Mengapa Pekerjaan Perawatan Sering Dianggap Mudah dan Dibayar Rendah?

Ais Fahira

News

Bincangperempuan.com- Jika melihat guru taman kanak-kanak (TK) atau pendidikan anak usia dini (PAUD), kita mungkin lebih sering menjumpai perempuan daripada laki-laki. Hal serupa terlihat dalam pekerjaan keperawatan dan pekerjaan rumah tangga. Perempuan seolah-olah menjadi wajah utama dari pekerjaan yang berkaitan dengan pengasuhan, perawatan, dan pelayanan domestik.

Menurut publikasi Statistik Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Tahun 2024/2025 dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, terdapat 710.383 pendidik dan tenaga kependidikan PAUD di Indonesia. Sebanyak 671.592 orang atau 94,54 persen di antaranya adalah perempuan. Khusus di satuan pendidikan TK, proporsi perempuan bahkan mencapai 96,27 persen dari total tenaga pendidik dan kependidikan.

Dominasi perempuan dalam pekerjaan perawatan bukan berarti perempuan secara alami lebih cocok melakukannya. Ada konstruksi sosial yang sejak lama mengaitkan perempuan dengan peran mengasuh anak, merawat keluarga, dan mengurus rumah. Akibatnya, pekerjaan yang membutuhkan keterampilan tersebut kerap dipandang sebagai sesuatu yang lumrah dilakukan perempuan, bahkan dianggap mudah karena menyerupai aktivitas sehari-hari di rumah.

Persoalannya, ketika pekerjaan domestik dan perawatan dilakukan secara profesional, mengapa keterampilan di dalamnya justru sering tidak memperoleh penghargaan yang sepadan?

Baca juga: Ketika Kerja Perawatan Jadi Standar Perempuan Sempurna 

Ketika Mengasuh Dianggap sebagai Naluri Perempuan

Di banyak keluarga, perempuan masih diharapkan menjadi pihak yang paling bertanggung jawab atas pengasuhan anak dan pekerjaan rumah tangga. Kemampuan memasak, membersihkan rumah, atau merawat anggota keluarga sering dianggap sebagai keterampilan yang akan dimiliki perempuan dengan sendirinya.

Anggapan tersebut kemudian terbawa ke dunia kerja. Guru PAUD, pengasuh anak, perawat, dan pekerja rumah tangga menjalankan pekerjaan yang berkaitan dengan aktivitas perawatan, tetapi keterampilan mereka tidak selalu dipandang sebagai keahlian profesional.

Padahal, mendampingi anak usia dini bukan sekadar memastikan anak tidak menangis atau membuat keributan. Guru PAUD perlu memahami perkembangan kognitif dan emosional anak, merancang kegiatan belajar sesuai usia, mengenali kebutuhan individual, mengelola perilaku, serta menjaga keselamatan anak. Semua itu membutuhkan pengetahuan, pengalaman, dan kemampuan pedagogis.

Demikian pula dengan perawat. Pekerjaan mereka mencakup pemantauan kondisi pasien, pemberian asuhan keperawatan, pencegahan infeksi, komunikasi klinis, serta tindakan sesuai kompetensi dan kewenangan profesional. Kemampuan merawat orang lain tidak cukup hanya bermodalkan rasa sayang atau kesabaran.

Namun, ketika masyarakat menganggap perempuan memiliki kemampuan merawat secara alami, keterampilan yang diperoleh melalui pendidikan dan pengalaman berisiko tidak terlihat. Pekerjaan tersebut seolah-olah hanya membutuhkan sifat penyayang, padahal tanggung jawabnya jauh lebih kompleks.

Dari Pekerjaan Rumah Tangga Menjadi Pekerjaan Bergaji Rendah

Salah satu persoalan mendasar dalam kerja perawatan adalah anggapan bahwa pekerjaan domestik merupakan aktivitas sederhana yang bisa dilakukan siapa saja.

Di rumah, membersihkan lantai, memasak, mencuci pakaian, dan mengasuh anak sering diperlakukan sebagai bagian rutin kehidupan keluarga. Pekerjaan tersebut bahkan dapat dilakukan tanpa upah oleh anggota keluarga, terutama perempuan. Karena terbiasa melihatnya sebagai aktivitas sehari-hari, masyarakat bisa menganggap pekerjaan serupa tidak membutuhkan keterampilan khusus ketika dilakukan oleh pekerja profesional.

Padahal, ada perbedaan antara mengerjakan pekerjaan domestik sesekali dan bertanggung jawab atas seluruh kebutuhan rumah tangga sebagai pekerjaan. Pekerja rumah tangga harus mengatur waktu, menjaga kebersihan, mengelola berbagai tugas, serta mengikuti kebutuhan dan aturan pemberi kerja. Pengasuh anak juga harus mampu menghadapi situasi yang tidak selalu bisa diprediksi.

