Khabar Lahariya: Media Anti Mainstream yang Bikin Kamu Melek Realita

Betty Herlina

News

Khabar Lahariya Media Anti Mainstream yang Bikin Kamu Melek Realita

Bincangperempuan.com- B’Per’s jika kamu selalu berpikir bahwa jurnalisme itu ibarat breaking news yang selalu datang dari kota besar, eits, kamu salah. Satu media di India, mendobrak bias capitol sentris. Siapa lagi kalau bukan Khabar Lahariya. Ini bukan media biasa. Sebaliknya ini adalah gerakan perempuan akar rumput.  Nggak cuma soal berita, tapi soal keberanian, menyampaikan suara, dan mendorong perubahan.

Nah, yang pastinya bikin keren, Khabar Lahariya digawangi para perempuan Dalit dari desa terpencil. Exactly, perempuan yang selama ini nyaris “tidak punya tempat” di newsroom, sebaliknya mendominasi di Khabar Lahariya.

Dari Desa, Untuk Dunia

Khabar Lahariya lahir tahun 2002 di Chitrakoot, Uttar Pradesh. Berawal dari koran lokal berbahasa Bundeli. But,  jangan dibayangkan koran jadul yang hanya dibaca di warung kopi ya. Lebih canggih dari itu,  Khabar Lahariya sudah punya kanal YouTube, website, plus jangkauan digital yang tembus jutaan viewers tiap bulan.

Mereka meliput isu-isu yang sering diabaikan, seperti soal korupsi lokal, kekerasan terhadap perempuan, sistem pendidikan yang amburadul, dan suara-suara warga yang jarang masuk headline. Bahkan enggak pernah didengar.

Kelahiran Khabar Lahariya bukan sekadar inisiatif media. Ia menjadi gong kreativitas di atas ketidakadilan struktural dan invisibilitas suara perempuan di pedesaan India. Media ini lahir dari keresahan, keberanian, dan mimpi akan jurnalisme yang berpihak.

Baca juga: #PerempuanRawatBumi: Kelompok Perempuan Kaba Lestari, dari Ladang Konflik ke Solusi Pangan yang Memberdayakan

Berawal dari literasi perempuan

Medio tahun 1990-an, banyak perempuan di distrik Banda, Uttar Pradesh, mengikuti program literasi seperti Mahila Samakhya. Sayangnya setelah program selesai, muncul pertanyaan, bagaimana mereka bisa terus membaca dan menulis, kalau tidak ada bahan bacaan dalam bahasa lokal mereka? Jawabannya adalah Mahila Dakiya, koran empat halaman yang menjadi cikal bakal Khabar Lahariya.

Ada tiga alasan utama kelahiran Khabar Lahariya. Pertama, sebagian besar berita lokal hanya berputar di “udghatan, durghatna, hatya” (peresmian, kecelakaan, pembunuhan). Tak ada ruang untuk cerita warga, korupsi struktural, atau kekerasan berbasis gender. Khabar Lahariya hadir untuk mengisi kekosongan itu dengan liputan yang tajam dan berpihak.

Kedua,  mereka tak ingin sekadar menampilkan perempuan sebagai “korban” atau “pelaku skandal”. Khabar Lahariya ingin mengupas bagaimana kekuasaan bekerja, siapa yang menyalahgunakannya, siapa yang tak diberi ruang, dan bagaimana perempuan bisa menjadi subjek, bukan objek.

Ketiga, ketika mereka memulai, banyak pejabat menganggap Khabar Lahariya cocok untuk program pelatihan membuat acar dan papad. Sebaliknya, Khabar Lahariya justru dibentuk untuk menantang stereotip itu. Mereka ingin perempuan Dalit, Muslim, dan suku terpinggirkan jadi reporter, editor, fotografer—bukan hanya “penerima bantuan”.

Screenshot homepage Khabar Lahariya

Perempuan Dalit: Dari Marginal ke Sentral

Di India, Dalit adalah kelompok yang sering mengalami diskriminasi kasta. Tapi para jurnalis Khabar Lahariya justru berasal dari latar belakang ini. Mereka bukan lulusan kampus elite, namun punya insting jurnalisme yang tajam dan keberanian luar biasa. Mereka naik motor ke desa-desa, membawa kamera, dan tanya langsung ke warga. Mereka nggak takut konfrontasi, bahkan dengan pejabat atau polisi. Ini bukan jurnalisme netral-netralan, ini jurnalisme yang punya sikap.

