Kenapa Ada Produk Feminine Hygiene, Tapi Tak Pernah Ada Masculine Hygiene?

Ais Fahira

News

Bincangperempuan.com- Kalau lagi lihat-lihat ke lorong perawatan diri di supermarket, pemandangan rak-rak toko dipenuhi berbagai merek feminine wash, pembersih kewanitaan beraroma bunga, hingga panty liner dengan klaim menjaga kesegaran sepanjang hari. Tapi kalau kamu bergeser ke bagian laki-laki, produk perawatan khusus organ intim laki-laki justru nyaris tidak ditemukan. Paling banter parfum, deodoran atau sabun cuci muka. Kenapa bisa begini ya? Memangnya penis tidak berpotensi untuk kotor dan bau juga?

Realitas Medis Ekosistem Vagina

Memangnya vagina seperlu itu dibersihkan dengan feminine wash? Sains medis ternyata memberikan fakta yang bertolak belakang dengan klaim iklan pemasaran. Vagina sebenarnya memiliki sistem pembersih mandiri yang sangat canggih melalui cairan alami tubuh. Kesehatan ekosistem vagina sangat bergantung pada keberadaan mikrobioma sensitif yang didominasi oleh bakteri baik bernama Lactobacillus. Bakteri ini bertugas menjaga tingkat keasaman (pH) ideal lingkungan intim agar terlindung dari serangan kuman dan infeksi patogen.

Para ahli dalam berbagai riset mikroba menunjukkan bahwa kebiasaan mencuci vagina dengan douching, sabun berpewangi, atau cairan antiseptik justru merusak populasi Lactobacillus. Ketika populasi bakteri baik ini menyusut, keasaman alami vagina jadi terganggu. Kondisi ini memicu berbagai masalah kesehatan, seperti berkurangnya populasi bakteri baik di vagina—sehingga bisa menciptakan infeksi jamur, hingga iritasi kulit. 

Panduan medis klinis merekomendasikan perawatan yang sederhana saja, yaitu dengan membasuh bagian luar atau vulva menggunakan air bersih dan pembersih lembut ber-pH seimbang sebanyak satu hingga dua kali sehari. Vagina bagian dalam justru tidak sama sekali memerlukan bilasan sabun jenis apa pun.

Baca juga: Feminine Energy Bukan untuk Meraih Standar Cinta Ala TikTok

Apakah Penis Seharusnya Juga Harus Dibersihkan

Sisi lain dari pertanyaan ini bermuara pada anatomi organ vital laki-laki. Penis merupakan organ luar yang sebagian besar jalurnya terbungkus oleh jaringan kulit biasa. Struktur kulit penis tidak memiliki ekosistem mikroflora kompleks dengan tingkat keasaman khusus layaknya vagina. Kebersihan penis dapat dijaga secara optimal cukup dengan membilasnya menggunakan air hangat dan sabun lembut yang tidak memicu iritasi.

Perhatian khusus pada organ intim laki-laki biasanya tertuju pada penumpukan zat alami yang dinamakan smegma. Melansir dari Medical News Today, smegma adalah penumpukan alami dari sel-sel kulit mati, sekresi minyak, dan kelembaban yang mengendap di balik kulup penis yang tidak disunat. Kehadiran smegma sebenarnya memiliki fungsi biologis untuk melembabkan serta melumasi area kepala penis.

Penumpukan smegma yang dibiarkan tanpa dibersihkan memang dapat memicu aroma tidak sedap hingga timbulnya peradangan kulit seperti balanitis. Kondisi penis yang sudah disunat membuat proses pembersihan jauh lebih mudah dan praktis karena tidak ada lagi lipatan kulup yang menampung kotoran. 

Bagi laki-laki yang tidak disunat, pembersihannya pun tetap tergolong sederhana. Pria dewasa cukup menarik kulup secara perlahan ke arah belakang, membasuh bagian kepala penis dengan air hangat dan sabun lembut, lalu mengeringkannya sebelum mengembalikan posisi kulup. Tidak adanya kebutuhan formula pH khusus pada kulit penis membuat industri tidak menemukan alasan kuat untuk menciptakan sabun khusus penis di pasaran.

Standar Ganda dan Pembentukan Beban Malu

Dari paparan di atas, baik vagina atau penis sebenarnya tidak memerlukan pembersih khusus. Lantas mengapa di pasaran banyak diperjual belikan produk pembersih vagina? Memangnya penis tidak berpotensi untuk kotor?

Dalam budaya patriarki, laki-laki jarang dibebani oleh standar keharuman atau kebersihan organ intim yang serba mendetail. Kebersihan organ intim laki-laki atau penis dianggap selesai hanya dengan membasuhnya saat mandi menggunakan sabun badan biasa. Laki-laki dibebaskan dari narasi kecemasan sosial mengenai aroma alami tubuhnya.

Standar ganda ini menciptakan ketimpangan respons emosional. Perempuan dibesarkan dalam narasi yang mendorong timbulnya rasa malu terhadap bentuk, warna, maupun aroma alami organ reproduksinya. Rasa malu inilah yang kemudian ditangkap oleh pasar sebagai peluang bisnis bernilai miliaran dolar. Konsumen perempuan digiring untuk percaya bahwa membeli pembersih kewanitaan adalah tindakan perawatan diri yang mutlak, padahal sebagian besar dari produk tersebut berisiko mengganggu kesehatan jaringan intim.

Baca juga: Apa Itu Male Centered Woman? Bentuk Nyata dari Androsentrisme

Menjaga Kesehatan Intim Secara Rasional

Memahami kebersihan organ intim seharusnya berpatokan langsung pada pengetahuan anatomi yang tepat ketimbang buaian janji manis pemasaran. Baik laki-laki maupun perempuan pada dasarnya hanya membutuhkan air bersih dan sabun berformula lembut untuk menjaga kebersihan area intim luar masing-masing.

Keberadaan produk pembersih kewanitaan yang menjamur merupakan cerminan dari komodifikasi ketakutan sosial yang timpang. Mengurangi kebiasaan merusak proses biologis alami dengan tumpukan produk kimia berpewangi menjadi langkah terbaik untuk mengembalikan kesehatan intim yang sesungguhnya. Edukasi kesehatan yang jujur dan rasional akan membantu semua orang merawat tubuhnya secara bijak tanpa perlu terjebak dalam ilusi kebersihan artifisial.

Daftar Pustaka:

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Teras

Artikel Lainnya

Kemenkes Soroti Kesenjangan Akses Layanan Kesehatan bagi Kelompok Rentan

Akses Terbuka, Stigma Masih Ada: Kenapa Layanan Kespro Belum Aman untuk Perempuan Muda?

Perempuan yang Ingin Hamil Sebaiknya Jangan Konsumsi Ganja

Perempuan yang Ingin Hamil Sebaiknya Jangan Konsumsi Ganja

Leave a Comment