Home » News » Menanti Akses Pendidikan yang Setara

Menanti Akses Pendidikan yang Setara

Delima Purnamasari

News

Perempuan dan Akses Pendidikan yang Setara

Bincangperempuan.com- Sekolah merupakan salah satu lembaga emansipasi. Ruang ini menuntun masyarakat untuk melihat kemajuan di masa depan sekaligus menumbuhkan imajinasi tentang hidup yang lebih baik. Sayangnya, pendidikan perempuan masih tertinggal jika dibandingkan dengan laki-laki.

Pada tahun 2021, lama sekolah perempuan adalah 8,17 tahun, sementara untuk laki-laki selama 8,92 tahun. Perbedaan 0,75 ini tergolong signifikan karena perkembangan lama sekolah setiap tahun rata-rata sebesar 0,10 tahun saja. Timpangnya pendidikan itu kemudian berdampak pada rendahnya upah yang diterima perempuan. Rata-rata upah yang mereka terima setiap jam hanya sebesar Rp17.848. Sedangkan bagi laki-laki, memperoleh Rp 18.210 per jamnya. Dalam pasar tenaga kerja formal, perempuan juga hanya memiliki kontribusi sebesar 35,57%. 

Pendidikan bagi Perempuan Selalu Penting

Sekolah adalah pembuka jalan yang memungkinkan perempuan berkiprah di dunia yang luas. Pengetahuan yang didapatkan membuat mereka mampu beradaptasi dalam perubahan yang terus berlangsung. Pembelajaran yang diterima layaknya peta dalam pencarian kebenaran sekaligus usaha untuk menggempur penyimpangan. Dengan begitu, menjadikan mereka sebagai individu yang mampu merekonstruksi, bahkan mendekonstruksi realitas. 

Pendidikan perempuan memang telah meningkat. Hal ini dapat ditengok dari Indeks Pemberdayaan Gender (IDG) di Indonesia yang terus mengalami kenaikan setiap tahunnya. Angka tersebut didapat dari tiga indikator, yakni sumbangan pendapatan kerja, persentase parlemen, dan persentase tenaga kerja profesional. Pada tahun 2021, IDG mencapai angka 76,26% dan meningkat menjadi 76,59 pada tahun 2022. 

Perbaikan juga dilihat dari munculnya gerakan alternatif yang diinisiasi oleh perempuan, seperti Sekolah Pemikiran Perempuan (SPP). Sekolah yang berdiri pada tahun 2020 ini bertujuan untuk melakukan intervensi pengetahuan yang cenderung meminggirkan perempuan. Mereka menyebutnya dengan pembangkangan epistemik. Salah satu yang dilakukan adalah membuat manifesto yang menggungat dan mereka ulang imajinasi tentang keluarga. Proyek-proyek yang dilakukan oleh SPP sejatinya turut menunjukan sebuah realitas bahwa sampai abad ke-20, perempuan masih dianggap sebagai subjek yang tidak berpikir dan tak mampu menyatakan sikap.  

Pendidikan belum dioptimalkan untuk mendorong emansipasi secara utuh. Pendidikan bagi perempuan masih kerap dianggap sebagai pemborosan. Uang yang dikeluarkan terasa percuma karena mereka belum tentu bekerja dan cenderung hanya akan mengurus keluarga. Berbeda dengan laki-laki. Mereka dituntut untuk menafkahi keluarga sehingga didorong untuk menempuh pendidikan sebagai suatu kewajiban. Padahal, banyak penelitian yang menyebutkan jika perempuan memiliki peran penting dalam pendidikan anak. Tingginya pendidikan ibu akan menjadikan pola asuh yang diterapkan semakin baik dan begitu pula sebaliknya. 

Digitalisasi Tidak Serta-merta Jadi Solusi

Kehadiran internet yang bebas dengan segala fiturnya dianggap bisa menciptakan peluang bagi seluruh individu, termasuk perempuan. Pendidikan jarak jauh dapat diupayakan. Terlebih, teknologi internet didominasi oleh teks dan minim isyarat fisik sehingga gender tidak terlihat, bahkan bisa disembunyikan. 

