Bincangperempuan.com– Belum lama ini, platform X ramai membicarakan narasi “nemenin dari nol.” Salah satu cuitan yang sempat viral berbunyi, “Modelan kayak gini mau nggak ya nemenin dari nol?” disertai kutipan unggahan selebritas internet yang cantik dan berasal dari keluarga kaya. Unggahan itu menyulut perdebatan mengapa laki-laki begitu terobsesi dengan perempuan yang mau menemani mereka sejak titik nol?
Sebagian warganet menyambut narasi ini dengan nostalgia perjuangan, membayangkan hubungan ideal di mana dua orang berjuang bersama hingga sukses. Namun, banyak juga yang mempertanyakan kenapa perempuan selalu diminta sabar, sementara laki-laki boleh belum siap? Narasi ini pun berkembang, dari soal romantisasi “perjuangan” hingga ke bias gender dan ketimpangan relasi.
‘Dari Nol’ Itu Subjektif
Makna “dari nol” sangat subjektif. Apakah nol berarti belum punya penghasilan tetap? Belum lulus kuliah? Belum selesai dengan trauma masa lalu? Atau belum bisa menjalin hubungan yang sehat secara emosional? Setiap orang punya definisi sendiri.
Dalam banyak kisah, “nemenin dari nol” berarti perempuan ikut menanggung beban emosional, finansial, dan logistik laki-laki tanpa tahu ujungnya. Bahkan tak jarang, relasi semacam ini justru menyedot energi perempuan dan tidak memberi ruang bagi mereka untuk berkembang.
Narasi Ini Seksis dan Sarat Ekspektasi Tak Seimbang
Secara struktural, narasi “nemenin dari nol” kerap membebani perempuan dengan tanggung jawab emosional dan sosial untuk membesarkan pasangannya. Perempuan diharapkan sabar, suportif, rela berjuang, dan tetap setia bahkan ketika pasangannya belum stabil secara finansial, emosional, atau relasional. Sementara ketika perempuan memilih pasangan yang sudah mapan, label “matre”, “tidak tulus”, atau “cepat puas” langsung disematkan.
Media dan budaya populer ikut melanggengkan narasi ini. Dalam banyak film, sinetron, dan novel romansa, “perempuan ideal” adalah mereka yang sabar menemani pasangannya sejak nol, hidup dalam keterbatasan sambil menunggu si lelaki “jadi orang”. Sebaliknya, perempuan yang menolak hubungan semacam itu sering digambarkan sebagai sosok egois, haus harta, dan tidak punya empati.
Padahal, konteks strukturalnya tidak seimbang. Perempuan lebih sering dibebani untuk segera menikah, sementara laki-laki diberi waktu lebih panjang untuk “mempersiapkan diri”. Sosiolog Universitas Sebelas Maret, Drajat Tri Kartono, menyebut dalam laporan Kompas bahwa tekanan sosial untuk menikah lebih banyak dibebankan kepada perempuan. Ini ditunjukkan dengan data bahwa penurunan angka pernikahan laki-laki lebih tajam dibandingkan perempuan—karena mereka tidak mengalami tekanan sosial yang seberat perempuan untuk menikah dini.
Artinya, ketika perempuan memasuki usia 30-an dan belum menikah, mereka dihujani rentetan pertanyaan seperti “kapan menyusul?”, “kok masih sendiri?”, “maj sampai kapan karier mulu?” Tekanan ini membuat perempuan lebih rawan mengambil keputusan relasional secara kompromistis—bukan karena cinta atau kesiapan, tetapi malah jadi karena rasa takut akan stigma.
Lebih dalam lagi, budaya patriarki masih kuat menempatkan perempuan sebagai makhluk yang harus “difungsikan” secara reproduktif. Perempuan tidak hanya dituntut untuk menikah, tetapi juga segera hamil, melahirkan, dan mengasuh anak. Dalam narasi “nemenin dari nol”, pernikahan tidak lagi dilihat sebagai kesepakatan dua insan dewasa yang saling melengkapi, tetapi sebagai kontrak diam-diam bahwa perempuan harus menyesuaikan diri dengan kondisi lelaki apa adanya.
