Apakah Udara Kita Masih Layak Hirup?

Ais Fahira

News, Data

Bincangperempuan.com- Pagi itu matahari baru naik ketika aku membuka jendela kamar. Di kampung, udara pagi masih terasa lembab, segar, dan sedikit beraroma tanah. Embun menempel di dedaunan pisang, ayam berkokok, dan suara sapu lidi terdengar dari halaman tetangga. Napas terasa ringan, seolah paru-paru ikut bersih. 

Tapi begitu berpindah ke kota, suasananya berbeda. Pagi hari di kota sering dimulai dengan deru kendaraan, aroma gorengan dari warung pinggir jalan, dan kabut tipis yang bukan dari embun- melainkan asap. Udara yang masuk ke paru-paru terasa hangat dan sedikit berat. Kita menyalakan motor, menyeruput kopi, lalu bergegas ke tempat kerja tanpa sempat memikirkan apa yang sebenarnya sedang kita hirup.

Di balik rutinitas yang tampak biasa itu, ada perbedaan yang sulit diabaikan. Di desa, udara masih bisa jadi pelarian sedangkan di kota, udara justru mulai menjadi beban yang tak kasat mata. 

Menurut IQAir’s 2024 World Air Quality Report, Indonesia kini tercatat sebagai negara dengan kualitas udara terburuk di Asia Tenggara dan ke-15 terburuk di dunia. Di pulau Jawa, hampir semua kota—dari Jakarta, Bekasi, hingga Surabaya—sering mencatat kadar partikel halus (PM2.5) antara 30 hingga 55 mikrogram per meter kubik, atau enam sampai sebelas kali lipat di atas batas aman WHO. 

Sementara kota-kota di luar Jawa seperti di Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi, meskipun sedikit lebih rendah di kisaran 15–26 mikrogram per meter kubik, tetap menghadapi risiko yang tidak kecil, terutama ketika musim kemarau membawa asap kebakaran lahan.

Kita mungkin tidak selalu melihat polusi, karena tak punya warna mencolok, tak berbau tajam seperti bensin—tapi menyelinap masuk lewat setiap tarikan napas, pelan-pelan menumpuk di paru, lalu menua bersama kita. Di balik langit yang tampak tenang, ada ancaman yang diam-diam menekan usia harapan hidup manusia Indonesia.

Polusi Udara di Indonesia

Polusi udara sudah lama dikenal sebagai silent killer—karena dampaknya tidak langsung terlihat tetapi memotong kualitas hidup dan harapan hidup manusia. Di Indonesia, sejumlah data menunjukkan hal tersebut. Menurut laporan Energy Policy Institute at the University of Chicago (AQLI) untuk Indonesia: rata-rata warga Indonesia kehilangan ~1,2 tahun harapan hidup akibat paparan polusi partikel halus (PM2,5) dibanding jika standar World Health Organization (WHO) terpenuhi.

Di wilayah yang sangat tercemar, misalnya kota besar atau kawasan industri angka kehilangan harapan hidup di beberapa kota di Indonesia bisa kehilangan lebih dari 2,5 tahun. 

Mengapa bisa demikian? Partikel halus PM2,5 mampu masuk jauh ke paru-paru dan ke aliran darah, menyebabkan peradangan, kerusakan pembuluh darah, melemahkan fungsi jantung dan paru‐paru. Studi di Jakarta mencatat bahwa polusi udara terkait dengan penyakit kardiovaskular, ISPA, bahkan kanker paru-paru. 

Di banyak kota besar Indonesia, menghirup udara bersih sudah menjadi hal yang sulit. Setiap hari, warga tanpa sadar menghirup campuran gas berbahaya dan debu halus dari asap kendaraan, cerobong pabrik, hingga pembakaran sampah. Bahkan menurut laporan IQAir tahun 2024, Indonesia menempati peringkat ke-15 dari 138 negara dengan kualitas udara terburuk di dunia. Dan menjadi kualitas udara yang terburuk di Asia Tenggara. 

Polusi biasanya konsentrasi partikel berbahaya PM2,5 (partikel halus berukuran 2,5 mikrometer atau lebih kecil) di udara jauh melampaui ambang batas aman. WHO merekomendasikan rata-rata tahunan PM2,5 tidak lebih dari 5 µg/m³. Sementara itu, di Indonesia, pemerintah menetapkan batas konsentrasi 24 jam maksimal sebesar 65 µg/m³. Artinya, udara yang dianggap “aman” di Indonesia masih jauh lebih longgar dibanding standar internasional. 

