Dibalik Layar Slot: Kisah Mereka yang Terseret Diam-diam

Ais Fahira

News

Dibalik Layar Slot Kisah Mereka yang Terseret Diam-diam

Bincangperempuan.com– Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) mencatat bahwa judi online atau judol telah menjadi ancaman serius bagi stabilitas ekonomi dan sosial nasional. Pada tahun 2024, jumlah pemain judi online di Indonesia tercatat mencapai 8,8 juta orang. Yang mengejutkan, 71,6% di antaranya berasal dari kelompok masyarakat berpenghasilan di bawah lima juta rupiah per bulan. Sebagian besar dari mereka juga terjerat pinjaman daring ilegal, menciptakan lingkaran setan yang sulit dipecahkan.

Kepala PPATK menyebut bahwa judol bukan hanya soal transaksi digital, tetapi juga pintu masuk bagi kekerasan dalam rumah tangga, penelantaran keluarga, hingga tindak kriminal seperti penggelapan dana dan pencurian internal. Yayasan Selendang di Indramayu pun melaporkan bahwa tingginya angka perceraian di Jawa Barat dalam beberapa tahun terakhir turut dipengaruhi oleh kecanduan judol

Selain itu, berbagai penelitian menunjukkan bahwa kekalahan dalam judol dapat memicu percekcokan dalam rumah tangga, menyebabkan hilangnya kepercayaan, bahkan perceraian. Hal ini berdampak langsung pada kesehatan mental anggota keluarga lainnya, terutama perempuan dan anak muda yang menjadi korban sekunder dari kecanduan tersebut. Sebuah studi dari Jurnal Edulecj (2023) juga menyoroti bahwa dampak judol bersifat sistemik dan menurunkan kualitas keharmonisan keluarga—mulai dari ekonomi, komunikasi, hingga kestabilan emosi dalam rumah tangga.

Baca juga: Luka Patriarki: Inses, Ekonomi, dan Perlindungan Anak di Bengkulu

Bukan Cuma Pecandu: Wajah-Wajah yang Dihancurkan Judi Online

Dari balik tumpukan data dan grafik, ada manusia nyata yang terlibat—baik sebagai pelaku maupun orang terdekat yang terdampak. Salah satunya laki-laki berinisial AY (30) dari kalangan ekonomi menengah yang bekerja sebagai kontraktor.  “Dulu kalau ada uang, gue sisihin buat pacar, tapi habis putus,  gue bingung uang ini buat apa?” ujar Y. Ujungnya, uang itu mengalir ke aplikasi judi online, slot virtual yang memberinya sensasi baru. “Berasa ada tantangan,” katanya.

AY mengenal slot bukan sebagai permainan semata, tetapi sebagai pelarian, ia makin sering main sejak putus dengan kekasihnya. Katanya, hubungan mereka sudah serius, dari tabungan masa depan, bahkan rumah impian sudah direncanakan olehnya.

Akibatnya, tabungan AY terus menipis. Ia memang mendapat sensasi dan adrenalin saat bermain, tapi rasa sesal pelan-pelan menggerogoti. AY dikenal di tongkrongannya sebagai “abang-abang” yang selalu ada kalau temannya butuh. Dermawan, ringan tangan,tapi sejak kecanduan judol, itu semua berubah.

“Biasanya kalau ada temen minjem duit, gue selalu ada buat mereka. Sekarang keuangan gue hancur. Tapi mau berhenti juga gimana? Soalnya tongkrongan juga main,” katanya.

Bukan cuma AY yang kehilangan arah karena judol. Di sisi lain, ada Andin (21), mahasiswa yang mengalami relasi tidak sehat karena pasangannya diam-diam kecanduan slot.

“Aku nggak tahu awalnya. Dia cuma minjam uang kecil-kecil, lima puluh ribu sampai seratus  ribu, tapi sering banget. Terus tiba-tiba dia menghilang,” kata Andin.

Adin awalnya mengira kekasihnya hanya sedang sibuk mengurus usaha atau bosan. Tapi perlahan, perilakunya berubah. Responnya jadi lambat, bahkan kadang hilang tanpa kabar..

“Aku kesel karena bukan cuma dimanfaatin, tapi juga dia tidak terbuka terkait apa yang sedang terjadi,” katanya, lirih.

Ia tidak sekadar kecewa karena dimanfaatkan secara finansial. Yang membuat hatinya benar-benar perih adalah ketidakterbukaan itu. Baginya, jika pasangan terbuka soal sedang kesulitan atau terjebak dalam sesuatu, mungkin ia bisa memahami. Tapi yang terjadi adalah sebaliknya, sang pacar menarik diri, menghilang, lalu kembali hanya untuk minta uang. 