Namun, menyimpulkan internet mampu menciptakan kesetaraan gender rasanya terlalu cepat. Tak ada yang bisa menggantikan interaksi langsung guru dengan siswanya. Penelitian mengenai gender and power turut menunjukan praktik pembungkaman pada wanita dalam praktik komunikasi digital. Kekuasaan gender dalam dunia nyata masih ada meski telah dimediasi oleh internet. 

Penelitian tersebut menjelaskan jika dalam diskusi, wanita yang berpartisipasi biasanya ditanggapi kurang dari laki-laki. Ketika wanita menjadi gender minoritas dalam suatu diskusi, wanita juga harus mengubah perilaku komunikasinya ke arah gender mayoritas. Hingga pada akhirnya wanita harus membentuk kelompok mereka sendiri untuk berdiskusi secara luas mengenai minat mereka. Hal lain yang menjadi perhatian adalah wanita di internet masih menjadi target intimidasi dan pelecehan seksual oleh laki-laki. Kebebasan internet dinilai membuat obrolan pelecehan seksual seolah-olah netral, bahkan sebagai objek rekreasi.

Internet memang menyediakan fitur anonim sehingga para pengguna mampu menyembunyikan identitas asli mereka. Namun, para ahli menyatakan intensitas interaksi seseorang di internet akan mampu menunjukan gender mereka. Salah satunya karena adanya kebiasaan berbahasa yang berbeda. 

Jalan Keluar Itu Bernama Kesetaraan Akses

Perempuan masih kerap didomestifikasi dan dikurung dalam rumah. Karena itu, jauh dari obrolan soal cita-cita hidup yang optimis. Mereka jadi pihak yang mengalami paparan kekerasan. Mengalami dampak kerusakan lingkungan, seperti banjir atau kekurangan air bersih. Sedangkan laki-laki, memiliki kesempatan keluar dari gelembung tempat tinggalnya untuk menempuh pendidikan. Hidupnya teratur dengan agenda utama belajar. Mereka jadi individu yang diprioritasan.  

Perempuan yang tidak menempuh pendidikan ini hanya akan berada di rumah. Apabila memutuskan bekerja, mayoritas hanya akan jadi buruh rendahan. Mereka akan menjumpai komunitas beserta pembicaraan yang jelas berbeda dengan di sekolah. 

Dalam meyakinkan anak perempuan untuk menempuh pendidikan, apalagi dari keluarga tidak mampu secara ekonomi, persoalannya bukan hanya uang. Kalis Mardiasih menyebutnya dengan unpacked assumption. Mereka merasa tidak layak melanjutkan pendidikan karena merasa akan menjadi beban untuk semua orang, semangatnya naik turun karena realitas sosial sekitarnya tak cukup untuk membangun imaji soal masa depan yang lebih baik jika ia berpendidikan, kesulitan menalar manfaat pendidikan yang abstrak, hingga tidak ada sistem yang mendukung secara mental untuk memvalidasi mimi-mimpi mereka. Pemikiran-pemikiran semacam itu tentu perlu segera dibongkar. 

Akses yang diperlukan bukan hanya dalam bentuk fisik, tetapi juga soal kepercayaan. Kombinasi keduanya jadi strategi yang perlu diterapkan untuk meningkatkan kuantitas sekaligus kualitas perempuan yang berpendidikan. (Delima Purnamasari)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

akses pendidikan perempuan, gerakan perempuan, pendidikan yang setara untuk perempuan, perempuan dan pendidikan

Artikel Lainnya

Empat Kursi DPR RI Dapil Bengkulu Diraih Perempuan

Susi Handayani, 20 Tahun Bergerak untuk Isu Perempuan dan Anak

Perempuan dalam bingkai media massa

Perempuan dalam Bingkai Media Massa yang Seksis dan Misoginis

2 Comments

  1. Sangat sedih memang melihat masih banyak orang yang memandang sebelah mata pendidikan bagi perempuan. Pendidikan bagi perempuan tidak hanya bertujuan untuk mendapat pekerjaan tetapi juga untuk cara berpikir yang lebih luas serta pengambilan keputusan yang lebih baik bagi perempuan.

    Reply

Leave a Comment