Male Loneliness Epidemic: Luka Laki-Laki dalam Sistem Patriarki

Ais Fahira

News, Hubungan

Male Loneliness Epidemic Luka Laki-Laki dalam Sistem Patriarki

Bincangperempuan.com– Pernah dengar istilah male loneliness epidemic? Istilah ini merujuk pada fenomena meningkatnya kesepian yang dialami laki-laki, terutama di era modern. Bukan hanya sekadar rasa sepi, tetapi kesepian yang berkepanjangan dan berdampak serius pada kesehatan mental dan fisik mereka.

Dalam konteks relasi romantis, laki-laki cenderung lebih sering melajang dan lebih sedikit memiliki relasi seksual dibandingkan perempuan. Survei Pew Research Center tahun 2022 menemukan bahwa enam dari sepuluh laki-laki di bawah usia 30 tahun berstatus lajang—angka ini hampir dua kali lipat dibandingkan perempuan di usia yang sama. Studi Equimundo dilansir dari Wester Oregon juga menunjukkan bahwa satu dari lima laki-laki tidak sedang mencari pasangan atau kesulitan menemukan pasangan seksual.

Di balik angka-angka ini, ada dampak yang tidak bisa diabaikan. Kesepian bukan hanya membuat seseorang merasa terasing, tapi juga berdampak langsung pada tubuh. Risiko kematian dini, penyakit kardiovaskular, kecemasan, demensia, depresi, bahkan stroke telah dikaitkan dengan kesepian kronis. Dalam survei Equimundo, 40% laki-laki memenuhi indikator gejala depresi, dan 44% mengaku memiliki pikiran untuk bunuh diri dalam dua minggu terakhir.

Lebih mengkhawatirkan lagi, laki-laki hampir empat kali lebih mungkin melakukan bunuh diri dibandingkan perempuan. Mereka menyumbang hampir 80% dari total angka bunuh diri, meskipun hanya mewakili setengah populasi. Di Amerika Serikat, angka bunuh diri laki-laki bahkanmencapai titik tertinggi pada tahun 2022, yaitu 14,3 per 100.000 laki-laki.

Male Loneliness Epidemic Bukan Salah Perempuan Tapi Patriarki

Seiring populernya istilah male loneliness epidemic, muncul pula wacana yang menyudutkan perempuan. Banyak narasi di media sosial mau pun di luar sana yang menyebutkan bahwa “perempuan sekarang terlalu mandiri”, “perempuan terlalu pilih-pilih”, atau bahkan “feminis menghancurkan tatanan relasi tradisional”. Semua itu seakan-akan menjadikan perempuan sebagai biang kerok dari meningkatnya kesepian laki-laki.

Padahal ini bukan soal perempuan berhenti mencintai laki-laki, tapi soal laki-laki yang tidak diajarkan cara mencintai—terutama mencintai diri sendiri dan sesama laki-laki dalam relasi yang sehat.

Kesepian laki-laki bukanlah akibat dari emansipasi perempuan, melainkan dari sistem yang sejak awal menutup akses laki-laki terhadap dunia emosional mereka sendiri. Patriarki menciptakan laki-laki tangguh, bukan laki-laki utuh.

Baca juga: Kasus Sister Hong dan Masifnya Penyebaran Konten Intim Non Konsensual

Patriarki Melukai Laki-Laki

Salah satu penyebab utama kesepian ini adalah minimnya kedekatan emosional dalam kehidupan laki-laki. Banyak laki-laki diajarkan untuk tidak menangis, tidak curhat, dan tidak terlalu banyak menunjukkan emosi. Mereka dibesarkan dalam budaya maskulinitas toksik, di mana harga diri diukur dari produktivitas, prestasi, dan daya saing. Sehingga di banyak pertemanan laki-laki jarang jadi tempat curhat emosional.

Akibatnya banyak laki-laki menggantungkan kebutuhan emosional mereka hanya kepada pasangan romantis. Maka ketika relasi itu berakhir, tidak ada tempat lain untuk berpulang. Tidak heran jika perempuan sering merasa kelelahan dalam relasi karena mereka diposisikan sebagai satu-satunya tempat berlindung, sekaligus tempat penyembuhan luka-luka emosional yang tidak pernah bicarakan sejak awal.

Ketika hubungan gagal, bukan hanya perempuan yang harus menanggung beban emosional, tetapi laki-laki juga kerap tidak punya siapa-siapa—karena sistem yang mereka hidupi tak pernah memberi izin untuk membangun jaringan emosional yang sehat.