Kondisi buruk ini terlihat jelas di kota-kota besar Indonesia. Banyak orang mengira Jakarta selalu jadi kota paling berpolusi. Namun, data terbaru menunjukkan kenyataannya berbeda. Berdasarkan pemantauan real time IQAir per 21 November 2025, berikut daftar sepuluh kota dengan tingkat polusi udara tertinggi:

Angka AQI (Air Quality Index) ini menunjukkan kualitas udara yang sudah masuk kategori tidak sehat. Untuk gambaran, AQI punya beberapa kategori, di antaranya: 0–50 masuk kategori baik, 51–100 sedang, 101–150 tidak sehat bagi kelompok sensitif, 151–200 tidak sehat, 201–300 sangat tidak sehat, dan di atas 300 sudah masuk berbahaya.

Baca juga: Perempuan dan Anak Kelompok Paling Rentan Terdampak Buruknya Kualitas Udara

Dampaknya untuk Kehidupan Sehari-hari

Angka-angka ini bukan sekadar statistik. Polusi udara nyata membahayakan kesehatan. Partikel halus (PM2.5) bisa masuk jauh ke paru-paru, bahkan ke aliran darah. Akibatnya, risiko penyakit pernapasan, jantung, hingga kanker meningkat. Bagi anak-anak dan lansia, risiko ini bisa berlipat ganda. Itu sebabnya banyak orang di kota-kota besar kini terbiasa pakai masker, bukan hanya saat pandemi, tapi juga setiap hari untuk melindungi diri dari udara kotor.

Menurut BRIN, ada lima penyakit utama yang paling banyak dipicu oleh polusi udara di Indonesia. Mari kita bahas satu per satu.

1. Penyakit Jantung

Polusi udara bukan hanya urusan paru-paru, tapi juga jantung. Partikel halus dari asap kendaraan bermotor atau pembakaran batu bara bisa masuk ke dalam aliran darah lewat paru-paru. Partikel ini memicu peradangan dan penyempitan pembuluh darah, sehingga risiko serangan jantung meningkat. Itulah sebabnya, banyak penelitian global menemukan hubungan erat antara kualitas udara buruk dan angka kematian akibat penyakit jantung.

2. Stroke

Masih terkait dengan sistem peredaran darah, stroke juga dipengaruhi polusi udara. Partikel beracun yang masuk ke tubuh dapat mempercepat terbentuknya plak di pembuluh darah otak. Akibatnya, suplai darah ke otak bisa terganggu, memicu serangan stroke. BRIN menekankan bahwa polusi udara memperburuk risiko, terutama bagi kelompok rentan seperti lansia atau penderita hipertensi.

3. Kanker Paru-paru

Tidak hanya rokok yang bisa menyebabkan kanker paru-paru. Udara yang tercemar oleh asap kendaraan, industri, dan pembakaran sampah juga mengandung zat karsinogen. Paparan jangka panjang membuat sel-sel paru-paru rusak dan bermutasi, hingga berkembang menjadi kanker. Di Indonesia, risiko ini semakin tinggi karena polusi perkotaan kerap berada di level “tidak sehat” hampir setiap hari.

4. PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronis)

PPOK adalah penyakit paru-paru jangka panjang yang membuat penderitanya sulit bernapas karena saluran udara menyempit. Polusi udara, terutama asap dan partikel halus, menjadi pemicu utama penyakit ini selain merokok. Sayangnya, PPOK tidak bisa disembuhkan. Penderitanya harus hidup dengan sesak napas kronis yang membatasi aktivitas sehari-hari.

5. Infeksi Saluran Pernapasan

Saat kualitas udara menurun, banyak orang mengalami batuk, pilek, atau radang tenggorokan. BRIN mencatat, infeksi saluran pernapasan—baik akut maupun kronis—merupakan salah satu penyakit terbanyak akibat polusi udara di Indonesia. Anak-anak adalah kelompok yang paling rentan karena sistem pernapasan mereka masih berkembang.

