Bincangperempuan.com- Generasi Z kini menjadi penentu arah masa depan media. Mereka bukan sekadar pembaca, melainkan partisipan aktif yang ikut menyebarkan, mengomentari, bahkan menciptakan ulang berita di platform digital. Fakta itu mengemuka dalam Bengkulu Media Summit (BMS) 2025, yang resmi dibuka pada Rabu, 12 November 2025.
Acara yang mempertemukan pengelola media lokal di Bengkulu ini menghadirkan sejumlah narasumber nasional, di antaranya Suwarjono, CEO Arkadia Digital Media Tbk, dan Eva Danayanti, Country Programme Manager International Media Support (IMS). Keduanya menyoroti bagaimana perubahan perilaku Gen Z menuntut media untuk beradaptasi — baik dari sisi bisnis maupun strategi redaksi.
Gen Z: Bukan Pembaca Pasif, tapi Pembentuk Tren
Hasil riset IMS dan Universitas Multimedia Nusantara menunjukkan bahwa hampir 30 persen penduduk Bengkulu saat ini merupakan Generasi Z, dengan tingkat penetrasi internet mencapai 88,5 persen. Mereka tumbuh di lingkungan digital, kritis terhadap isu publik, tetapi juga selektif terhadap sumber informasi.
“Gen Z itu bukan pembaca pasif. Mereka ikut share, comment, bahkan membuat ulang konten. Mereka membentuk komunitas berdasarkan isu, bukan hanya berdasarkan media,” ujar Eva Danayanti.
Eva menjelaskan, mayoritas Gen Z mengakses berita lewat smartphone dan media sosial, bukan dari portal berita. Karena itu, strategi media tidak bisa lagi hanya berfokus pada traffic to site, melainkan pada engagement in platform, keterlibatan audiens di tempat mereka berada.
“Mereka tidak loyal pada media, tapi pada nilai, figur, dan narasi yang autentik. Itu yang harus dimengerti redaksi,” tambahnya.
Eva menegaskan bahwa media lokal harus memahami cara berkomunikasi dengan generasi yang tumbuh bersama algoritma ini. Konten yang kaku, pesimis, dan penuh jargon politik mudah diabaikan. Sebaliknya, narasi yang ringan, visual, dan solutif jauh lebih menarik bagi Gen Z.
Baca juga: Momen Sumpah Pemuda, Gen Z Menagih Tanggung Jawab Iklim

Suwarjono: “Dari Teks ke Video, dari Web ke Sosial Media”
Senada dengan Eva, Suwarjono menegaskan bahwa pola konsumsi berita telah berubah drastis. Audiens kini tidak lagi mencari berita, tetapi menemukannya secara acak di feed media sosial.
“Konten harus bisa bergerak lintas platform. Dari teks ke video, dari web ke sosial media,” katanya.
Menurutnya, format video pendek dan reels kini menjadi bentuk paling efektif untuk menjangkau audiens muda. Bahkan, berdasarkan riset IMS–UMN dan Monash University yang ia kutip, isu lokal dan politik justru menarik minat Gen Z jika dikemas secara ringan dan visual.
“Kalau dulu media sibuk bikin headline, sekarang harus sibuk bikin hook,” ujarnya, disambut tawa peserta.
Namun di balik candaan itu, ia menyisipkan pesan penting: algoritma hanya berpihak pada konten yang orisinil, relevan, dan menarik.
“Era konten copy-paste sudah tamat. Media harus punya unique selling point — pembeda yang membuat audiens memilihnya,” tegasnya.
Media Lokal dan Tantangan Relevansi
Dalam sesi bertajuk “Masa Depan Media Lokal: Relevansi, Bukan Skala,” para pembicara sepakat bahwa masa depan media lokal Indonesia akan ditentukan oleh kemampuan mereka memahami generasi muda, beradaptasi dengan perubahan teknologi, dan membangun kedekatan dengan komunitas.
Eva Danayanti menekankan bahwa relevansi lahir dari kemampuan media untuk mendengarkan publik dan membangun hubungan emosional dengan warga.
“Cerita nasional bisa viral, tapi yang lokal itu membekas,” ujarnya.
Menurutnya, media lokal perlu memperkuat pendekatan jurnalisme hiperlokal dan jurnalisme konstruktif fokus pada solusi, bukan sekadar masalah.
“Fokusnya bukan siapa yang salah, tapi apa yang bisa dilakukan,” kata Eva.
Sementara itu, Suwarjono mengingatkan bahwa bisnis media tak bisa lagi bergantung pada iklan semata. Dominasi platform besar seperti Google, Meta, dan TikTok membuat media lokal perlu mencari model pendapatan baru.
“Kita harus berinovasi: event, pelatihan, riset, bahkan kolaborasi dengan komunitas lokal. Media itu seharusnya menjadi jembatan ekosistem,” katanya.
Baca juga: Cuma Temen, HTS, Situationship sampai FWB: Kenapa Hubungan Gen Z Penuh Label?

Gen Z, Peluang Sekaligus Ujian
Kehadiran Generasi Z menjadi ujian sekaligus peluang bagi media lokal. Mereka adalah kelompok yang aktif, kreatif, dan peduli pada isu sosial, tetapi menuntut konten yang autentik dan transparan.
Suwarjono menilai, jika media mampu menggabungkan isu serius dengan gaya hidup digital Gen Z, maka mereka bisa membangun loyalitas baru.
“Gen Z mau mendengarkan isu publik, tapi butuh gaya penyajian yang segar. Jangan kaku, jangan menggurui,” ujarnya.
Dari diskusi para narasumber, satu benang merah terlihat jelas relevansi adalah jalan bertahan media lokal.
Di tengah banjir informasi dan algoritma yang kejam, kepercayaan dan kedekatan dengan komunitas menjadi modal yang tak bisa dibeli dengan klik.
“Media lokal tak perlu menjadi raksasa digital. Cukup jadi kompas kecil yang dipercaya publiknya,” ujar Eva.

Kolaborasi untuk Media Bengkulu Naik Kelas
Bengkulu Media Summit (BMS) 2025 mengusung tema “Media Lokal Bengkulu Naik Kelas: Mendorong Ekonomi Lokal dan Keterbukaan Akses Informasi.” Selain Suwarjono dan Eva, hadir pula Dwi Eko Lokononto (CEO BeritaJatim), Asep Saefullah (Program Manager Local Media Community/LMC), dan Dimas Sagita (Suara.com).
Dua narasumber lokal turut berbagi pengalaman: Iyud Dwi Mursito dari Bengkulu Network dan Heri Aprizal, Business Manager RakyatBengkulu.com.
Acara ini diinisiasi oleh empat media lokal yakni ANTARA Bengkulu, Tribun Bengkulu, Bengkulu News, dan Bincang Perempuan — dengan dukungan dari Pemerintah Provinsi Bengkulu, Kedutaan Besar Norwegia–Uni Eropa, IMS, LMC, dan Suara.com. Dukungan juga datang dari sektor perbankan dan swasta seperti Bank Bengkulu, Bank Syariah Indonesia (BSI), Bank Raya, PT Tenaga Listrik Bengkulu (TLB), Pertamina, Hotel Santika, Nay Skin Care, dan Erse Beauty.
BMS 2025 menjadi momentum penting bagi media lokal Bengkulu untuk memahami arah baru ekosistem media digital: dari teks ke video, dari audiens ke komunitas, dari pembaca ke partisipan.