Selama itu pula, Andin merasa berjuang sendiri. Ia menunggu, bertanya, mencoba mengerti. Tapi di balik usahanya, hanya ada tembok yang terus makin tebal. Hubungan mereka pun akhirnya selesai, tanpa ada pertengkaran hebat, tetapi hanya ada kelelahan yang menumpuk. Andin pergi bukan karena tidak sayang, tapi karena sudah terlalu lama diperlakukan seperti penonton yang menunggu panggung yang tak lagi ingin ditampilkan.

Tapi Andin bukan satu-satunya yang harus menanggung beban dari kecanduan judol. Seorang karyawan dengan inisial FH mengaku tak pernah sekalipun menyentuh aplikasi judol, tetapi ia harus ikut membayar harganya.

Abangnya terlilit utang puluhan juta rupiah akibat judol, sebagian besar melalui pinjaman onlie ilegal. Bahkan abangnya juga nekat menggelapkan dana perusahaan tempatnya bekerja, hingga akhirnya masalah itu meledak dan menjadi beban keluarga. Semenjak itu, seluruh rumah terasa seperti ladang api. Panggilan penagih datang hampir tiap hari, dan ibunya menangis lebih sering dari biasanya.

FH yang saat ini bekerja sebagai bagian IT di sebuah perusahaan swasta, tak punya banyak pilihan. Sebagai anak kedua dari empat bersaudara, dan satu-satunya yang sudah bekerja tetap, tanggung jawab itu secara otomatis dijatuhkan ke pundaknya.

“Gaji aku masuk cuma buat nutupin utang keluarga. Boro-boro buat belanja atau menabung. Uang itu bahkan nggak sempat nyangkut di rekening cair langsung keluar,” kata FH.

Ia mencoba bertahan lembur tanpa henti, diselingi kerja serabutan, dan bahkan sempat mempertimbangkan pinjaman atas nama sendiri untuk menyelamatkan nama baik keluarga. Mimpi-mimpinya tertunda, atau bahkan lebih tepatnya dikubur.

FH mengaku kadang iri melihat teman-teman seangkatannya bisa healing, atau sekadar beli sesuatu untuk diri sendiri. “Aku cuma bisa ngelus dada. Ini nasib jadi generasi sandwich. Tapi lebih nyesek karena yang bikin aku begini itu justru keluarga sendiri,” lanjutnya.

FH menjadi generasi sandwich versi ekstra. Karena ia bukan cuma terjepit antara beban orang tua dan adik-adik yang masih sekolah, tapi juga menanggung kesalahan generasi di atasnya yang tidak mau bertanggung jawab atas hidupnya sendiri.

Baca juga: Ruang Aman Anak di Bengkulu: Kegentingan yang Terabaikan

Efek Domino Slot: Bukan Masalah Pribadi

Berdasarkan kisah mereka, isu judol bukan sekadar soal menang-kalah atau urusan pribadi yang bisa dituntaskan dengan berhenti, Realitanya judol menyentuh struktur relasi, membuat perempuan dimanfaatkan, dan menciptakan efek domino dalam keluarga. Ketika satu orang tenggelam dalam candu, yang ikut karam seringkali justru bukan pelaku utama.

Dalam hubungan romantis, perempuan kerap jadi korban pertama yang terkena imbas. Mereka diminta bersabar, memberi pinjaman, memahami pasangan yang katanya mengalami kesusahan—padahal diam-diam candu judi sedang merongrong segalanya. Seperti Andin, yang bukan hanya dimanfaatkan secara materi, tapi juga dikhianati oleh ketidakterbukaan pasangannya.

Dalam lingkup keluarga, efeknya lebih tak terlihat tapi tak kalah destruktif. Anak muda seperti FH dipaksa menjadi “penyelamat keluarga”, menanggung utang yang bahkan bukan ia yang gali. Ia harus mengubur mimpi, menunda kesenangan, dan bekerja mati-matian demi menutup lubang yang dibuat kakaknya sendiri. 

Sayangnya, dalam banyak kasus, pelaku utama tetap bisa bermain slot. Mereka bisa mengganti perangkat, membuat akun baru, atau berpindah platform. Yang tersisa hanyalah keluarga yang harus menanggung rasa malu, tekanan sosial, dan beban ekonomi yang tidak kecil.

Negara dan masyarakat sipil perlu segera menanggapi masalah ini bukan sebagai isu teknis, tetapi krisis sosial.  Sebab judol menyeret orang yang tidak bersalah ke dalam kehancuran, menghancurkan cinta, mematikan impian, dan menjerumuskan keluarga ke dalam pusaran utang dan konflik berkepanjangan.  

Referensi:

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Teras

Artikel Lainnya

Momen Sumpah Pemuda, Gen Z Menagih Tanggung Jawab Iklim 

“Banyak yang Lebih Susah dari Kamu” Ketika Rasa Syukur Dipakai Buat Membungkam

“Banyak yang Lebih Susah dari Kamu” Ketika Rasa Syukur Dipakai Buat Membungkam

Memilih dan Mencuci Bra dengan Benar

Memilih dan Mencuci Bra dengan Benar

Leave a Comment