Ladies First: Ketika Dunia Membalik Patriarki

Ladies First adalah film komedi satir Netflix berdurasi 90 menit yang mengeksplorasi skenario gender terbalik. Tokoh utamanya, Damien Sachs (diperankan oleh Sacha Baron Cohen), adalah seorang eksekutif iklan yang sangat seksis. Setelah dipersiapkan menjadi calon CEO agensi tempatnya bekerja, ia mendapat syarat memasukkan perempuan dalam struktur kepemimpinan.

Damien menunjuk Alex Fox (Rosamund Pike) sebagai juru kampanye perempuan berpengalaman, tetapi saat pertemuan perdana Damien terus memotong pembicaraannya dan Alex pun mengundurkan diri. Ketika Damien tersandung dan terbangun kembali, ia berada di dunia alternatif matriarki di mana perempuan memegang kekuasaan penuh dan laki-laki justru menjadi pihak yang dipinggirkan. Sebagai contoh, dalam dunia terbalik tersebut “pria memiliki semua pekerjaan bergaji rendah, menjadi obyek media, dan dilecehkan setiap hari; perempuan menguasai dunia dan menjalankannya sama seperti cara pria melakukannya di dunia nyata”.

Baca juga: Patriarki yang Diam-Diam Hidup dalam Pikiran Perempuan

Gambaran Bentuk Seksisme Terbalik

Dalam satir ini, Ladies First menggambarkan dengan gamblang bentuk-bentuk seksisme terbalik. Misalnya, terdapat referensi komedi bahwa Burger Queen dan Five Gals menjual makanan cepat saji dengan model pria telanjang, sedangkan anak laki-laki diajarkan untuk merias diri agar “berguna”, sementara anak perempuan dibiarkan bebas tanpa konsekuensi. Tokoh Damien yang awalnya menikmati privilege tiba-tiba dipersekusi secara seksual dan profesional: ia menjadi bawahan yang dipandang rendah oleh atasan wanita dan pemimpin kaum wanita di kantornya, termasuk CEO Felicity Chase (Fiona Shaw) yang bahkan memaksanya mengenakan kostum fetish yang mempermalukan dirinya demi jabatan. Semua lelucon ini menegaskan premis film bahwa prasangka terhadap pria sama meluasnya dengan prasangka terhadap perempuan di dunia nyata.

Di dunia Ladies First, sejumlah masalah biasa yang selama ini dialami perempuan ditampilkan secara terbalik untuk mengilustrasikan akumulasi luka harian akibat misogini. Misalnya, pria diabaikan dan tidak dipercaya di tempat kerja, penampilan fisik mereka dinilai secara berlebihan, mereka dianggap sensitif atau emosional berlebihan, sering diinterupsi saat bicara, serta diharuskan memenuhi standar kecantikan yang tak masuk akal. Hal ini sejalan dengan definisi misogini sebagai “kebencian atau penghinaan terhadap perempuan” yang mendorong diskriminasi dan kekerasan. Sacha Baron Cohen, melalui karakternya, dipaksa merasakan perlakuan semacam itu untuk memahami betapa patriarki selama ini merugikan wanita; seperti dikatakan oleh salah satu kritikus, film ini mengajak penonton laki-laki “memahami bagaimana patriarki menyakiti perempuan dengan membayangkan bahwa dirinyalah yang disakiti”.

Sebatas Menukar Peran Gender

Namun, banyak kritik menilai Ladies First terlalu dangkal dalam menyoroti isu gender. Film ini dianggap hanya menukar peran gender tanpa memberikan kedalaman baru. Sebagaimana dikritik oleh Roger Ebert, berbagai adegan di dunia matriarkal tersebut hanyalah “reversi sederhana” dari stereotip patriarki lama, tanpa kreativitas berarti. Dari sudut pandang feminis, anggapan bahwa “jika perempuan berkuasa, mereka akan sama buruknya dengan laki-laki” tidak selalu akurat. Penonton justru mendapat kesan bahwa perempuan dalam film berperilaku agresif, haus akan kuasa, dan terus mengobjektifikasi pria, persis seperti stereotip maskulinitas toksik yang selama ini dikritik oleh feminisme. The Guardian bahkan menggarisbawahi bahwa film ini menyampaikan pesan yang sama berulang-ulang secara berlebihan (“hammering home the same point ad nauseam”), menggambarkan kedua jenis kelamin secara kartun yang membuat film terasa monoton dan akhirnya “sama sekali tidak berguna”.

Padahal, inti permasalahan gender tidak hanya soal siapa yang berada di atas atau di bawah, melainkan bagaimana sistem sosial membentuk relasi kekuasaan tersebut. Patriarki didefinisikan sebagai sistem sosial yang historisnya menempatkan pria dalam posisi dominan. Feminisme sesuai dengan tujuan awalnya untuk mengubah struktur ini demi mencapai kesetaraan. Secara sederhana, “feminisme adalah gerakan yang bertujuan menetapkan kesetaraan sosial, politik, ekonomi, dan pribadi antara laki-laki dan perempuan”. Tujuannya bukan menukar satu kekuasaan dengan kekuasaan lain, melainkan membongkar logika dominasi itu sendiri. Seperti ditegaskan oleh para pemikir feminis, gerakan ini memfokuskan pada pembongkaran struktur patriarki, bukan sekadar menggeser siapa yang berkuasa. Ladies First mungkin mengilustrasikan pengalaman sexist dengan cara terbalik, namun tetap penting diingat bahwa solusi sejati menuntut perubahan sistemik, bukan hanya pertukaran peran semata.

Baca juga: Benarkah Patriarki Bisa Lindungi Perempuan? Mengenal Toxic Feminity

Contoh pengalaman sexism sehari-hari yang dieksploitasi film ini antara lain:

  • Objektifikasi fisik: pria diperlakukan sebagai obyek seksual komersial (misalnya iklan Burger Queen dan Five Gals dengan model pria telanjang).
  • Tekanan penampilan: laki-laki didorong untuk mempercantik diri atau memenuhi standar kecantikan yang tidak realistis.
  • Diskriminasi di lingkungan kerja: atasan wanita memanfaatkan kuasanya untuk merendahkan pria (misalnya, skenario promosi Damien dengan syarat mengenakan kostum fetish).

Ladies First memang menyajikan satire yang provokatif dan berupaya menyoroti misogini melalui pembalikan peran gender. Namun, sejumlah kritikus menilai film ini tidak cukup mendalam dalam membongkar akar permasalahan patriarki. Film ini lebih terasa seperti simulasi pembalikan patriarki daripada penjabaran kompleksitas struktur kekuasaan gender. Sementara feminisme sebetulnya berupaya menghapus hierarki gender dan mencapai kesetaraan, Ladies First hanya menghadirkan pertukaran pelaku yang pada akhirnya memperlihatkan bahwa masalah sesungguhnya terletak pada sistemnya, bukan sekadar pada siapa kuasa dipegang.

Referensi:

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Teras

Artikel Lainnya

Fantasi Sedarah, Bentuk Kekerasan dalam Rumah Tangga yang Dinormalisasi

Fantasi Sedarah, Bentuk Kekerasan dalam Rumah Tangga yang Dinormalisasi

Don't Give Up Girls

Penolakan Tidak Berarti Gagal, Don’t Give Up

Perempuan dan Akses Pendidikan yang Setara

Menanti Akses Pendidikan yang Setara

Leave a Comment