Rahasia di Balik Senyuman: Ketika Keluarga dan Kuasa Menentukan Hidup Perempuan

Ais Fahira

News, Buku

Bincangperempuan.com- Di tengah banyaknya penerbit yang berlomba-lomba menerjemahkan karya dari Jepang atau Korea—dua negara dengan pasar pembaca yang luas di sini—kehadiran Rahasia di Balik Senyuman, terjemahan dari The Age of Smiling Secrets karya Aneeta Sundararaj, terasa seperti angin segar.

Novel ini diterbitkan oleh Penerbit Agen Literasi Nusantara pada tahun 2025 dan dialihbahasakan dengan apik oleh Aulia Meidiska. Rahasia di Balik Senyuman tak sekadar bercerita tentang drama keluarga, tapi juga potret sosial tentang Malaysia dan masyarakat India Tamil yang mungkin masih jarang kita baca di ruang sastra Indonesia.

Dunia Kamini: Di Balik Keluarga yang Tampak Sempurna

Novel ini berlatar di Malaysia, membentang dari 1980-an hingga awal 2000-an, mengikuti kehidupan masyarakat India Tamil yang telah menetap di sana sejak masa penjajahan Inggris. Dari halaman-halaman awal, Sundararaj memperlihatkan bagaimana jejak kolonial masih berbekas kuat dalam relasi sosial warganya terutama dalam cara mereka memandang diri, memandang etnis lain, dan bahkan dalam cara mereka mencintai.

Kisahnya berpusat pada Kamini, anak perempuan dari keluarga terpandang India Tamil yang tinggal di Sungai Petani, sebuah kota kecil dekat perkebunan karet. Nenek moyangnya datang ke tanah itu sejak masa penjajahan Inggris, ketika ribuan orang India dibawa untuk bekerja di perkebunan. 

Kini, keluarga Kamini dikenal sebagai keluarga terhormat dan terpandang; status sosial mereka tinggi, dan Kamini dijodohkan dengan seorang dokter yang dianggap bisa menjaga kehormatan keluarga. Sekilas, kehidupan mereka tampak mapan—rumah besar, nama baik, dan kehidupan sosial yang rapi di mata masyarakat. 

Namun di balik itu tersimpan lapisan-lapisan konflik yang pelik mulai dari pernikahan yang diatur, kekerasan domestik, serta pergulatan antara keinginan pribadi dan tuntutan sosial. Penulis membuka cerita lewat suara narator yang unik, semacam arwah serba tahu yang seolah mengetahui segalanya, tapi tetap menyisakan ruang rahasia bagi pembaca untuk menafsirkan sendiri.

Baca juga: Mastektomi dan Tubuh di Persimpangan Gender dan Kesehatan

Cermin Sosial dari Negeri Tetangga

Selain konflik keluarga, novel ini juga menunjukkan bagaimana masyarakat Malaysia di era pascakolonial masih tersekat oleh identitas etnis. Terdapat etnis Melayu, India, dan Tionghoa di Malaysia yang seharusnya harmonis dan saling bantu. Tetapi dalam salah satu bagian, salah satu tokoh menyinggung perasaan “tak diakui” yang dialami masyarakat India Tamil. 

Meski mereka telah lahir dan hidup di tanah Malaysia selama beberapa generasi, tetap ada jarak sosial yang tak terlihat. Mereka bukan sepenuhnya “orang luar”, tapi juga tidak sepenuhnya dianggap “bagian dari” orang Malaysia.

Sebagai pembaca Indonesia, bagian ini terasa dekat. Di Indonesia, jejak kolonialisme Belanda juga menanamkan hal serupa seperti segmentasi sosial berdasarkan ras, etnis, dan status ekonomi. Politik divide et impera membentuk warisan yang panjang sampai sekarang, kita masih bisa merasakan sisa-sisanya dalam cara masyarakat memperlakukan “yang dianggap pendatang”. Bedanya, di Malaysia, pembelahan itu juga dipelihara lewat sistem hukum dan politik yang juga diwarnai oleh identitas agama.

Rahasia di Balik Senyuman, terjemahan dari The Age of Smiling Secrets karya Aneeta Sundararaj. (foto: Ais Fahira/Bincang Perempuan)

Ketika Hukum dan Agama Tak Mampu Melindungi

Dalam novel ini, suami Kamini berpindah agama dan mengubah keyakinan anak tanpa sepengetahuan istrinya—seolah iman bisa digeser dengan tanda tangan. 

