Bincangperempuan.com- Banjir besar yang melanda Sumatera pada akhir November 2025 masih menyisakan luka panjang. Air memang telah surut di beberapa wilayah, tetapi bukan berarti penderitaan ikut turun bersama permukaan sungai. Kerusakan rumah, jalan, dan jembatan mungkin mudah terlihat.
Namun, ada kerusakan lain yang tak selalu tertangkap kamera—kerusakan yang menjalar diam-diam di tubuh dan hidup perempuan. Sementara tim relawan terus mendata korban, mayat tanpa identitas, dan keluarga yang masih mencari sanak saudara, satu hal jarang dibicarakan yaitu bagaimana bencana ekologis ini menjelma menjadi krisis kesehatan reproduksi perempuan.
Dan di tengah urgensi bantuan logistik, penting untuk mengingat bahwa banjir ini bukan sekadar bencana alam. Ada kisah panjang tentang ekologi rusak, tata kelola lingkungan yang diabaikan, dan cuaca ekstrem yang hanya menjadi pemantik dari masalah yang jauh lebih besar.
Baca juga: Ketika Negara Absen di Jalan Desa: Buramnya Akses Kesehatan Perempuan di Bengkulu
Banjir Bukan Sekadar Bencana Alam
Dalam laporan Reuters, Jaringan Advokasi Tambang (JATAM) mengingatkan bahwa banjir di Sumatera bukan bisa dijelaskan dengan narasi dangkal seperti “cuaca ekstrem”. Mereka menegaskan bahwa kerusakan yang terjadi merupakan konsekuensi langsung dari hancurnya ekosistem hulu dan daerah aliran sungai akibat aktivitas industri ekstraktif.
Perubahan bentang alam ini bukan peristiwa semalam tetapi merupakan akumulasi dari eksploitasi yang telah berlangsung lama. Ketika hujan lebat datang, wilayah itu runtuh bersama seluruh sistem pendukung hidup di dalamnya.
WALHI juga menegaskan dalam rilisnya bahwa banjir ini sebagai hasil dari kerentanan ekologis yang terus menumpuk akibat deforestasi dan perubahan fungsi hutan yang masif. Perubahan bentang ekologis yang dulu berfungsi sebagai penyangga alam kini justru menjadi ruang kosong yang kehilangan kemampuannya meresap air dan menahan banjir.
Pandangan ilmiah turut hadir dari Prof. Dr. Erma Yulihastin, pakar klimatologi Indonesia. Melalui analisis yang ia sampaikan di media sosialnya, ia menjelaskan bahwa cuaca ekstrem hanya menyumbang sekitar 20 persen terhadap skala kerusakan. Menurutnya, tidak ada indikasi energi badai pada level katastropik yang bisa menimbulkan kehancuran sebesar itu tanpa faktor memperparah lainnya.
Justru 80 persen dampak kehancuran berasal dari kegagalan mitigasi dan lemahnya sistem peringatan dini. Infrastruktur yang rapuh, tata ruang yang kacau, serta absennya kesiapsiagaan membuat masyarakat berada di garis terdepan risiko tanpa perlindungan memadai.
Erma menekankan, apabila sistem mitigasi berjalan efektif, tingkat kehancuran seharusnya dapat ditekan hingga kisaran 10–20 persen saja. Artinya, krisis ini adalah gabungan dari dua hal yaitu ekosistem yang rusak dan manusia yang tidak siap. Bukan karena alam semata, melainkan karena kita membiarkan kerusakan ekologis berlangsung terlalu lama tanpa ada koreksi.
Krisis ekologis adalah krisis ruang hidup—dan ruang hidup yang runtuh selalu lebih dulu menimpa kelompok yang paling rentan, termasuk perempuan.
Mengapa Krisis Ekologi Berdampak Kepada Kesehatan Reproduksi Perempuan
Ketika banjir datang, tubuh perempuan membawa beban risiko yang berbeda. Begitu banyak kebutuhan dasar biologis perempuan yang bergantung pada lingkungan stabil. Ketika lingkungan hidup runtuh, tubuh perempuan merasakan implikasinya, mulai dari kebersihan personal hingga ketahanan pangan keluarga.
1. Krisis Air Bersih = Krisis Gizi dan Kebersihan Menstruasi
Setelah banjir, air bersih menjadi barang langka. Sumur rusak, jaringan pipa tercemar, dan akses air layak tinggal harapan. Dalam kondisi ini, perempuan yang sedang menstruasi menghadapi tantangan serius. Tanpa air bersih, perempuan kesulitan:
- membersihkan tubuh,
- mengganti pembalut dengan aman,
- mencegah infeksi jamur dan bakteri.
