Bincangperempuan.com- Di Indonesia ganja memang ilegal dikonsumsi maupun untuk kebutuhan medis karena digolongkan menjadi jenis narkoba golongan I. Sedangkan di luar negeri banyak negara maju memanfaatkan ganja untuk pasien kanker, nyeri kronis, sampai terapi kecemasan. Tapi di negara lain, posisi ganja sudah agak berubah: beberapa negara maju mengizinkannya untuk terapi medis, misalnya untuk meredakan nyeri kronis, membantu pasien kanker mengatasi mual akibat kemoterapi, atau meredakan gejala kecemasan dan epilepsi tertentu. Dengan kata lain, ganja memang punya potensi medis yang tidak bisa diabaikan begitu saja.
Namun, zat aktif utama ganja, THC (tetrahydrocannabinol), tidak hanya membawa manfaat. Tetapi juga punya sisi lain yang bisa merugikan, terutama dalam konteks kesehatan reproduksi. Beberapa penelitian menunjukkan THC dapat memengaruhi hormon, siklus menstruasi, dan kualitas sel telur pada perempuan. Inilah yang membuat konsumsi ganja berisiko, terutama bagi perempuan yang sedang berencana hamil.
Penelitian Terbaru: Pengaruh Ganja Pada Bayi Tabung
Merangkum dari DW, studi terbaru dari Kanada, yang menguji hubungan antara THC dan keberhasilan program bayi tabung (IVF). Melansir laporan DW (yang kemudian dikutip media lain seperti Detik) studi ini memeriksa sel telur dan cairan folikel (cairan yang mengelilingi sel telur di ovarium).
Peneliti melibatkan 1.059 perempuan yang menjalani IVF. Dari jumlah itu, 62 orang di antaranya memiliki THC terdeteksi dalam cairan folikel (dinding sel telur) mereka. Jika THC muncul di sana, berarti ganja yang dikonsumsi sudah mencapai lingkungan sel telur mereka.
Hasilnya perempuan dengan THC menunjukkan hasil lebih buruk dalam beberapa aspek penting. Meskipun sel telur tampak lebih cepat matang, embrio yang terbentuk lebih sedikit yang memiliki kromosom normal (euploid). Dalam kelompok pasien tanpa THC, sekitar 67% embrio memiliki kromosom normal, sementara di kelompok THC, hanya sekitar 60%. Ini menunjukkan peluang kehamilan sukses, implantasi, hingga kelahiran anak sehat bisa lebih rendah di kelompok yang terpapar THC.
Baca juga: Tes Kehamilan Pada Siswi: Antisipasi atau Pelanggaran Privasi?
Mengapa THC Bisa Menjadi Musuh Bagi Sel Telur dan Embrio?
Bayangkan sel telur itu seperti mesin fotokopi super canggih yang tugasnya menggandakan “buku petunjuk” (kromosom) supaya calon bayi bisa berkembang dengan benar. Kalau mesin ini bekerja rapi, salinannya bersih dan lengkap, jadilah janin yang sehat.
Sayangnya zat THC bisa membuat kinerja mesin ini terganggu. Sehingga saat sel telur harus membagi kromosom, THC membuat prosesnya jadi lebih sering salah. Kesalahan itu disebut aneuploidi — kondisi di mana jumlah kromosomnya tidak pas. Kalau kromosom berantakan, janin bisa gagal berkembang atau berisiko keguguran.
Selain itu, THC juga mempengaruhi jaringan pendukung sel (matriks ekstraseluler). Bayangkan ini seperti rangka bangunan yang membuat gedung kokoh. Kalau rangkanya goyah, bangunannya akan mudah roboh. Nah, di sel telur, kalau rangkanya lemah, embrio susah menempel di rahim dan berkembang. Sederhananya, walaupun sel telur kelihatan cepat “matang karena THC, kualitasnya justru menjadi buruk. Akibatnya, risiko kegagalan implantasi, keguguran, atau bayi dengan masalah kesehatan meningkat.
