Bincangperempuan.com- Di tengah maraknya tren rumah minimalis estetik ala media sosial, yang terlintas dalam kepala kita adalah serba putih, rapi, bersih, dan nyaris tanpa dekorasi. Mindful Home: Hidup Berkesadaran Dimulai dari Rumah justru menawarkan sudut pandang yang berbeda. Buku ini tidak mengajarkan cara membuat rumah terlihat estetik atau minimalis ala Instagram, melainkan mengajak pembaca membangun relasi yang lebih sadar dengan ruang hidupnya.
Ketimbang menawarkan resep rumah ideal versi tren, buku ini mengajak pembaca bergerak lebih pelan. Ditulis oleh Elda Franzia dan diterbitkan Alitra pada 2025, Mindful Home memadukan praktik mindfulness dengan pengalaman sehari-hari di rumah.
Bagi pembaca yang familiar dengan buku The Life-Changing Magic of Tidying Up karya Marie Kondo atau tren decluttering yang viral di media sosial, Mindful Home mungkin akan terasa akrab di awal. Namun, Elda Franzia membawa pembaca melangkah lebih jauh. Minimalisme dalam buku ini bukan tujuan akhir, melainkan alat. Yang menjadi pusat perhatian bukan rumahnya, melainkan manusianya.
Baca juga: Satu Dekade Mengeja Damai: Membaca Puisi Ajeng RestiyaniÂ
MindfulHome: Mulai dari Diri Sendiri
Sejak awal, Elda menegaskan bahwa rumah yang mindful tidak harus mengikuti standar estetika tertentu. Minimalisme bukan berarti semua rumah harus kosong, putih, dan seragam. Rumah yang mindful justru sangat personal, dibentuk oleh kesadaran penghuninya terhadap diri sendiri, kebiasaan, dan kebutuhan hidup sehari-hari. Dengan kata lain, rumah bukan panggung tren, melainkan ruang untuk hadir sepenuhnya sebagai diri sendiri.
Gagasan utama buku ini berangkat dari konsep mindfulness yautu kesadaran penuh terhadap apa yang sedang dilakukan, dirasakan, dan dipikirkan pada saat ini. Menurut Elda, banyak dari kita hidup dalam mode autopilot. Kita mandi sambil memikirkan pekerjaan, makan sambil menggulir linimasa TikTok, bahkan membaca sambil memikirkan apa yang akan dikerjakan untuk agenda besok.
Tubuh ada di satu tempat, tapi pikiran ke mana-mana. Kondisi inilah yang pelan-pelan membuat kita lelah, resah, dan merasa tidak pernah benar-benar di rumah, bahkan ketika sedang berada di rumah sendiri.
Melalui Mindful Home, pembaca diajak kembali ke hal-hal paling sederhana: menyadari napas, menyadari gerak tubuh, dan menyadari aktivitas harian yang sering dianggap sepele. Rumah, dalam konteks ini, menjadi medium latihan kesadaran. Aktivitas domestik seperti mandi, merapikan barang, atau membersihkan ruangan tidak lagi diposisikan sebagai rutinitas membosankan, tetapi sebagai momen untuk berhenti sejenak dan hadir sepenuhnya.
Artinya, rumah tidak dipahami sebagai bangunan atau estetika semata, melainkan sebagai ruang relasi antara tubuh, pikiran, dan keseharian penghuninya.
Baca juga: Rahasia di Balik Senyuman: Ketika Keluarga dan Kuasa Menentukan Hidup Perempuan
Decluttering, Perlukah Membuang Banyak Barang?
Salah satu poin penting dalam buku ini adalah refleksi tentang barang. Elda tidak serta-merta menyuruh pembaca membuang banyak barang demi rumah yang rapi. Tetapi justru mengajak pembaca bertanya, barang mana yang benar-benar dibutuhkan, mana yang sekadar disimpan karena kebiasaan, rasa bersalah, atau dorongan konsumtif. Menumpuk barang, menurut Elda, sering kali bukan soal kebutuhan, melainkan ketidaksadaran kita dalam membeli, menyimpan, dan menimbun tanpa pernah memberi jeda alasan di baliknya.
Mengurangi barang dalam Mindful Home bukan soal mengikuti estetika minimalis, melainkan menciptakan ruang. Ruang untuk bergerak, ruang untuk bernapas, dan ruang untuk tenang. Ketika barang terlalu banyak, rumah mudah terasa sesak, berantakan, dan dapat memicu kegelisahan. Sebaliknya, ketika barang cukup dan terpilih, rumah memberi rasa lapang secara fisik maupun mental.
Selain itu, Elda juga membahas isu yang sering jadi dilema dalam proses beres-beres yaitu barang kenangan. Bagi banyak orang, barang kenangan adalah yang paling sulit dilepaskan karena dianggap mewakili masa lalu, hubungan, atau identitas diri.
Namun, Elda menawarkan sudut pandang yang lebih membumi. Kenangan, menurutnya, tidak terletak pada benda itu sendiri, melainkan pada ingatan kita. Ketika sebuah barang rusak atau sudah tidak relevan, yang hilang bukan kenangannya. Bahkan, di era digital, kenangan bisa disimpan dalam bentuk foto atau arsip digital tanpa harus memenuhi ruang fisik rumah.
Sepanjang buku, Elda konsisten mengingatkan bahwa nilai diri seseorang tidak ditentukan oleh jumlah atau jenis barang yang dimiliki. Pesan ini terasa penting di tengah budaya konsumsi yang kerap mengaitkan kebahagiaan dan harga diri dengan kepemilikan. Mindful Home justru mengajak pembaca berhenti membandingkan diri dengan standar luar dan mulai mendengarkan kebutuhan internal.
Dari sisi gaya penulisan, buku ini terasa reflektif dan mengalir. Elda tidak menggurui, melainkan mengajak berdialog. Banyak bagian buku yang terasa seperti percakapan pelan mengajak pembaca berhenti sejenak, merenung, lalu melanjutkan dengan kesadaran baru. Tips dan metode yang ditawarkan pun praktis, singkat, dan realistis, tanpa janji perubahan instan.

Membaca Ulang Makna Rumah
Pada akhirnya, Mindful Home mengingatkan bahwa rumah bukan sekadar tempat pulang setelah lelah, melainkan ruang untuk memulihkan diri. Rumah menjadi ruang aman untuk berhenti sejenak, mengenali kondisi diri, dan kembali menyadari apa yang benar-benar dibutuhkan.
Rumah, dalam buku ini, dipahami sebagai tempat tinggal bagi tubuh dan pikiran. Di sanalah kita belajar hadir melalui rutinitas sederhana, ruang yang cukup, serta hubungan yang lebih sadar dengan barang dan keseharian. Ketika rumah diperlakukan sebagai ruang tinggal, bukan sekadar latar hidup, ia memberi kesempatan untuk bernapas, menata ulang energi, dan menjaga kewarasan.
Mindful Home mengajak kita melihat rumah bukan sebagai tujuan akhir, melainkan titik awal—tempat kita menenangkan diri, memulihkan kesadaran, lalu kembali melangkah menghadapi dunia dengan lebih utuh.