Perempuan didorong untuk tidak terlalu selektif, bahkan jika itu berarti harus menanggung beban relasi yang timpang. Ketika perempuan tidak memenuhi skema ideal “menikah muda dan sabar menemani dari bawah”, status sosialnya langsung dipertanyakan. Ini menciptakan tekanan sistemik yang membuat banyak perempuan merasa bersalah karena punya preferensi yang realistis dan rasional dalam memilih pasangan.
Baca juga: ASN Dilarang Bercerai? Helmi Hasan Lupa Negara Bukan Penjaga Rumah Tangga
Menemani Tidak Sama dengan Mengorbankan Diri
Menemani seseorang tumbuh adalah pilihan, tapi itu bukan kewajiban moral. Dalam relasi yang sehat, dukungan bersifat timbal balik. Cinta tidak seharusnya menuntut seseorang untuk menyelamatkan orang lain dari kekacauan hidupnya.
Apalagi jika dukungan itu hanya berjalan satu arah, dan si perempuan tidak mendapatkan hal yang sama ketika ia dalam posisi sulit. Bentuk relasi semacam ini sebetulnya lebih dekat dengan ekspektasi pengasuhan ketimbang kemitraan.
Preferensi Bukan Dosa
Memilih pasangan yang sudah stabil secara emosional dan finansial bukan berarti matre. Itu bisa jadi bentuk batasan yang sehat dan pertimbangan realistis. Kita tidak hidup dalam novel romansa yang romantis tapi tidak setara. Cinta yang sehat butuh dua pihak yang sama-sama siap.
Dari sisi ilmiah, riset Buunk et al. (2002) menunjukkan bahwa laki-laki heteroseksual lebih menyukai pasangan yang lebih menarik secara fisik daripada dirinya sendiri, sedangkan perempuan lebih memilih pasangan yang memiliki pendapatan, pendidikan, kepercayaan diri, kecerdasan, dominasi, dan status sosial lebih tinggi dari diri mereka sendiri. Preferensi ini muncul tidak hanya dari konstruksi sosial, tapi juga pertimbangan evolusioner.
Ini artinya perempuan memilih pasangan mapan bukan karena “matre”, tetapi karena preferensi evolusioner dan kebutuhan kestabilan. Namun preferensi ini bisa bervariasi tergantung pada niat hubungan—tidak hanya sekadar kriteria universal.
Baca juga: Setelah Toga, Jalan Kami Tak Sepanjang Itu
Jadi, Pilih Nemenin dari Nol atau Cari yang Setara?
Perempuan punya hak untuk menentukan preferensinya dalam memilih pasangan—mau nemenin dari nol atau hanya mau yang sudah stabil, dua-duanya sah. Tapi yang perlu digarisbawahi: perempuan tidak wajib menyesuaikan diri dengan ekspektasi orang lain, apalagi jika itu membuatnya harus mengorbankan dirinya sendiri.
Akan tetapi, dalam hubungan yang sehat dan setara, seharusnya tidak ada pihak yang terbebani lebih banyak hanya karena gender. Menemani seseorang tumbuh seharusnya bersifat mutual, bukan eksklusif sebagai tugas perempuan.
Referensi:
- Krisna, A., Judith, M. P., & Rosalina, M. P. (2024, Oktober 21). Belum mapan, empat dari 10 warga Indonesia masih melajang (3). Kompas.id. https://www.kompas.id/baca/investigasi/2024/10/21/belum-mapan-empat-dari-10-warga-indonesia-masih-melajang
- Buunk, B. P., Dijkstra, P., Fetchenhauer, D., & Kenrick, D. T. (2002). Age and gender differences in mate selection criteria for various involvement levels. Personal Relationships, 9(3), 271–278. https://doi.org/10.1111/1475-6811.00018
