Bincangperempuan.com- Mengasuh anak hingga merawat orang tua lansia, membereskan rumah, menyapu lantai, memasak, menata barang-barang semua itu adalah kerja perawatan. Dalam struktur masyarakat yang masih patriarki, beban ini otomatis dialamatkan kepada perempuan, seolah kemampuan merawat adalah sifat bawaan yang pasti dimiliki sejak lahir.
Maka ketika seorang perempuan tidak lihai atau tidak sempurna dalam menjalankan kerja perawatan seperti menyapu dianggap kurang bersih, beres-beres dianggap tidak rapi, atau memasak dianggap tidak enak penilaiannya langsung jatuh. Perempuan yang tidak jago dalam kerja perawatan dianggap ceroboh, malas, bahkan gagal menjadi perempuan.
Kerja Perawatan: Banyak, Berat, dan Tidak Dibayar
Padahal kerja perawatan sendiri kebanyakan adalah tidak digaji. Seperti yang diungkapkan oleh International Labour Organization (ILO), secara global, perempuan melakukan sekitar 76,2% dari total jam kerja perawatan tak dibayar. Di Asia dan Pasifik, angkanya bahkan naik menjadi 80%. Ini berarti mayoritas kerja yang menopang kehidupan sehari-hari dari mengasuh, memasak, membersihkan, hingga mendukung kesehatan mental anggota keluarga. Semua itu dilakukan perempuan tanpa imbalan, tanpa pengakuan, dan tanpa perlindungan sosial.
Realitas ini menunjukkan betapa kuatnya keyakinan bahwa kerja perawatan adalah “kodrat” perempuan. Masyarakat menganggap perempuan wajib bisa, wajib telaten, dan wajib mau melakukan semuanya secara otomatis. Padahal banyak perempuan menjalankan kerja perawatan bukan karena minat, tetapi karena tekanan sosial dan kurangnya pilihan. Ketika sebuah pekerjaan dianggap kodrat, kualitasnya tidak dihargai, dan pelakunya tidak diberi ruang untuk gagal. Seorang perempuan bisa bekerja penuh waktu di luar rumah sekalipun, tetapi tetap dituntut untuk menjadi pusat perawatan di rumah—tanpa negosiasi.
Baca juga: Pejabat Stop Perfomatif! Bencana Alam Bukan Lahan Kampanye
Tidak Semua Perempuan Terlahir Telaten
Masalahnya, tidak semua perempuan terlahir telaten. Tidak semua cocok dengan ritme perawatan yang membutuhkan kesabaran tinggi, konsistensi, dan perhatian terhadap detail. Kemampuan merawat bukan bawaan genetis, melainkan keterampilan yang dipelajari. Sama halnya seperti belajar menulis, memasak, atau mengoperasikan teknologi, kemampuan merawat pun membutuhkan latihan, waktu, dan ketertarikan.
Tetapi ketika perempuan tidak mahir dalam kerja perawatan, masyarakat tidak melihatnya sebagai ketidaksesuaian keterampilan. Yang dianggap salah adalah identitasnya. Ia dicap “tidak keibuan,” “tidak pantas jadi istri,” atau “perempuan yang egois.” Narasi ini merampas ruang bagi perempuan untuk menjadi manusia biasa dengan keragaman minat, kemampuan, dan bakat. Seolah-olah perempuan hanya wajib unggul dalam satu bidang saja yaitu merawat.
Padahal manusia terlepas dari gendernya punya potensi di banyak tempat entah itu sains, seni, teknologi, olahraga, kepemimpinan, desain, atau kemampuan analitis. Ada perempuan yang berbakat memimpin tim, tetapi dianggap tidak lengkap karena tidak suka memasak. Ada yang jago analisis data, tetapi tetap ditegur karena lipatan bajunya tidak rapi. Beban perawatan mengalahkan semua identitas dan prestasi lain, karena masyarakat menempatkan kerja perawatan sebagai standar utama perempuan sempurna.
Ketika Perempuan Sudah Bekerja, Kesetaraan Gender Tetap Tidak Bergerak
Ironisnya, ketika perempuan akhirnya punya kesempatan masuk dunia kerja punya karier, penghasilan, bahkan posisi penting, standar rumah tangga terhadap mereka belum tentu berubah. Tetap saja mereka dianggap pusat perawatan keluarga. Tetap dianggap pemilik tanggung jawab utama urusan rumah. Tetap dipaksa ingat semua detail kecil yang orang lain tidak peduli seperti stok sabun habis atau tidak, kapan jadwal imunisasi anak, siapa yang harus dijemput, sampai apakah lantai sudah disapu.
Dan di titik ini, membicarakan feminisme sering terasa sia-sia. Karena bagaimana kita bisa bicara soal kesetaraan di publik, kalau di rumah yang seharusnya ruang paling aman bagi perempuan masih diperlakukan seperti mesin perawatan?
Kalimat atau slogan seperti “perempuan boleh bekerja, tapi jangan lupa kewajiban” turut melanggengkan pakem ini. Akibatnya perempuan mengalami beban kerja ganda.
Mereka bekerja delapan jam, kadang lebih. Tetapi begitu pulang rumah, mereka langsung masuk shift kedua—memasak, menyapu, memandikan anak, menenangkan anggota keluarga, mengingatkan keperluan semua orang. Laki-laki? Banyak yang pulang kerja lalu rebahan, main game, atau istirahat tanpa merasa bersalah. Dan masyarakat tetap melihatnya sebagai hal wajar.
Baca juga: Gerakan Perempuan Serawai: Dari Perlawanan Menjadi Kemenangan
Kerja Perawatan juga Perlawanan
Padahal bagaimana seseorang bisa bekerja delapan jam sehari kalau tidak ada yang memastikan makanan tersedia? Bagaimana anak bisa sekolah tanpa ada yang menyiapkan kebutuhan mereka? Bagaimana lansia bisa tetap hidup dengan layak tanpa ada yang merawat?
Faktanya, tanpa kerja perawatan, tidak ada produktivitas, tidak ada aktivitas ekonomi, dan tidak ada stabilitas sosial.
Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), pada triwulan II tahun 2024, konsumsi rumah tangga menyumbang sekitar 54–55% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Angka ini bukan sekadar statistik ekonomi. Ia menunjukkan bahwa kerja perawatan sehari-hari di rumah adalah bagian dari roda perekonomian nasional.
Dengan kata lain kerja perawatan adalah kerja penting. Kerja yang mestinya dihargai, dibagi, dan diperlakukan sebagai kemampuan sosial, bukan standar moral perempuan. Mulai dari mengasuh,membersihkan rumah, mengatur pengeluaran, mendampingi anggota keluarga yang sakit atau lansia, hingga memastikan keberlangsungan hidup sehari-hari.
Semua itu bukan kerja perempuan, tetapi kerja yang memungkinkan semua orang tetap hidup.
Oleh karena itu sudah saatnya kerja perawatan dilihat sebagai tugas bersama, bukan identitas. Siapa pun yang hidup dalam satu rumah tangga, siapa pun yang mampu, siapa pun yang punya waktu berhak dan wajib ikut ambil bagian.
Referensi:
- International Labour Organization. (2024). Women do 4 times more unpaid care work than men in Asia and the Pacific. https://www.ilo.org/resource/news/ilo-women-do-4-times-more-unpaid-care-work-men-asia-and-pacific
- Katadata. (2024, August 6). Household consumption contributed 54% to Indonesia’s Q2 2024 GDP. Databoks. https://databoks.katadata.co.id/en/pdb/statistics/66b1e748777e2/household-consumption-contributed-54-to-indonesias-q2-2024-gdp
