“Ternyata jadi ibu tidak hanya berisi kebahagiaan. Emosinya sepaket dengan perasaan tak berharga, kesepian, kesedihan, kemarahan, hingga perasaan mulai gila. Saat baru saja melahirkan sang bayi, ibu bisa merasakan hati yang berbunga-bunga sekaligus rasa sepi yang mengakar.”
— Anatomi Perasaan Ibu, hal. viii
Bincangperempuan.com– Kalimat tersebut menjadi semacam pengakuan paling jujur tentang keibuan yang jarang sekali berani diucapkan. Anatomi Perasaan Ibu karya Sophia Mega, diterbitkan oleh EA Books pada 2023, menyingkap sisi lain dari peran yang selama ini dikultuskan.
Buku ini ditulis oleh Sophia Mega, ia dikenal sebagai kreator konten yang gemar membaca dan menyukai kopi. Lewat media sosialnya, ia sering membagikan pengalaman menjadi ibu dengan jujur dan apa adanya. Buku ini menjadi perpanjangan dari refleksi-refleksi itu—sebuah catatan panjang perjalanan hidupnya menjadi seorang ibu.
Sekilas, buku setebal 149 halaman ini tampak ringan karena dibagi ke dalam empat bagian—Pernikahan, Hamil, Melahirkan, dan Menjadi Ibu—masing-masing terdiri dari tiga sampai enam bab pendek. Namun, di balik struktur yang sederhana, isinya sama sekali tidak ringan. Mega membawa pembaca menelusuri emosi, tubuh, dan pergulatan sosial yang membentuk pengalaman keibuan dengan cara yang intim dan reflektif.
Membongkar Mitos Super Mom
Biasanya dalam budaya populer, menjadi ibu sering digambarkan sebagai puncak kebahagiaan seorang perempuan. Di media sosial, kita akrab dengan narasi Super Mom—perempuan yang mampu menyeimbangkan mengurus anak, rumah tangga, dan pekerjaan. Bahkan tetap tampil ceria dan produktif seolah tanpa lelah. Gambaran ideal ini diulang hingga menjadi standar baru bagi banyak perempuan.
Mega mengajak pembaca menelisik sisi yang sering dihapus dari narasi besar itu. Di balik idealisasi Super Mom, ada tubuh yang lelah, keputusan yang terus dipertanyakan, dan rasa bersalah yang terus disuntikkan dari luar.
Karena kenyataannya, tak ada yang benar-benar bisa menyeimbangkan semuanya tanpa kehilangan sesuatu. Entah waktu untuk diri sendiri, energi untuk beristirahat, atau ruang untuk sekadar merasa lemah. Ketika kelelahan dianggap wajar, maka penderitaan perempuan pun disamarkan menjadi bentuk pengabdian.
Baca juga: Bertumbuh Bersama: Saatnya Komunitas Punya Panduan Penanganan Kekerasan Seksual
Ketika Ibu Terus Disalahkan
Mega juga menyinggung bagaimana ketakutan menjadi “ibu yang buruk” menghantui banyak perempuan. Ketika anak makan lahap, pujian datang untuk si anak “anaknya pintar” tapi jika ada yang salah, justru sang ibu yang disalahkan.
Selain itu perempuan jadi hidup di antara dua kutub, tradisi keluarga yang penuh “aturan” dan kemajuan pengetahuan medis yang lebih rasional. Tak jarang, ibu harus menegosiasikan keduanya—antara patuh pada nasehat turun-temurun atau percaya pada ilmu yang ia pelajari sendiri.
Ironisnya, ketika seorang ibu tak sempat merawat diri karena fokus mengurus anak, ia justru kembali disalahkan. “Kok tambah gendut?” “Harusnya tetap bisa dandan meski punya anak, nanti suaminya bosan loh.”
Kalimat tersebut mungkin akrab kita dengar tetapi sebenarnya menyimpan logika yang menakutkan. Bahwa tubuh perempuan selalu dianggap tanggung jawabnya sendiri dan kalau laki-laki berpaling, itu salahnya, bukan salah suaminya yang memilih selingkuh.
Narasi ini terus direproduksi di media, iklan, dan obrolan sehari-hari. Seolah-olah nilai seorang perempuan ditentukan dari kemampuannya menjaga penampilan agar tetap “menarik di mata suami,” bahkan setelah melewati proses fisik seberat melahirkan. Sementara ketika suami menua, kehilangan rambut, atau bertambah perutnya, tak ada yang menuntutnya untuk tetap tampil memesona.
Standar ganda ini membuat perempuan terus hidup dalam ketakutan bukan hanya takut gagal menjadi ibu yang baik, tapi juga takut kehilangan cinta karena tubuhnya berubah. Padahal, tubuh ibu bukan medan kompetisi untuk mempertahankan kasih sayang.
Ketika lelah dianggap kurang usaha, dan kehilangan bentuk tubuh dianggap kelalaian, masyarakat sebenarnya sedang menutup mata terhadap sistem yang menindas. Perempuan dipaksa kuat sekaligus cantik, sabar sekaligus produktif, tapi tak pernah diberi ruang untuk sekadar lelah.
Baca juga: Membaca Realitas Lewat “Narasi Disabilitas dan Ketidaksetaraan”
Keibuan sebagai Proses Belajar
Buku ini menolak gagasan bahwa keibuan adalah naluri alami yang otomatis muncul begitu seorang perempuan melahirkan. Justru sebaliknya, Mega memperlihatkan bahwa menjadi ibu adalah proses belajar yang panjang—belajar mencintai diri sendiri ketika tubuh berubah, belajar memaafkan diri ketika tidak sanggup menjadi “sempurna”, dan belajar menolak ekspektasi yang tidak manusiawi.
Melalui tulisannya, Mega seperti mengajak pembaca untuk lebih jujur bahwa menjadi ibu tidak berarti kehilangan kemanusiaan. Bahwa menangis, marah, dan merasa lelah bukan tanda kegagalan, melainkan bagian dari perjalanan yang wajar.
Anatomi Perasaan Ibu merupakan refleksi pribadi yang menggugah pembaca bahwa yang dibutuhkan ibu bukan lagi tepuk tangan atau label ibu super. Tetapi dukungan yang nyata dari pasangan, keluarga, komunitas, hingga kebijakan publik.
Ketersediaan konselor pernikahan, ruang aman bagi ibu, dan komunitas pendamping seharusnya menjadi bagian dari struktur sosial kita. Sebab, kerja-kerja perawatan bukan sekadar urusan domestik, melainkan pengalaman sosial yang butuh empati dan sistem pendukung.
Kejujuran Sophia Mega dalam menulis membuat buku ini layak dibaca bukan hanya oleh para ibu, tapi setiap orang, setidaknya sekali dalam hidupnya, pernah bersinggungan dengan sosok ibu—entah sebagai anak, pasangan, teman, atau rekan kerja. Karena setiap kita, pada dasarnya, adalah bagian dari anatomi perasaan itu.
