Satu Dekade Mengeja Damai: Membaca Puisi Ajeng Restiyani 

Ais Fahira

Buku

Bincangperempuan.com- Sayembara Mengeja Damai adalah kumpulan puisi karya Ajeng Restiyani, yang diterbitkan oleh Penerbit Agen Literasi Nusantara pada 2025. Ajeng menulis puisinya sejak 2015 hingga 2025, dan keseluruhan rentang waktu itu tidak ia gunakan untuk membangun gaya atau perubahan suara lirih yang drastis. Sebaliknya, nadanya justru konsisten, satu atmosfer, satu cara memandang dunia. Dan justru dalam konsistensi itulah pembaca bisa melihat pergulatannya, sebab yang berubah bukan bahasanya, tapi cara ia merasakan hidup.

Buku ini dibagi menjadi tiga bab: Hari Kemarin, Menjelang Hari Ini, dan Menuju Esok Hari. Namun sebenarnya, ketiganya tidak dipisahkan oleh garis waktu yang kaku. Mereka lebih seperti ruang-ruang kecil tempat Ajeng duduk, menghela napas, dan menuliskan apa yang tersisa setelah hari-hari yang berat ia lewati. Damai yang ia eja bukan damai yang sudah ditemukan, melainkan damai yang masih dicari sambil terseok-seok.

Tema-tema yang Mengikat Satu Dekade

Tema-tema puisinya berputar pada keseharian yang akrab bagi generasi yang tumbuh bersama kecemasan, insomnia yang datang berulang, kantuk yang baru tiba ketika adzan Subuh sudah berkumandang, pikiran yang penuh, relasi toksik yang susah dilepas, rasa sunyi yang terus menempel, sampai dendam-dendam kecil yang kadang kita simpan karena tidak tahu harus melampiaskannya ke siapa.

Meski mayoritas isinya berupa pergulatan batin, Ajeng juga menyelipkan momen hangat melalui puisi untuk sahabat, pasangan, hingga hobi yang membuatnya bertahan seperti drama Korea, musik K-pop, aktivitas membaca dan hal-hal kecil yang membuat hidup tidak selalu buram. Bagian-bagian hangat ini menjadi titik balik yang menyegarkan, sebab memecah atmosfer melankolis dan memberi ruang bagi emosi yang lebih ringan, dan polos.

Baca juga: Rahasia di Balik Senyuman: Ketika Keluarga dan Kuasa Menentukan Hidup Perempuan

Ciri Khas: “Kecemasan Mewah” dan Bahasa yang Tenang

Satu hal yang paling menonjol adalah penggunaan frasa “kecemasan mewah” yang muncul di beberapa puisi. Ajeng seolah menjadikannya mantra, cara untuk mengakui bahwa kecemasannya bukan sekadar gangguan, tetapi pengalaman emosional yang rumit, berlapis, dan tak mudah ditinggalkan.

Bahasanya cenderung lembut, aman, dan personal. Di titik inilah puisi yang terbentang terasa sangat autentik: ia tidak berusaha menjadi puisi estetik yang rumit; melainkan hanya puisi yang jujur apa adanya.

Karena seluruh perjalanan emosional ini berasal dari satu kepala, satu hati, satu dekade hidup, wajar bila suaranya terasa seragam. Justru di situ kejujuran itu terlihat kadang kita hanya terus mengulang luka yang sama, pertanyaan yang sama, dan upaya untuk damai yang belum pernah benar-benar selesai.

Sayembara Mengeja Damai” karya Ajeng Restiyani, diabadikan di tengah hijau yang tenang—seperti puisinya, pelan-pelan mengeja pulih. (foto: Ais Fahira/Bincang Perempuan)

Kekuatan dan Batasannya

Sebagian besar puisinya berbentuk puisi prosa. Tapi di dalam “Seri Memorabilia”, lebih memberikan napas berbeda karena menghadirkan alur kecil yang lebih runtut dan suasana yang lebih padat. Puisi ini terasa unik karena cara tuturnya tidak hanya melalui fragmen-fragmen pendek yang mengandalkan suasana batin. 

Selain itu, pilihan diksi yang banyak berkisar pada tubuh dan alam membuat teksturnya cenderung homogen. Ini memberi kesan bahwa Ajeng bergerak di jalur yang aman, konsisten, tetapi kurang eksploratif. Sementara itu, pendekatan yang sangat personal menghadirkan keintiman yang kuat, tetapi pada saat yang sama membatasi cakupan yang dapat menjangkau lapisan sosial atau kultural lain. 

Meski demikian, batasan-batasan ini tidak mengurangi nilai buku sebagai arsip perjalanan personal. Justru melalui keterbatasan tersebut, pembaca dapat menangkap komitmen Ajeng pada tema yang ia pilih yaitu upaya konsisten untuk mengeja damai melalui pengakuan, pengulangan, dan kejujuran kepada diri sendiri. Kritik ini bukan untuk mengurangi nilainya, melainkan untuk memahami kecenderungan yang lahir dari pilihan sadar dan barangkali juga proses hidup penulisnya.

Baca juga: Membongkar Romantisasi Keibuan dari Anatomi Perasaan Ibu

Sayembara Mengeja Damai

Pada akhirnya, Sayembara Mengeja Damai bukanlah kisah seseorang yang sudah berhasil berdamai dengan hidup. Ini adalah perjalanan seseorang yang masih mencari cara untuk pulih—terjatuh, bangkit, lalu mencoba lagi. Baris-baris tentang menyiram benih di tanah retak, membiarkan bunga liar tumbuh, atau berjalan jauh mencari tanah baru menunjukkan bahwa setiap orang membawa dukanya masing-masing.

Buku ini akan paling mengena bagi mereka yang sedang berhadapan dengan diri sendiri. Mereka yang merasa perjalanan hidupnya penuh lekuk, penuh pertanyaan yang kembali lagi, penuh kecemasan yang kadang muncul tanpa alasan jelas. Mereka yang sedang berusaha keluar dari lingkaran insomnia, relasi yang melelahkan, atau perasaan sunyi yang menempel seperti bayangan bakal menemukan gema yang akrab di halaman-halamannya.

Tanpa harus menuntut variasi bentuk atau dinamika yang meledak-ledak, buku ini memberi ruang bagi pembaca yang sedang mencari suara yang jujur tentang pergulatan sehari-hari seperti rasa lelah yang berulang, upaya untuk pulih yang pelan, dan kegigihan untuk tetap melanjutkan hidup meski semuanya terasa berat.

Seperti tersirat dalam puisinya “di antara kita yang duka: diam-diam mengeja damai, mencari celah untuk pulih”—kita semua sebenarnya sedang melakukan hal yang sama. Bahwa kita tak selalu harus lantang, proses pulih bisa berjalan pelan, hampir tanpa hingar-bingar, tapi tetap kuat. Kita mungkin tidak membuat gebrakan besar, tapi setiap tantangan yang kita rasakan, setiap luka yang kita ulang, setiap upaya untuk damai kita hadapi. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Teras

Artikel Lainnya

Waktu Aku Dilayoff Ketika Perempuan Kehilangan Pekerjaan

Waktu Aku Dilayoff: Ketika Perempuan Kehilangan Pekerjaan

Mempertanyakan arti normal melalui Gadis Minimarket

Mempertanyakan Arti Normal dalam Gadis Minimarket

Membaca Realitas Melalui “Narasi Disabilitas dan Ketidaksetaraan”

Membaca Realitas Lewat “Narasi Disabilitas dan Ketidaksetaraan” 

Leave a Comment