Peringatan Global Mengenai Penggunaan Ganja Pada Perempuan Hamil dan Menyusui
Studi Kanada itu bukan satu-satunya bukti bahaya ganja bagi perempuan hamil. Lembaga kesehatan CDC (Centers for Disease Control and Prevention) Amerika Serikat yang mengurus soal kesehatan masyarakat, penyakit menular, pencegahan, sampai penelitian kesehatan.juga memperingatkan penggunaan ganja saat kehamilan:
- CDC Amerika Serikat secara eksplisit menyebut bahwa menggunakan ganja selama kehamilan bisa memengaruhi perkembangan bayi dan meningkatkan risiko komplikasi kehamilan. Mereka menyebut bahwa zat kimia dalam ganja terutama THC, dapat tembus dari tubuh ibu ke tubuh bayi.
- CDC juga menyatakan bahwa penggunaan ganja selama kehamilan dalam bentuk apapun (merokok, vaping, mengonsumsi, memakai lotion) — bisa berdampak buruk terhadap bayi.
- Beberapa penelitian menunjukkan bahwa penggunaan ganja saat hamil berkaitan dengan bayi lahir dengan berat badan rendah dan kemungkinan mengalami gangguan neurologis seperti masalah memori, perhatian, atau perilaku di kemudian hari.
- Selain itu, asap ganja mengandung banyak zat berbahaya yang sama dengan asap rokok. THC juga bisa dibawa ke bayi lewat ASI (air susu ibu), karena zat itu disimpan dalam jaringan lemak ibu dan dilepas perlahan-lahan.
Karena itu, lembaga kesehatan internasional dan para pakar secara umum menyarankan bagi perempuan hamil atau yang merencanakan kehamilan sebaiknya menghindari konsumsi ganja dalam bentuk apapun.
Baca juga: Kehamilan Tak Diinginkan dalam Pernikahan
Catatan Kritis: Penelitian Masih Punya Batas
Walau hasil riset Kanada memberi peringatan serius, para ahli tetap mengingatkan bahwa studi ini punya keterbatasan. Misalnya, pasien yang ikut program bayi tabung (IVF) biasanya sudah berusia lebih tua. Nah, faktor usia sendiri memang bisa bikin pembelahan kromosom lebih sering salah, jadi sulit dipisahkan mana efek THC, mana pengaruh usia.
Selain itu, penelitian ini belum bisa menjawab berapa dosis ganja yang berisiko, seberapa sering pemakaian, dan dalam bentuk apa (rokok, edibles, minyak, vape, atau bentuk lain). Padahal cara dan intensitas konsumsi bisa sangat memengaruhi hasil.
Beberapa ilmuwan juga menekankan bahwa banyak studi soal ganja dan kehamilan masih bersifat observasional. Artinya, peneliti hanya mengamati tanpa bisa benar-benar mengontrol semua faktor. Bisa jadi ada variabel lain yang ikut berpengaruh, seperti kondisi kesehatan ibu, gaya hidup, atau faktor sosial-ekonomi. Semua ini bikin kesimpulan jadi lebih rumit.
Karena itu, meski data sudah cukup kuat untuk jadi alarm, ilmuwan belum berani menyebut ganja “aman” bagi perempuan hamil. Mereka justru mendorong penelitian lanjutan dengan sampel lebih luas dan kontrol lebih ketat.
Pada akhirnya, ganja memang punya potensi medis di beberapa konteks, tapi kehamilan bukan salah satunya. Bukti dari studi Kanada dan rekomendasi lembaga kesehatan seperti CDC menunjukkan THC bisa merusak sel telur, mengurangi peluang embrio sehat, dan memengaruhi perkembangan bayi.
Karena mekanismenya belum sepenuhnya dipahami, sementara risikonya nyata, pilihan paling bijak bagi perempuan yang ingin hamil adalah menghindari ganja dalam bentuk apapun. Kehamilan adalah periode yang sangat sensitif, di mana bayi yang belum lahir masih sangat rentan dan belum memiliki sistem pertahanan yang sempurna.
Referensi:
- Centers for Disease Control and Prevention. (2025, January 30). Cannabis and pregnancy. U.S. Department of Health & Human Services. https://www.cdc.gov/cannabis/health-effects/pregnancy.html
- Deutsche Welle. (2025, September 15). Studi baru: Ganja bisa ganggu kesuburan perempuan. https://www.dw.com/id/studi-baru-ganja-bisa-ganggu-kesuburan-perempuan/a-73993366
- aulus, W., & Mayerhofer, A. (2024). Commentary on the effects of cannabis use in IVF patients. Reproductive Toxicology, 126, 15–18. https://doi.org/10.1016/j.reprotox.2024.05.004
