,” katanya.

Retno mengingatkan bahwa tanpa keterlibatan perempuan, kebijakan pengelolaan sumber daya laut berisiko mengabaikan sebagian besar pengalaman dan pengetahuan yang ada di lapangan.

Untuk memperkuat peran perempuan pesisir, ia menilai langkah pemerintah tidak cukup hanya memberikan bantuan praktis seperti bantuan peralatan produksi, modal usaha ataupun pelatihan peningkatan kapasitas sesaat. 

Diperlukan perubahan yang lebih strategis, mulai dari pengakuan terhadap perempuan sebagai bagian dari komunitas nelayan hingga keterlibatan mereka dalam tata kelola pesisir.

Beberapa langkah yang dinilai penting antara lain dukungan teknologi sederhana untuk pengolahan hasil laut, akses permodalan yang lebih inklusif, serta kebijakan yang memastikan keterwakilan perempuan dalam perencanaan pembangunan pesisir.

“Perempuan pesisir bukan hanya penerima manfaat dari kebijakan. Mereka adalah aktor penting yang harus dilibatkan dalam pengelolaan sumber daya laut,” pungkas Retno.

Menurutnya, pengalaman perempuan di pesisir Bengkulu menunjukkan bahwa ekonomi laut tidak hanya digerakkan oleh nelayan di laut lepas. Di baliknya, ada kerja panjang perempuan yang menjaga agar rantai ekonomi pesisir tetap hidup, dari perairan dangkal hingga ke pasar. 

*) Liputan ini merupakan bagian dari Media Fellowship: Low Carbon Development Initiative (LCDI) Programme, sebagai program kerja sama antara Pemerintah Indonesia (Bappenas) dan Pemerintah Inggris.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Teras

Artikel Lainnya

Ospek Calon Menantu Kenapa Ada Ibu yang Posesif Terhadap Anak Laki-lakinya

Ospek Calon Menantu? Kenapa Ada Ibu yang Posesif Terhadap Anak Laki-lakinya?

Eco-Gender Gap: Kenapa Beban Menyelamatkan Bumi Lebih Berat ke Perempuan?

Hentikan Kriminalisasi terhadap Perempuan Pembela HAM

Leave a Comment