Patriarki Membentuk Kesepian Sistemik

Patriarki tidak hanya merugikan perempuan, tapi juga menciptakan standar maskulinitas yang menyakitkan bagi laki-laki. Mereka tidak boleh lemah, tidak boleh merasa takut, dan tidak boleh butuh. Kebutuhan akan kedekatan dan kasih sayang dianggap sebagai kelemahan. Maka tidak heran jika mereka tumbuh kesepian, karena tidak pernah diajarkan cara menjalin kedekatan emosional yang sehat, baik dengan sesama laki-laki, keluarga, maupun pasangan.

Sementara perempuan, mereka dikonstruksikan sebagai makhluk emosional. Sehingga diberi legitimasi lebih untuk merasa, dan bersandar satu sama lain, serta lebih mungkin memperoleh dukungan sosial dan emosional. Perempuan bisa saling menangis, saling menguatkan, saling hadir. Laki-laki belum tentu, mereka diajarkan untuk menyimpan semuanya sendiri.

Baca juga: Dibalik Layar Slot: Kisah Mereka yang Terseret Diam-diam

Kesepian juga Berdampak terhadap Peran Ayah

Kesepian pada laki-laki tidak berhenti di fase lajang atau sebelum menikah. Bahkan setelah menikah dan punya anak, laki-laki yang tidak diajari mengakses emosinya akan tetap terjebak dalam kesendirian psikologis. Ia tumbuh jadi ayah yang fisiknya hadir, tapi jiwanya kosong. Dingin, jauh, atau sepenuhnya absen secara emosional. Ini bisa menciptakan pola antargenerasi karena kesepian bisa diwariskan.

Seorang ayah yang tak tahu cara mengekspresikan kasih sayang akan membesarkan anak laki-laki yang tumbuh sama kaku dan tertutupnya. Atau anak perempuan yang tumbuh tanpa merasakan figur ayah yang benar-benar hadir dan mendengarkan. Anak-anak ini belajar bahwa kasih sayang harus ditebak, bahwa kehangatan dari ayah adalah sesuatu yang langka, bahkan tabu.

Richard Reeves, penulis buku Of Boys and Men, menyebut bahwa “hampir tidak ada sistem pendukung bagi para ayah.” Tak hanya support emosional, tapi juga support kelembagaan, kultural, dan sosial. Masyarakat kita tidak memberi ruang yang aman bagi seorang ayah untuk curhat, minta bantuan, atau sekadar mengaku lelah. Banyak ayah baru tidak punya mentor, sahabat, atau figur panutan yang bisa dijadikan tempat bertanya dan berbagi. Padahal, peran ayah bukan cuma soal memberi nafkah—tapi tentang menjadi manusia dewasa yang hadir secara utuh di kehidupan anak-anaknya.

Sayangnya, budaya populer ikut menegaskan jarak itu. Dalam film dan acara TV, ayah sering digambarkan sebagai sosok bodoh, tidak berguna, bahkan jadi beban dalam pengasuhan. Sosok yang harus dikendalikan oleh ibu agar tidak membuat kekacauan. Alih-alih mendorong keterlibatan laki-laki dalam pengasuhan, kita malah menertawakan mereka saat mencoba hadir. 

Akibatnya banyak laki-laki tumbuh dalam ilusi kuat—tapi rapuh. Bahkan setelah menikah dan punya anak, mereka tetap merasa sendirian. Dalam wawancara dengan CNN, Reeves mengatakan banyak ayah datang padanya dalam keadaan bingung, kehilangan arah, dan merasa terisolasi.

Rasa terisolasi seperti ini bisa saja berbahaya. Penelitian menunjukkan bahwa orang yang mengalami isolasi sosial punya risiko 32% lebih tinggi untuk mati lebih cepat dibanding mereka yang punya koneksi sosial. Reeves bahkan mencatat bahwa salah satu kata paling umum dalam surat bunuh diri laki-laki adalah “worthless” (tidak berharga).

Artinya untuk mengatasi hal tersebut laki-laki juga butuy ruang untuk menunjukkan luka, bukan sekadar topeng kuat. Karena menjadi ayah adalah tentang hadir utuh sebagai manusia. Dan tidak ada manusia yang bisa hadir untuk orang lain jika dirinya sendiri tenggelam dalam kesepian.

Referensi:

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Teras

Artikel Lainnya

Fragile Masculinity dan Impian Perempuan yang Terus Dikoreksi

Menikmati “Kesendirian” Tanpa Perlu Merasa Sepi 

AJI Kecam Kekerasan terhadap Jurnalis dalam Aksi 25–30 Agustus 2025

AJI Kecam Kekerasan terhadap Jurnalis dalam Aksi 25–30 Agustus 2025

Leave a Comment