Nana Cosplayer, Buktikan Hijab Bukan Batas untuk Bersinar

Ais Fahira

News, Tokoh

Bincangperempuan.com- Di tengah kemeriahan festival budaya Jepang di salah satu kampus Kota Padang, musik anime bergema dari pengeras suara, sementara puluhan anak muda berlalu-lalang dengan kostum penuh warna. Dunia ini dikenal sebagai cosplay, singkatan dari costume play—tempat para penggemar anime, game, dan komik berpakaian seperti karakter favorit mereka lewat kostum dan aksesoris.

Seorang perempuan berhijab krem dengan topi merah penyihir tampak berdiri di atas panggung. Tubuh mungilnya bergerak lincah menirukan gaya karakter Klee dari game Genshin Impact—bocah bom asal Mondstadt dengan elemen api (Pyro) yang memiliki karakter usil sekaligus menggemaskan.

Gadis cilik itu tak sekadar memakai kostum, tapi benar-benar seperti keluar dari layar. Gerak tubuhnya pas, mimiknya ceria, dan properti bom di tangannya dibuat dengan detail yang mencuri perhatian juri dan pengunjung festival. Dialah Nana Shoera, cosplayer berhijab asal Sumatera Barat yang kini dikenal di komunitas cosplay lokal karena kreativitas dan prestasinya.

Bagi sebagian orang, dunia cosplay dan hijab tampak seperti dua kutub yang sulit disatukan. Karakter-karakter anime dan game sering kali digambarkan berambut warna-warni, mengenakan kostum mencolok, bahkan terbuka. Namun, bagi Nana, hijab bukan batas, melainkan ruang untuk berkreasi.

“Hijab dalam cosplay bagi Nana bukan jadi batasan atau mengganggu, malah di situ justru bisa jadi sarana kreativitas. Dari styling jilbab sampai bikin hijab instan sendiri, itu bisa jadi ciri khas masing-masing cosplayer berhijab,” ujarnya.

Baca juga: Takut Salah Pilih? Bisa Jadi Kamu Sedang Mengalami FOBO

Dari Rasa Penasaran ke Dunia Cosplay

Perkenalan Nana dengan dunia cosplay dimulai dari rasa penasaran. Ia mengaku sejak kecil sudah gemar menonton anime dan bermain game. Namun, baru pada tahun 2022, ia memberanikan diri datang ke bunkasai, di Universitas Negeri Padang. Di sana, pengunjung bisa menikmati kuliner, musik, dan penampilan khas Jepang, termasuk pertunjukkan kostum para cosplayer. Saat itu, Nana belum berani tampil, hanya menonton dari kejauhan.

“Awalnya cuma datang aja, ngeliat yang lain cosplay seru banget. Akhirnya akhir tahun 2022 aku coba-coba cosplay di rumah. Waktu itu karakter Gawr Gura, karena comelll banget,” kenangnya sambil tertawa.

Tak lama kemudian, Nana turun ke event publik untuk pertama kalinya. Karakter debutnya adalah Anya Forger dari serial Spy x Family pada awal 2023 di acara Santika Cosplay Event. Dari situ, semangatnya semakin besar, terutama karena dukungan dari teman, komunitas dan keluarga.

Nana Shoera, cosplayer berhijab asal Sumatera Barat. (Foto : Dokumentasi pribadi)

Menjahit Identitas di Balik Kostum

Kini, selain bekerja, Nana juga punya usaha rental kostum yang menyediakan berbagai karakter dari anime dan game. Ia menjahit sebagian kostumnya sendiri dan tengah bereksperimen membuat hijab instan untuk cosplay.

Baginya, tantangan terbesar bukan pada desain kostum, melainkan menjaga keseimbangan antara nilai hijab dan karakter yang dimainkan.

“Kalau karakter yang terlalu sensual ya nggak aku pilih, harus pandai-pandai seleksi,” katanya. “Selagi kita nggak merusak nilai hijab, menurut Nana nggak masalah.”

Di dunia yang sering menilai penampilan lebih dulu daripada isi karya, langkah Nana bukan hal mudah. Ia beberapa kali menerima komentar sinis, dari yang mempertanyakan relevansi hijab di dunia cosplay, sampai yang meragukan peluangnya untuk menang lomba.

Namun waktu membuktikan bahwa anggapan itu keliru. Nana justru menorehkan prestasi di berbagai ajang cosplay di Sumatera Barat—mulai dari kategori kostum hingga performance, baik secara individu maupun tim. Dalam kompetisi yang dinilai adalah kedalaman karakter, bukan siapa orang di balik kostum, Nana menunjukkan bahwa identitas berhijab tak sedikit pun mengurangi totalitasnya di atas panggung.

