Fanservice Itu Apa Sih? Dari Anime Sampai Jebakan Male Gaze

Ais Fahira

News

Fanservice Itu Apa Sih Dari Anime Sampai Jebakan Male Gaze

Bincangperempuan.com– Pernah nggak lagi asik nonton anime, tiba-tiba kamera nge-zoom ke dada karakter cewek, rok yang kebawa angin, atau paha yang sengaja ditampilin close-up? Nah, kalau iya, kemungkinan besar kamu lagi disuguhi yang namanya fanservice.

Fanservice bukan cuma istilah gaul dari bahasa Inggris. Kata ini sebenarnya dari bahasa Jepang fansaabisu (ファンサービス), hasil “Inggris buatan Jepang” alias wasei eigo. Arti dasarnya, saabisu itu “layanan” atau “bonus,” kayak hadiah kecil biar pelanggan betah. Tapi di budaya pop Jepang, maknanya geser jadi “bonus” buat penonton: adegan atau visual yang sengaja ditambahin biar fans seneng.

Awalnya, fanservice nggak selalu berhubungan sama hal sensual. Tapi di industri anime dan manga, istilah ini akhirnya sering nyangkut ke adegan yang pamerin tubuh karakter—terutama cewek—di momen yang nggak nyambung sama cerita. Mulai dari bikini episode, onsen episode, sampai angle kamera yang “nggak sengaja” nunjukin pakaian dalam. Semua itu jatuhnya fanservice.

Jenis Fanservice

Situs Japanese with Anime ngejelasin kalau bentuk fanservice itu macem-macem, dari yang halus sampai yang blak-blakan. Salah satu yang paling klasik ya panty shots—pakaian dalam cewek keliatan entah gara-gara rok tersibak angin, sengaja diintip, atau “kebetulan” ke-shoot kamera. Adegan mandi atau onsen juga sering diselipin tanpa alasan penting buat plot, murni buat nunjukin tubuh karakter.

Ada juga fanservice yang dibungkus dalam episode khusus. Misalnya hot springs episode di mana semua karakter berendam bareng di pemandian, atau beach episode yang isinya karakter main di pantai dengan baju renang kece. Kadang juga ada episode festival dengan yukata, atau cosplay maid yang jelas-jelas buat nambah daya tarik visual.

Selain itu, ada fanservice berupa clothing damage, di mana baju karakter—biasanya cewek—sobek di titik-titik “strategis” pas lagi battle, jadi tubuhnya terekspos. Walau mayoritas fanservice fokus ke tubuh cewek, kadang cowok juga kena giliran, misalnya lewat badan atletis atau adegan crossdressing. Tapi jujur aja, porsinya jauh lebih minim dibanding cewek.

Baca juga: Apa yang Dimaksud dengan ‘Male Gaze’ dan ‘Female Gaze’?

Fanservice dan Male Gaze

Konsep male gaze dari Laura Mulvey lewat esai Visual Pleasure and Narrative Cinema ngejelasin gimana cewek sering diposisikan di media sebagai objek visual buat kesenangan cowok. Menurut Mulvey, ketimpangan gender—sosial dan politik—bikin representasi di layar lebih condong ke perspektif laki-laki. Kamera, narasi, sampai posisi karakter sering banget diarahkan biar cocok sama tatapan cowok.

Male gaze bukan cuma soal “tatapan,” tapi juga nyambung ke voyeurism (nikmat karena ngeliatin orang lain), scopophilia (nikmat murni dari aktivitas melihat), dan narsisisme (nikmat dari ngeliat refleksi diri lewat karakter). Mulvey bilang, tubuh cewek di layar sering jadi pemicu hasrat seksual sekaligus dianggap ancaman simbolik buat cowok. Nah, biar ancamannya “jinak,” jadilah cewek diseksualisasi dan diobjektifikasi. Akhirnya, mereka nggak hadir sebagai karakter utuh, tapi cuma “hiasan” visual yang keberadaannya ditentukan oleh tatapan cowok.

Di anime, hal ini keliatan banget. Alih-alih nunjukin perkembangan karakter, layar malah penuh adegan dada yang bergoyang, paha yang terekspos, atau rok yang kebawa angin. Semua itu jarang ada hubungannya sama jalan cerita. Justru, fanservice bikin karakter cewek terjebak jadi tokoh pasif: cuma hadir, dilihat, dan diinginkan—bukan subjek dengan konflik atau perjalanan hidup yang kompleks.

Tapi masalah ini nggak berhenti di patriarki doang. Fanservice juga nyambung sama logika kapitalisme. Studio anime, penerbit manga, sampai industri merchandise tahu kalau tubuh cewek yang dijual sebagai komoditas visual bisa ngasih cuan gede. Adegan sensual, kostum terbuka, atau poster karakter waifuable dipasarkan bukan sekadar buat tatapan cowok, tapi juga biar roda industri terus muter.

Jadi, fanservice main di dua level. Pertama, dia bikin male gaze jadi kayak norma estetika—seolah wajar banget kalau cewek selalu ditampilkan buat tatapan cowok. Kedua, fanservice ngejual objektifikasi itu sebagai barang dagangan. Yang untung bukan cuma penonton cowok sebagai konsumen utama, tapi juga kapitalisme yang ngeduitin hasrat visual itu.

Baca juga: Male Gaze: Ketidakadilan Gender dan Bencana Bagi Perempuan

Dampak Fanservice Kalau Dinormalisasi

Ketika fanservice nongol terus-terusan, lama-lama cara pandang penonton bisa kebentuk. Tubuh cewek yang terus ditempatin sebagai objek visual bikin orang terbiasa ngeliat mereka cuma dari sisi fisik. Perlahan, ini dianggap wajar, seolah bagian alami dari cerita. Padahal sebenarnya, itu keputusan industri hiburan yang melihat tubuh cewek sebatas komoditas yang bisa dijual.

Normalisasi ini bahaya karena bikin representasi karakter cewek jadi miskin. Mereka berhenti berkembang sebagai tokoh dengan motivasi, konflik, dan narasi yang dalam. Perannya diganti jadi dangkal: cantik, seksi, atau imut. Bandingin sama karakter cowok yang sering dikasih ruang buat tumbuh, berjuang, dan ngejar tujuan.

Selain itu, fanservice yang dinormalisasi juga makin ngekuatin pandangan kalau nilai cewek cuma ada di tubuh mereka. Kalau logika kayak gini terus diproduksi massal lewat anime dan pop culture, ya ujung-ujungnya makin subur aja cara pandang patriarki dalam budaya populer.

Referensi:

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Teras

Artikel Lainnya

Krisis Ekologi, Krisis Reproduksi: Darurat yang Menyasar Perempuan 

Marsinah dan Soeharto dalam Satu Daftar, Siapa yang Sebenarnya Kita Hormati?

Islamofobia dan Larangan Berjilbab

Leave a Comment