Infeksi saluran kemih (ISK), iritasi kulit, hingga risiko peradangan organ reproduksi bisa dengan mudah mengancam sistem reproduksi perempuan. Tidak heran setiap kali ada penggalangan donasi, masyarakat selalu membuka bantuan pembalut. Ini bukan sekadar kebutuhan tambahan, melainkan kebutuhan mendasar reproduksi perempuan.
2. Ibu Menyusui Butuh Ruang Aman, Tapi Pengungsian Tidak Selalu Aman
Setelah banjir, banyak keluarga bertahan di posko pengungsian yang serba darurat. Namun, ruang menyusui hampir selalu absen. Ibu menyusui membutuhkan:
- ruang tenang dan aman,
- privasi,
- akses air bersih untuk mencuci tangan dan peralatan bayi.
Tanpa itu semua, mereka berisiko mengalami mastitis—peradangan pada payudara akibat saluran ASI tersumbat atau infeksi, yang menyebabkan nyeri, demam, dan bisa menurunkan produksi ASI.
Stres, kurang nutrisi, dan kondisi pengungsian yang tidak ramah perempuan juga membuat produksi ASI menurun. Ini langsung berdampak pada kesehatan bayi yang sangat bergantung pada ASI di situasi darurat.
Selain itu, pengungsian yang gelap, padat, dan minim pengamanan membuat perempuan lebih rentan mengalami pelecehan atau kekerasan berbasis gender.
3. Perempuan Hamil Membawa Risiko Berlipat
Perempuan hamil membutuhkan nutrisi seimbang, akses layanan kesehatan, serta tempat tinggal yang higienis. Sayangnya, banjir menutup akses menuju puskesmas, menghancurkan kebun pangan, hingga mengganggu rantai pasok makanan.
Ketika sumber pangan lokal—kebun masyarakat, pasar kecil, hingga dusun tempat masyarakat membeli bahan pokok—hilang tersapu banjir, perempuan hamil kehilangan akses nutrisi yang stabil. Risikonya perempuan hamil bisa mengalami anemia, hipertensi kehamilan, infeksi, hingga kelahiran prematur. Oleh karena itu krisis ekologis bisa langsung berubah menjadi krisis reproduksi.
4. Akses Sanitasi yang Minimal dan Ancaman Kesehatan serta Keamanan
Dalam pengungsian, perempuan harus bergantung pada toilet darurat yang sering kali tidak ramah perempuan seperti gelap, tidak bersih, jauh dari tempat tidur, dapat memicu risiko infeksi reproduksi, trauma, hingga kerentanan mendapat pelecehan hingga kekerasan berbasis gender.
Toilet yang jauh dan tidak aman, serta ruang tidur tanpa pemisahan, sering memicu rasa tidak aman dan risiko tambahan yang jarang kita bicarakan.
Baca juga: Luka Patriarki: Inses, Ekonomi, dan Perlindungan Anak di Bengkulu
Krisis Ekologi adalah Krisis Reproduksi Perempuan
Jika ada pelajaran penting dari banjir Sumatera, itu adalah bahwa bencana ekologis tidak berhenti pada kerusakan fisik. Tetapi juga ke tubuh perempuan, mereka membutuhkan air bersih lebih banyak, kebutuhan sanitasi lebih tinggi, akses gizi lebih kompleks, dan ruang aman yang sering kali diabaikan negara dalam situasi darurat.
Krisis ekologis yang dipicu oleh deforestasi, perubahan iklim, dan salah urus lingkungan akhirnya menjelma menjadi krisis kesehatan reproduksi perempuan. Dan jika negara terus melihat bencana sebagai sebatas fenomena alam, dampak ini akan terus berulang dan perempuan akan terus menanggung beban paling berat.
Referensi:
- WALHI. (2025, 2 Desember). Legalisasi bencana ekologis di Sumatera Barat, Aceh, dan Sumatera Utara dan tuntutan tanggung jawab negara serta korporasi. https://www.walhi.or.id/legalisasi-bencana-ekologis-di-sumatera-barat-aceh-dan-sumatera-utara-dan-tuntutan-tanggung-jawab-negara-serta-korporasi
- Reuters. (2025, 2 Desember). ‘Mischievous hands’: Indonesians blame deforestation for devastating floods. https://www.reuters.com/sustainability/climate-energy/mischievous-hands-indonesians-blame-deforestation-devastating-floods-2025-12-02
- Yulihastin, E. [@eyulihastin]. (2025, 7 Desember). [Analisis tentang kontribusi cuaca ekstrem dan faktor mitigasi pada banjir Sumatera] [Tweet]. X. https://x.com/eyulihastin/status/1997522197947322681