Pada akhirnya masalah polusi udara butuh langkah besar dan kerja sama banyak pihak. Pemerintah punya peran penting lewat kebijakan, seperti memperketat standar emisi kendaraan, mengurangi ketergantungan pada PLTU batu bara, serta memperluas transportasi publik yang ramah lingkungan. Namun, upaya ini tidak bisa berjalan tanpa dukungan warga. Setiap orang bisa ikut berkontribusi dengan langkah kecil, misalnya dengan lebih sering naik transportasi umum, mengurangi pembakaran sampah, hingga menanam pohon di lingkungan sekitar. Sebab polusi udara bukan sekadar udara yang tak nyaman dihirup tapi ancaman nyata bagi kesehatan dan masa depan. 

Baca juga: Momen Sumpah Pemuda, Gen Z Menagih Tanggung Jawab Iklim 

Ancaman Ganda: Polusi Udara dan Kenaikan Suhu

Namun ada faktor lain yang memperparah kondisi ini yaitu kenaikan suhu bumi dan perubahan iklim—yang menambah tekanan terhadap kualitas udara, sehingga menciptakan ancaman ganda.

Suhu yang makin naik meningkatkan pembentukan ozon permukaan tanah (ground-level ozone), karena reaksi kimia antara nitrogen oksida (NOₓ) dan senyawa organik volatil (VOCs) berjalan lebih cepat saat suhu tinggi dan sinar matahari kuat. Selain itu, perubahan iklim memperparah stagnasi udara, kebakaran lahan, kekeringan yang semuanya meningkatkan polusi partikel.

Ozon permukaan sama bahayanya, karena tak hanya membuat napas terasa berat, tetapi juga meningkatkan risiko asma, bronkitis, dan kerusakan paru jangka panjang. Jadi ketika udara kota sudah “keras” karena polusi kendaraan, industri, dan debu, muncul pula panas yang mempercepat proses kimia udara, memperburuk kondisi. 

Terlebih di area “abu-abu” atau grey area seperti pemukiman maupun kawasan perkantoran yang padat, dengan ruang hijau sedikit—di situ semua kondisi ini terkonsentrasi: polusi tinggi, ventilasi terbatas, panas menyengat.

Desa vs Kota dan Masa Depan

Di desa, misalnya kampung atau kota kecil di Sumatra atau pegunungan, kita mungkin masih merasakan udara lebih ringan dan ruang terbuka yang memungkinkan sirkulasi udara lebih baik. 

Data menunjukkan bahwa di pulau selain Jawa (Sumatra, Kalimantan, Sulawesi) rata-rata PM2,5 tahunan memang lebih rendah (kisaran ~18-26 µg/m³) dibanding kota besar di Jawa yang berada di kisaran ~30-55 µg/m³. Tapi “lebih rendah” bukan berarti aman: masih jauh dari standar WHO (5 µg/m³), dan saat musim kemarau atau kebakaran lahan, udara pedesaan pun bisa langsung memburuk.

Di kota besar (khususnya Jawa) terutama di kawasan Jabodetabek, rata-rata PM2,5 tahunan tercatat ~40 µg/m³ atau lebih, dan beberapa wilayah mencapai ~55 µg/m³. Dengan kondisi seperti ini, kombinasi antara polusi kronis dan suhu yang makin tinggi (terutama gelombang panas, minim ventilasi) berarti warga kota menghadapi ancaman ganda: potensi kehilangan beberapa tahun hidup dan beban penyakit pernapasan.

Lalu masa depan? Jika perubahan iklim tidak ditekan dan urbanisasi padat terus berlanjut tanpa ruang hijau atau mitigasi, maka pedesaan pun bisa “dijajah” oleh udara buruk, angin membawa debu atau asap kebakaran lahan dari luar, panas yang makin sering, dan polusi yang merambat ke wilayah yang dulu bersih. Ruang hijau yang menyerap panas dan polutan akan semakin dibutuhkan. Pemukiman yang padat dan sempit, dengan sedikit tanaman, akan menjadi zona risiko tinggi.

Referensi:

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Teras

Artikel Lainnya

MENEPIS GEMPURAN PERUBAHAN IKLIM ALA PEKEBUN KOPI

Menepis Gempuran Perubahan Iklim Ala Pekebun Kopi 

Sunat Perempuan Telah Dilarang, Bagaimana Implementasinya?

10 Tahun, 1.131 Kriminalisasi Aktivis Lingkungan

Leave a Comment