Masalahnya, pekerjaan yang dianggap mudah cenderung dinilai tidak memerlukan upah tinggi. Padahal, tingkat kesulitan pekerjaan tidak semestinya ditentukan hanya berdasarkan seberapa akrab aktivitas tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Laporan International Labour Organization (ILO) mengenai upah pekerja rumah tangga menjelaskan bahwa pekerjaan domestik kerap menghadapi persoalan pengakuan, daya tawar, dan perlindungan ketenagakerjaan. Anggapan bahwa pekerjaan tersebut merupakan pekerjaan alami perempuan turut memengaruhi bagaimana masyarakat menilai nilai ekonominya.

Dengan kata lain, kebiasaan melakukan pekerjaan domestik secara gratis di dalam keluarga dapat memengaruhi cara pekerjaan serupa dihargai ketika dilakukan oleh orang lain.

Baca juga: Lawan Eksploitasi, Perjuangkan Hak Kerja Perempuan dan Pengakuan Kerja Perawatan

Upah Rendah dan Penghargaan terhadap Kerja Perawatan

Persoalan ini juga terlihat dalam kondisi kesejahteraan tenaga pendidik. Berdasarkan data BPS yang dipublikasikan melalui Databoks Katadata, rata-rata upah guru atau tenaga pendidik di Indonesia pada Agustus 2024 sekitar Rp2,86 juta per bulan. Rata-rata upah tenaga pendidik di lembaga swasta tercatat Rp2,19 juta, sedangkan pada kategori penyelenggara lainnya sebesar Rp1,24 juta per bulan.

Angka tersebut mencakup tenaga pendidik secara lebih luas, bukan guru PAUD saja. Karena itu, data ini tidak bisa digunakan untuk menyimpulkan bahwa seluruh guru PAUD menerima upah pada tingkat yang sama. Namun, angka tersebut memperlihatkan bahwa kondisi kesejahteraan tenaga pendidik juga perlu diperhatikan, terutama ketika mereka bekerja di lembaga dengan keterbatasan sumber daya.

Rendahnya upah tentu tidak hanya disebabkan oleh anggapan bahwa pekerjaan perawatan mudah. Kemampuan keuangan lembaga, status kepegawaian, kebijakan pengupahan, dan kondisi pasar kerja juga berpengaruh. Meski demikian, persepsi sosial terhadap nilai pekerjaan dapat menjadi salah satu faktor yang membuat persoalan tersebut terus bertahan.

Ketika keterampilan merawat dianggap sebagai sesuatu yang biasa, tuntutan terhadap upah layak dan kondisi kerja yang baik juga berisiko dipandang kurang mendesak.

Kerja Perawatan Bukan Pekerjaan Sampingan

Pekerjaan perawatan menopang kehidupan masyarakat. Anak membutuhkan pengasuhan agar dapat tumbuh dan belajar. Orang sakit membutuhkan perawatan untuk menjalani pemulihan. Rumah tangga membutuhkan pekerjaan domestik agar kebutuhan sehari-hari terpenuhi.

Bahkan, pekerjaan perawatan memungkinkan orang lain menjalankan pekerjaan berbayar. Orang tua dapat bekerja karena ada guru atau pengasuh yang mendampingi anak mereka. Anggota keluarga dapat menjalankan aktivitasnya karena ada pekerja rumah tangga yang membantu mengurus kebutuhan domestik.

Artinya, pekerjaan perawatan bukan sekadar urusan pribadi atau aktivitas tambahan yang tidak memiliki nilai ekonomi. Pekerjaan ini turut menopang produktivitas dan keberlangsungan kehidupan sosial.

Karena itu, memperbaiki penghargaan terhadap pekerja perawatan tidak cukup dilakukan dengan memberikan pujian bahwa pekerjaan mereka mulia. Pengakuan tersebut perlu diwujudkan melalui upah yang layak, perlindungan sosial, kondisi kerja yang aman, serta pengakuan terhadap keterampilan dan tanggung jawab profesional mereka.

Pada akhirnya, persoalannya bukan apakah perempuan lebih pandai merawat daripada laki-laki. Persoalannya adalah bagaimana masyarakat membentuk anggapan bahwa pekerjaan yang selama ini dilakukan perempuan di rumah merupakan pekerjaan mudah yang tidak membutuhkan keterampilan khusus.

Selama pekerjaan perawatan masih dianggap sebagai perpanjangan dari kewajiban domestik perempuan, keterampilan di dalamnya akan terus berisiko diremehkan. Kita perlu mengubah cara pandang bahwa pekerjaan yang terlihat sederhana karena akrab dengan kehidupan sehari-hari bukan berarti pekerjaan mudah yang layak diupah murah.

Referensi:

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Teras

Artikel Lainnya

Nana Cosplayer, Buktikan Hijab Bukan Batas untuk Bersinar

Mewarisi Semangat Perjuangan Sinead O’Connor

Kenapa Warna Pink Identik dengan Perempuan dan Biru untuk Laki-laki

Kenapa Warna Pink Identik dengan Perempuan dan Biru untuk Laki-laki?

Leave a Comment