Pemimpin redaksi Khabar Lahariya adalah Kavita Devi. Ia juga merupakan salah satu pendiri media ini dan telah menjadi wajah utama dari jurnalisme akar rumput yang berani dan berpihak. Kavita Devi berasal dari komunitas Dalit dan memulai kariernya sebagai jurnalis di lingkungan yang sangat menantang, baik secara sosial maupun struktural. Ia tidak hanya menulis berita, tapi juga membangun sistem media yang memungkinkan perempuan dari desa-desa terpencil untuk menjadi reporter, produser, dan pemimpin redaksi sendiri.

Selain Kavita, Meera Devi juga memainkan peran penting sebagai Managing Editor. Bersama tim perempuan lainnya, mereka membentuk redaksi yang unik, berani, kolektif, dan sangat terhubung dengan realitas lokal.

Sejak 2016, Khabar Lahariya bertransformasi jadi media digital. Mereka bikin video, podcast, dan konten yang relatable banget buat anak muda. Tapi yang bikin beda, mereka tetap pakai bahasa lokal. Jadi warga desa bisa ngerti, bisa relate, dan bisa ikut bersuara. Ini bukan soal viral, tapi soal visibilitas. Mereka bikin yang tak terlihat jadi terlihat.

Mendapat pengakuan dunia

Khabar Lahariya telah menerima sejumlah penghargaan bergengsi yang menegaskan keberanian, integritas, dan dampaknya sebagai media alternatif yang dipimpin oleh perempuan dari komunitas marginal. Berikut beberapa penghargaan penting yang telah mereka raih:

  • UNESCO King Sejong Literacy Prize (2009), diberikan atas kontribusi mereka dalam melatih perempuan menjadi jurnalis profesional penuh waktu dan menerbitkan koran dalam bahasa lokal. Penghargaan ini menyoroti peran Khabar Lahariya dalam meningkatkan literasi dan pemberdayaan perempuan.
  • Courage in Journalism Award (2021), penghargaan ini mengakui keberanian luar biasa para jurnalis Khabar Lahariya yang melaporkan isu-isu sensitif seperti korupsi, kekerasan berbasis gender, dan diskriminasi kasta—sering kali dengan risiko pribadi yang tinggi.
  • Commonwealth Press Union Astor Award (2023), salah satu penghargaan tertua dan paling bergengsi dalam bidang kebebasan pers. Diberikan atas kontribusi mereka dalam jurnalisme investigatif, keberagaman, dan kebebasan media. Penghargaan ini diserahkan di House of Lords, Inggris, dan menjadi pengakuan internasional atas kerja luar biasa mereka.
  • Pengakuan di Ajang Oscar (2022), meskipun bukan penghargaan langsung, dokumenter Writing with Fire yang menyoroti perjalanan Khabar Lahariya dinominasikan untuk Best Documentary Feature di Academy Awards. Film ini memperkenalkan dunia pada jurnalisme berbasis komunitas yang dijalankan oleh perempuan Dalit. Penghargaan-penghargaan ini bukan sekadar trofi—mereka adalah bukti bahwa suara dari pinggiran bisa mengguncang pusat.

Baca juga: Jamu Kekinian Rasa Tradisi: Kisah Erin dan “Mise en Bounce” yang Bikin Repeat Order!

Kenapa Kamu Harus Peduli?

Karena Khabar Lahariya membuktikan, bahwa media itu bukan cuma milik yang punya privilege. Media bisa jadi alat perlawanan, alat pendidikan, dan alat transformasi. Mereka ngajarin kita bahwa jurnalisme bukan cuma soal “objektivitas”, tapi juga soal keberpihakan pada yang tertindas. Di era digital yang serba cepat, mereka ngajarin kita untuk pelan-pelan mendengar suara yang selama ini dibisukan.

Khabar Lahariya bukan cuma inspirasi buat jurnalis, tapi buat siapa pun yang pengen bikin perubahan. Mereka buktiin bahwa kamu nggak perlu jadi “orang pusat” buat punya dampak. Kamu cuma perlu keberanian, kamera, dan komitmen untuk terus bertanya: “Siapa yang belum didengar?” Kalau kamu suka jurnalisme yang berani, jujur, dan penuh hati, Khabar Lahariya adalah role model yang wajib kamu kenal.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Inisiatif Perempuan, Voices of Tomorrow

Teras

Artikel Lainnya

Antara Jilbab dan Asap Stigma terhadap Perempuan Berjilbab yang Merokok

Antara Jilbab dan Asap: Stigma terhadap Perempuan Berjilbab yang Merokok

Gerakan Perempuan Remis Seluma

Perempuan REMIS Seluma Nyatakan, Tidak Percaya Pemerintah

Pergub Poligami ASN Jakarta Kepastian Hukum atau Peneguhan Patriarki

Pergub Poligami ASN Jakarta: Kepastian Hukum atau Peneguhan Patriarki?

Leave a Comment