Di Malaysia, sistem hukum ganda membuat syariah hanya berlaku bagi Muslim, sementara non-Muslim tunduk pada hukum sipil. Ketika salah satu pihak dalam keluarga berpindah agama, batas antara keduanya menjadi kabur dan kerap menimbulkan konflik, yang seringkali non muslim menjadi pihak yang dirugikan. 

Situasi itu terasa tidak jauh dari yang terjadi di Indonesia, di mana agama kerap dijadikan legitimasi untuk melanggengkan kekuasaan—baik di ruang domestik maupun politik negara. Dalam pusaran ini, perempuan sering memikul beban paling berat. Kamini, seorang perempuan Hindu di Malaysia, memperlihatkan bagaimana menjadi perempuan sekaligus bagian dari kelompok minoritas berarti menanggung penindasan berlapis.

Perempuan, Luka, dan Warisan Patriarki

Namun di sisi lain, perkembangan karakter Kamini menjadi salah satu kekuatan novel ini. Di awal, ia digambarkan sebagai perempuan patuh yang selalu berkata “ya” pada keputusan orang lain—baik pada perjodohan yang sebenarnya tak ia inginkan, maupun pada perilaku kasar suaminya. 

Setiap kali disakiti, ia justru menyalahkan diri sendiri “apa salahku?” Pertanyaan itu terus berulang, seolah menjadi gema dari pendidikan yang menanamkan bahwa perempuan harus sabar, harus baik, harus bisa menerima. Toleransi terhadap kesalahan perempuan begitu kecil, bahkan ketika yang bersalah jelas bukan mereka.

Tetapi Kamini tidak berhenti di titik itu. Ia perlahan tumbuh, berusaha melawan, dan akhirnya berani bangkit. Ada luka yang tidak bisa hilang, tapi juga kekuatan yang lahir dari luka itu. 

Selain Kamini, ada Nandini—anak perempuan Kamini—yang menjadi simbol harapan generasi baru. Kamini berharap Nandini bisa belajar dari masa lalu ibunya agar bisa memilih hidup sendiri dengan lebih banyak kemungkinan. 

Ada juga Tante Papa, sosok yang membuat pembaca gemas dan marah, tetapi sekaligus kasihan. Ia menjadi perempuan yang kejam karena iri, tetapi rasa irinya tumbuh dari trauma ditinggalkan suami tanpa harta, dan tanpa daya. 

Melalui tiga generasi perempuan ini, Sundararaj menunjukkan bagaimana patriarki dan luka sosial diwariskan, tapi juga bagaimana perempuan berusaha memutus rantainya, sedikit demi sedikit.

Baca juga: Membongkar Romantisasi Keibuan dari Anatomi Perasaan Ibu

Membaca Malaysia dari Balik Terjemahan

Membaca Rahasia di Balik Senyuman terasa seperti menelusuri ruang yang asing sekaligus akrab. Asing karena berlatar di Malaysia dengan konteks sosial, hukum, dan budaya India Tamil yang jarang kita temui di karya sastra Indonesia; tetapi akrab karena persoalan yang dihadirkan sangat dekat mulai dari warisan kolonial yang membelah masyarakat, agama yang dijadikan alat kontrol, dan perempuan yang terus diminta berkorban atas nama keharmonisan.

Terjemahan Aulia Meidiska yang mengalir membuat pembaca betah mengikuti cerita, sekaligus mengenal banyak kosakata baru tentang budaya India Tamil, adat, dan filosofi Hindu—termasuk simbol ular yang dipercaya membawa keberuntungan. Detail-detail ini memperkaya pengalaman membaca.

Selain itu sensasi yang diberikan dalam membaca seperti menonton drama keluarga yang selalu diguncang konflik. Tetapi justru ini menjadi kekuatan tersendiri, karena isu sosial dan hukum berhasil diselipkan dalam dinamika keluarga. Yang pada akhirnya membuka pandangan baru tentang kehidupan perempuan minoritas di Malaysia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Teras

Artikel Lainnya

Hari Pencegahan Bunuh Diri Mengapa Empati Saja Tidak Cukup

Hari Pencegahan Bunuh Diri: Mengapa Empati Saja Tidak Cukup?

KPU Harus Koreksi 267 DCT Pemilu Anggota DPR Tahun 2024

KPU Harus Koreksi 267 DCT Pemilu Anggota DPR Tahun 2024

Peyek Daun Kopi, Penguatan Ekonomi Di Tengah Perubahan Iklim

Peyek Daun Kopi, Inisiatif Ekonomi di Tengah Perubahan Iklim  

Leave a Comment