Mengenang Hermien Y Kleden, Jurnalis Perempuan Indonesia

Ais Fahira

News, Tokoh

Bincangperempuan.com- Baru-baru ini, kabar duka datang dari dunia jurnalisme Indonesia. Hermien Yosephibe Kleden, seorang jurnalis perempuan yang dikenal karena ketajaman penanya dan kepeduliannya pada isu kemanusiaan, telah berpulang. Bagi banyak orang, ia bukan sekadar wartawan melainkan sosok yang menginspirasi, yang dengan keberanian dan empatinya menuliskan cerita-cerita penting yang sering luput dari sorotan publik.

Hermien meninggal dunia pada Senin malam, 29 September 2025, pukul 22.08 WIB di Rumah Sakit Umum Daerah Pasar Minggu, Jakarta. Kepergiannya menorehkan duka yang mendalam, tidak hanya bagi keluarga dan kerabat dekat, tetapi juga bagi rekan seprofesi, pembaca setia, dan banyak orang yang mengenalnya melalui karya-karya jurnalistiknya.

Jejak Panjang Seorang Jurnalis Perempuan

Lahir di Flores Timur, Hermien Yosephine Kleden tumbuh dengan semangat yang menuntunnya menempuh jalan penuh tantangan di dunia jurnalistik. Ia merintis karier sejak 1987 sebagai kontributor untuk sebuah majalah internasional asal Prancis. Dari sana, langkah-langkahnya semakin mantap. 

Pada 1998, ia dipercaya menduduki posisi penting sebagai Chief Editor di Tempo, membawahi sepuluh jurnalis Tempo Indonesia dan empat jurnalis Tempo berbahasa Inggris. Karier panjangnya membawanya melintasi lebih dari 30 negara, meliput berbagai peristiwa besar, sekaligus menyaksikan dinamika politik dan sosial dari dekat.

Hermien dikenal sebagai pekerja keras, terbiasa menuntaskan pekerjaan hingga belasan jam setiap hari. Ketelitiannya dalam memeriksa laporan dan data membuatnya dihormati. Rekan-rekan mengenangnya sebagai sosok disiplin, kritis, sekaligus peduli—kombinasi langka yang memperlihatkan kualitas kepemimpinan sejati di ruang redaksi.

Mengutip dari buku Jejak Jurnalis Perempuan yang diterbitkan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) pada 2012, Hermien memang tidak pernah menempuh pendidikan jurnalisme dengan perspektif gender secara formal. Namun, pengalaman panjang serta berbagai pelatihan yang ia jalani selama lebih dari dua dekade telah membentuk dirinya menjadi jurnalis tangguh. 

Dalam buku ini pula, ia menyoroti isu-isu hak perempuan di dunia kerja media, seperti cuti haid yang masih jarang dibicarakan dibandingkan cuti melahirkan, serta minimnya ruang menyusui di kantor-kantor media.

Baca juga: Nani Afrida: Jadi Jurnalis Perempuan Harus Saling Support dan Upgrade Diri

Penghargaan dan Jejak Pemikiran

Dedikasi Hermien membuahkan apresiasi besar. Pada 2009, ia menerima penghargaan SK Trimurti dari AJI, yang diberikan kepada perempuan yang berjuang memperkokoh demokrasi serta kebebasan berekspresi. Kariernya pun terus menanjak—ia pernah menjabat sebagai Wakil Redaktur Eksekutif dan Pemimpin Redaksi Tempo English, serta duduk sebagai anggota Dewan Eksekutif Tempo Media Group. Jejak karier ini menegaskan posisinya bukan hanya sebagai jurnalis, tetapi juga pemimpin yang memberi arah dan ruang bagi generasi muda.

Selain kerja jurnalistik, Hermien juga menulis dalam buku Perempuan NTT Bertutur (2021). Di sana, ia mengangkat pengalaman perempuan, diskriminasi, hingga relasi kuasa yang timpang, memperlihatkan keberpihakannya pada suara-suara yang kerap dipinggirkan. Tulisan itu menjadi bagian dari warisan intelektual sekaligus pengingat bahwa jurnalisme tak pernah bisa dipisahkan dari perjuangan kemanusiaan.

Perempuan, Jurnalisme, dan Keberanian

Menjadi jurnalis perempuan di Indonesia bukanlah perkara mudah, apalagi di era ketika Hermien memulai kariernya. Dunia media masih begitu maskulin, namun ia membuktikan diri bisa hadir sebagai pemikir kritis yang berani menyoal, menggugat, dan mengangkat isu-isu penting yang kerap diabaikan. Ia tidak hanya menulis, tetapi juga memimpin, menandai bahwa ruang bagi perempuan di dunia jurnalistik bisa dan harus diperjuangkan.

Rekan-rekan dan keluarganya mengenang Hermien sebagai sosok sederhana dan hangat, tetapi juga teguh pada prinsip. Dedikasi serta warisan tulisannya kini dianggap sebagai inspirasi bagi generasi muda, terutama jurnalis perempuan yang masih berjuang meneguhkan posisinya.

Baca juga: Dibungkam dengan Teror: Ancaman Berlapis Jurnalis Perempuan

Warisan yang Tak Pernah Padam

Kini, setelah kepergiannya, yang tersisa bukan hanya kenangan, melainkan warisan gagasan dan teladan. Hermien mengajarkan arti keberanian dalam menulis, konsistensi dalam bekerja, dan kepedulian yang tak bisa dilepaskan dari setiap produk jurnalistik. Baginya, berita bukan sekadar angka dan fakta, melainkan kisah manusia yang layak didengar dan dipahami.

Bagi generasi jurnalis muda, Hermien adalah pengingat bahwa dunia jurnalistik membutuhkan integritas, keberanian, dan daya tahan. Dunia media yang kini berubah dengan cepat, dibanjiri informasi dan tekanan komersial, semakin membutuhkan teladan seperti Hermien—jurnalis yang menolak tunduk pada kompromi yang melemahkan kebenaran.

Mengenang Hermien

Mengenang Hermien berarti mengenang semangat seorang perempuan yang berani menembus batas, yang menjadikan jurnalisme sebagai medan perjuangan. Ia menorehkan hampir empat dekade kiprah sebagai jurnalis, membangun ruang bagi perempuan di media, dan meninggalkan jejak pemikiran yang tak lekang oleh waktu.

Kepergian Hermien memang meninggalkan ruang kosong. Namun karya-karyanya, sikap kritisnya, dan warisan pemikirannya tetap hidup. Bagi mereka yang percaya pada kekuatan kata-kata, Hermien adalah bukti bahwa tulisan bisa menjadi senjata yang paling tajam untuk melawan lupa dan melawan ketidakadilan.

Selamat jalan, Hermien. Jurnalisme Indonesia berutang banyak pada keteguhanmu.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Teras

Artikel Lainnya

Perempuan Penyandang Disabilitas Menuju Inklusi Sosial

Perempuan Penyandang Disabilitas: Menuju Inklusi Sosial

Politisi Dunia dan Kebijakan Pronatalis

Baca dan Cermati, Jangan Sharring Informasi Hoaks

Leave a Comment