“Dulu waktu lomba pertama aku nggak menang,” ia tersenyum mengenang. “Tapi aku terus belajar, tanya saran dari juri dan teman-teman. Sekarang udah bisa bikin properti dan jahit sendiri. Buatku, itu bentuk kemajuan besar,” katanya.

Pencapaiannya tak berhenti di situ, pada 2025, Nana diundang oleh Oppo Indonesia untuk tampil dalam ajang Oppo Smooth Legend Cup di Jakarta sebagai finalis kompetisi cosplay tingkat nasional. Baginya, kesempatan itu bukan sekadar prestasi pribadi, tetapi juga bentuk pengakuan bahwa cosplayer berhijab pun bisa bersinar dan mendapat tempat di ajang nasional.

Baca juga: Dalam Pelukan Wanita Pintar, Pria Miskin Bisa Jadi Kaya: Narasi Usang dengan Wajah Baru

Antara Hijab dan Dunia Kreatif yang Cair

Fenomena seperti Nana mencerminkan wajah baru perempuan berhijab di Sumatera Barat — mayoritas tapi tak seragam. Jika di ruang publik dan pekerjaan formal jilbab sudah menjadi hal lumrah, di ranah kreatif seperti cosplay, keberadaannya masih dipandang belum umum.

Di banyak event budaya Jepang, sebagian besar cosplayer yang dalam kesehariannya berhijab memilih menyesuaikan diri dengan karakter yang mereka perankan. Misalnya dengan mengenakan wig langsung tanpa hijab atau melepas kerudung sementara agar tampil lebih mirip dengan tokoh aslinya.

Namun Nana memilih mengadaptasi karakter tanpa melepas identitasnya. Ia memodifikasi jilbab agar tetap selaras dengan karakter yang diperankan. Kreativitas itu justru jadi nilai tambah, baik secara visual maupun simbolik.

Styling hijab itu nggak bisa 100 persen sama. Jadi tiap orang punya ciri khasnya masing-masing,” katanya. Dulu mungkin orang masih menganggapnya aneh, tapi sekarang udah mulai banyak hijab cosplayer, jadi pro dan kontranya juga makin berkurang,” papar Nana.

Nana Shoera, cosplayer berhijab asal Sumatera Barat. (Foto : Dokumentasi pribadi)

Menjadi Diri Sendiri, Bukan Bayangan Orang Lain

Meski karyanya kian dikenal, Nana terkadang merasa insecure. Menurutnya dunia kreatif, terkadang membuat orang mudah membandingkan diri. Tapi setiap kali merasa demikian, ia selalu mengingat pesan yang ia pegang teguh untuk tidak membatasi diri sendiri.

“Harus percaya diri, jangan lihat orang lain terus,” ujarnya. “Kalau kita terus dengar omongan orang yang bikin jatuh, ya kita bakal di tempat yang sama terus.”

Semangat itulah yang membuatnya terus berkembang. Dari hanya menjahit kostum sederhana di kamar, kini Nana mulai menerima pesanan dan bahkan menyewakan kostum untuk cosplayer lain.

Nana Shoera, cosplayer berhijab asal Sumatera Barat bersama rekan-rekannya. (Foto : Dokumentasi pribadi)

Hijab Bukan Batas, Tapi Titik Mulai

Bagi Nana, hijab bukan tembok pemisah antara dunia religius dan dunia kreatif, melainkan ruang untuk mengekspresikan nilai-nilai pribadi lewat cara yang menyenangkan. Ia ingin lebih banyak perempuan muda berhijab yang berani berkarya tanpa takut dihakimi.

“Jangan jadikan hijab sebagai batasan buat berkarya,” pesannya tegas. “Bersinarlah dengan hobi kamu, tapi tetap ingat makna hijab itu sendiri.”

Kisah Nana menunjukkan bahwa di tengah stereotip tentang perempuan berhijab yang “terlalu kaku” atau “tidak cocok” di dunia hiburan, selalu ada ruang bagi mereka yang berani menantang persepsi lama. 

Kini kamu bisa menyapa dan mengikuti karyanya di Instagram @na_coser, tempat Nana terus membagikan perjalanannya dari hobi menjadi ruang kreasi yang menginspirasi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Teras

Artikel Lainnya

Wartawan Perempuan, Herawati Diah Tampil di Google Doodle Hari Ini

Gen Z Bukan Pembaca, Tapi Partisipan: Tantangan Baru bagi Media Lokal

Cara Efektif Mencegah Kekerasan Melalui Peran Agen Perubahan

Leave a Comment