Bincangperempuan.com- Menjelang Sidang Kesehatan Dunia ke-78 oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di Jenewa, laporan terbaru dari Komisi The Lancet tentang Gender dan Kesehatan Global menggugah kesadaran dunia: ketimpangan gender bukan hanya masalah keadilan sosial, melainkan juga krisis kesehatan dan kemanusiaan global.
Dalam laporan tersebut, relasi kuasa antara gender, ekonomi, kolonialisme, dan sistem kesehatan diurai secara menyeluruh, membuka mata kita bahwa kesehatan tidak pernah berdiri di ruang hampa—ia dibentuk oleh sejarah penindasan dan ketidaksetaraan yang sistemik.
“Laporan ini menggali pengaruh mendalam dari kapitalisme, kolonialisme, dan imperialisme terhadap kesehatan masyarakat—terutama perempuan dan komunitas gender-diverse,” ujar Dr. Ravi Verma**, Komisaris The Lancet dan Direktur Eksekutif ICRW Asia.
Baca juga: Setelah Dua Abad, Rafflesia Mekar di Tangan Peneliti Perempuan
Afghanistan: Antara Cinta, Pelarian, dan Ancaman Mati
Kisah Parwen Hussaini, aktivis LGBTQI+ Afghanistan, menjadi gambaran tragis bagaimana gender dan identitas seksual bisa menjadi alasan seseorang dikejar, disiksa, dan nyaris dibunuh oleh negaranya sendiri.
Bersama kekasihnya, Maryam, Parwen mencoba melarikan diri ke Iran. Namun hanya Parwen yang berhasil lolos. Maryam kini disekap dan disiksa di penjara Taliban, tanpa kejelasan nasib.
“Kami dikriminalisasi sejak dulu, dan kini lebih dari sebelumnya. Tidak ada harapan, tidak ada kehidupan bagi kami,” ungkap Parwen dalam sesi SHE & Rights.
Hingga kini, organisasi Roshaniya, Amnesty International, dan Peter Tatchell Foundation tengah mengupayakan penyelamatan Parwen. Namun sanksi terhadap Iran membuat proses evakuasi ke negara ketiga hampir mustahil dalam waktu dekat.
Nemat Sadat, pendiri Roshaniya, menambahkan bahwa lebih dari 1.000 individu LGBTQI+ masih terperangkap di Afghanistan dalam kondisi sangat berbahaya.
Sudan Selatan: Tubuh Perempuan Jadi Medan Perang yang Tak Terdeteksi
Konflik berkepanjangan di Sudan Selatan memperlihatkan wajah nyata kekerasan seksual sebagai senjata perang. Perempuan, gadis muda, penyandang disabilitas, dan orang yang hidup dengan HIV menjadi sasaran empuk di tengah keruntuhan total sistem kesehatan.
“Tak ada bidan, tak ada sarung tangan, bahkan tak ada ranjang. Bayi lahir dalam kondisi darurat tanpa fasilitas apa pun. Banyak nyawa hilang hanya karena sistem yang runtuh,” kata Rachel Adau, Direktur Women’s Empowerment Centre South Sudan.
Selain kekerasan fisik dan seksual, perempuan menghadapi diskriminasi hukum dan ekonomi yang membuat mereka nyaris tak memiliki ruang aman.
Baca juga: Kenapa Angka Kelahiran Menurun Belakangan Ini?
Lebanon: Ketika Perang Gaza Menghantam Warga Sipil Tak Bersalah
Laporan dari Lebanon menunjukkan bahwa konflik regional, terutama akibat perang Gaza, turut memperparah penderitaan kelompok rentan. Sebanyak 1,3 juta orang mengungsi, dan sebagian besar berasal dari wilayah selatan yang paling terdampak serangan.
“Layanan dasar seperti kesehatan, tempat tinggal, dan dukungan psikologis kini sepenuhnya disokong oleh organisasi lokal. Namun kelompok LGBTQI+, pengungsi, orang dengan HIV, dan disabilitas menderita paling dalam,” jelas Bertho Makso dari IPPF Arab World.
Global South: Gender, Perubahan Iklim, dan Kekerasan yang Terus Berulang
Di kawasan Global South—Afrika, Asia Selatan, Amerika Latin—perempuan dan gender-diverse communities menghadapi serangan berlapis: dari perubahan iklim, konflik bersenjata, kelaparan, hingga kekerasan berbasis gender.
“Kita melihat peningkatan pernikahan dini, eksploitasi seksual, dan hilangnya akses pendidikan serta kesehatan. LGBTQI+ adalah kelompok paling tak terlindungi,” ujar Nelly Munyasia, Direktur Eksekutif Reproductive Health Network Kenya.
Di Kenya sendiri, ironi terjadi. Meski konstitusi menjamin hak kesetaraan, pemerintah menandatangani Deklarasi Konsensus Jenewa, yang dikenal anti-hak perempuan dan LGBTQI+.
“Konferensi ‘nilai-nilai keluarga’ yang akan digelar di Kenya adalah topeng untuk menyebar kebencian dan pembunuhan terhadap minoritas,” tambah Nelly.
Laporan The Lancet: Keadilan Gender adalah Agenda Kesehatan Global
Komisi The Lancet menyerukan bahwa untuk memahami kesehatan global, kita harus mengurai sejarah kolonialisme, sistem patriarki, dan ketimpangan ekonomi yang melekat di setiap kebijakan.
“Mewujudkan keadilan gender dalam kebijakan kesehatan bukan semata kerja teknis. Ini adalah perjuangan untuk keadilan sosial,” kata Dr. Verma.
Shobha Shukla, Koordinator SHE & Rights, menegaskan bahwa dunia tak akan mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) tanpa menghapus ketimpangan gender dan maskulinitas beracun.
“Tak ada satu pun perempuan atau individu gender-diverse di planet ini yang benar-benar bebas dari ancaman kekerasan,” katanya. “Ini bukan hanya statistik. Ini kehidupan nyata yang dipertaruhkan setiap hari.”
Krisis demi krisis menunjukkan bahwa ketimpangan gender adalah bentuk kekerasan struktural yang merusak generasi. Saatnya dunia bergerak bersama, melindungi mereka yang paling rentan, dan menuntut tatanan dunia baru yang benar-benar setara.
