Bincangperempuan.com- Komunitas Film Fattah Creative menggelar program “Layar Inspirasi Perempuan” di LAPAS Perempuan Kelas IIB Bengkulu dalam rangka memperingati Hari Kartini 2026. Kegiatan yang berlangsung pada Selasa (21/04/2026) itu menghadirkan pemutaran film dan diskusi terbuka yang diikuti sekitar 150 peserta, terdiri dari warga binaan perempuan, keluarga penghuni lapas, mahasiswa, pegiat seni, filmmaker, hingga petugas lapas.
Program ini menghadirkan empat film karya sineas Indonesia, yakni Pamit Ronda karya Erlina Rakhmawati, Dengarlah Nyanyian Ping Pong karya Andrew Kose, Terang Bulan karya Guruh Nusantara, dan Hari Kartini karya Dinda Lestari Soekarno Putri. Film-film tersebut dipilih untuk membuka ruang refleksi mengenai ketangguhan perempuan, pendidikan, kesetaraan, hingga perjuangan menghadapi keterbatasan.
Penyelenggara kegiatan dari Fattah Creative, Eileena Julinda Lyana, mengatakan program ini tidak sekadar menjadi agenda pemutaran film, tetapi juga ruang aman bagi perempuan untuk berbagi pengalaman dan membangun harapan baru.
“Melalui film dan diskusi, kami ingin menghadirkan ruang refleksi bahwa perempuan, termasuk warga binaan, tetap memiliki hak untuk bermimpi, belajar, dan bangkit. Seni menjadi medium yang sangat kuat untuk memulihkan rasa percaya diri dan membuka perspektif baru,” ujarnya.

Eileena menilai film memiliki kekuatan untuk menyampaikan pengalaman perempuan secara lebih dekat dan emosional.
“Film mampu menjadi jembatan empati. Ketika perempuan melihat cerita yang dekat dengan pengalaman hidup mereka, muncul kesadaran bahwa mereka tidak sendiri menghadapi berbagai persoalan. Dari sana tumbuh keberanian untuk melihat masa depan dengan lebih baik,” imbuhnya.
Diketahui, Eileena merupakan seniman dan film programmer asal Bengkulu yang kini berbasis di Jawa Tengah. Ia merupakan lulusan Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta (IKJ).
Selain Eileena, diskusi juga menghadirkan Direktur Yayasan PUPA Bengkulu, Susi Handayani, yang menyoroti pentingnya pendekatan kemanusiaan dalam melihat persoalan perempuan, termasuk perempuan yang berhadapan dengan hukum.
Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan. Salah seorang peserta berinisial N (43) mengaku tersentuh dengan pesan yang disampaikan dalam film dan diskusi.
“Filmnya membantu kami mengenali bahwa perempuan di manapun kuat dan mampu menggapai apa yang diimpikan walau banyak halangan,” ujarnya.
Peserta lain, S (39), mengatakan kegiatan tersebut menjadi ruang untuk berbagi pengalaman tanpa rasa takut dihakimi.
“Kalau ada acara begini lagi, kami mau. Suasananya menyenangkan dan kami bisa mengeluarkan uneg-uneg,” katanya.
Eileena menyebutkan kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen komunitas dalam membangun ekosistem seni dan perfilman yang inklusif sekaligus berdampak sosial di Bengkulu.
