Bincangperempuan.com- B-Pers, pernah dengar istilah gold digger? Kalau pernah, apa bayangan yang pertama kali terlintas di kepalamu? Kemungkinan besar, seorang perempuan muda berpenampilan glamor yang sengaja mendekati, menggandeng, atau menikahi laki-laki paruh baya yang kaya raya.
Secara harfiah, istilah gold digger merujuk pada seseorang yang mengejar dan membangun hubungan asmara dengan orang lain demi satu tujuan tunggal: menggunakan atau menguras uang serta kekayaan pasangannya. Dalam dinamika ini, sang gold digger sama sekali tidak memiliki ketertarikan emosional maupun ketertarikan fisik yang tulus terhadap pasangannya. Karena tujuan utamanya hanyalah mendapatkan akses penuh terhadap harta dan fasilitas dari targetnya tersebut.
Istilah ini sudah sangat mengakar dalam budaya pop. Semenjak meledaknya lagu hit tahun 2005 dari Kanye West dan Jamie Foxx berjudul “Gold Digger”, yang secara terang-terangan mengeksplorasi kompleksitas dan risiko finansial dari hubungan asmara yang hanya didorong oleh motif kekayaan. Narasi ini juga menjadi tema langganan di berbagai reality show televisi Barat hingga berseliweran sebagai konten di berbagai platform media sosial.
Sayangnya, narasi yang terbangun dan telanjur diamini masyarakat soal gold digger adalah perempuan mengejar laki-laki kaya, laki-laki tertipu dan menjadi korban, dan ujung-ujungnya reputasi perempuanlah yang selalu dihancurkan.
Meskipun pada dasarnya siapa saja bisa menjadi seorang gold digger tanpa memandang jenis kelamin dan rentang usia, stigma yang berkembang di masyarakat selalu menyudutkan perempuan. Motifnya pun dikonstruksikan dengan sangat pragmatis—entah sang perempuan dengan sabar menunggu pasangan tuanya meninggal dunia demi meraup harta warisan, sengaja mengajukan gugatan cerai untuk menuntut pembagian harta gana-gini lewat jalur hukum, atau sekadar bertahan dalam hubungan toksik tersebut demi memanfaatkan fasilitas finansial sambil memberikan kontribusi sekecil mungkin sebagai imbal baliknya.
Baca juga: Orbiting: Hubungan Usai, Tapi Story Tetap Dipantau
Mengapa Perempuan Selalu Menjadi Wajah dari Gold Digger?
Mengapa perempuan yang selalu menjadi wajah dari istilah matre ini? Mengapa ada tendensi perilaku ini lebih sering dikaitkan dengan perempuan? Jawabannya tidak terletak pada sifat rakus yang diklaim sebagai kodrat, melainkan murni pada struktur sistemik dan realitas ekonomi sosial yang sangat timpang. Selama berabad-abad, perempuan tidak memiliki akses terhadap pendidikan, pekerjaan, apalagi kebebasan untuk memiliki properti sendiri.
Bahkan hingga hari ini, struktur pasar tenaga kerja masih sarat dengan bias di mana gaji perempuan rata-rata lebih rendah dibandingkan laki-laki untuk posisi yang sama (gender wage gap). Menurut UN Women, secara global perempuan hanya dibayar 77 sen untuk setiap 1 dolar yang dihasilkan laki-laki, yang berujung pada ketimpangan pendapatan seumur hidup dan membuat lebih banyak perempuan rentan jatuh miskin di masa tuanya.
Kondisi ini semakin diperparah dengan realitas bahwa perempuan lebih rentan mengalami demosi dan akses mereka untuk menaiki tangga karier sering kali terhalang oleh beban ganda urusan domestik. Di bawah sistem struktural yang menekan inilah, mencari pasangan laki-laki yang mapan secara finansial pada dasarnya bukanlah sebuah kelicikan atau sifat “matre”, tetapi juga strategi bertahan hidup (survival tactic).
Faktanya Gold Digger Tidak Memandang Gender
Namun, faktanya, perilaku gold digger atau taktik eksploitasi finansial dalam hubungan asmara itu sama sekali tidak memandang jenis kelamin. Laki-laki juga bisa sangat eksploitatif! Sebuah riset sosiologi dan psikologi terbaru dari Freyth dan Jonason (2026) secara spesifik meneliti apakah perilaku gold digging benar-benar terbatas pada satu gender saja. Menggunakan sampel 351 partisipan, penelitian ini mengukur preferensi mereka terhadap keuntungan materialistis versus kedekatan emosional sejati, sembari melihat kepribadian, latar belakang sosial, dan posisi mereka di lanskap pencarian jodoh.
Hasilnya sukses menampar stereotipe patriarki yang ada. Studi ini mengonsepkan gold digging bukan sekadar niat wajar mencari pasangan yang mapan, melainkan murni sebuah taktik manipulasi yang eksploitatif. Temuannya menunjukkan bahwa perilaku merugikan ini sama sekali tidak secara eksklusif diamati pada perempuan. Karakteristik seorang gold digger justru sangat erat kaitannya dengan dark triad kepribadian, khususnya psikopati (ekspresi kecerobohan dan ketidakpedulian pada kerugian orang lain) serta narsisisme yang tinggi.
Selain itu ditemukan bahwa mahasiswi berhaluan politik sayap kanan mencetak skor gold digging yang tinggi, yang selaras dengan akses mereka terhadap pasangan berdaya saing. Namun, hal yang paling krusial adalah: laki-laki berhaluan sayap kiri (progresif/liberal) ternyata melaporkan nilai diri (mate value) yang sangat tinggi dan menunjukkan skor gold digging yang memuncak. Para peneliti berargumen bahwa kelompok laki-laki ini sangat mungkin menggunakan afiliasi pandangan politik yang seolah berpihak pada kesetaraan sekadar sebagai “sinyal” memikat perempuan, padahal niat sesungguhnya adalah strategi seksual yang manipulatif dan eksploitatif terhadap aset pasangannya.
Baca juga: Menunggu atau Mengejar? Mitos Perempuan dalam Hubungan
Pergeseran dinamika ini didukung oleh berbagai data yang mematahkan stereotip lama. Laporan dari Pew Research Center dan tinjauan American Psychological Association (APA) menunjukkan adanya perubahan terukur dalam standar pencarian pasangan, di mana laki-laki kini menaruh porsi perhatian yang jauh lebih besar pada kapasitas finansial perempuan. Bukti ini meruntuhkan pandangan tradisional yang selama ini mengasumsikan bahwa laki-laki murni hanya memprioritaskan daya tarik fisik tanpa memperhitungkan kemapanan finansial pasangannya.
Dinamika hubungan romantis hari ini terus berubah dengan pesat. Hal ini tidak lepas dari realitas di mana pendapatan, peluang karier, dan independensi perempuan terus meroket naik. Banyak perempuan saat ini menduduki jabatan manajerial dan memiliki aset yang jauh lebih stabil. Kondisi inilah yang membalikkan keadaan; laki-laki saat ini memiliki kecenderungan yang sama besarnya untuk memandang harta dari pihak perempuan.
Jadi, pelaku eksploitasi finansial atau gold digger dalam sebuah hubungan adalah murni masalah moral dan karakter, bukan masalah gender. Menginginkan pasangan yang punya literasi dan stabilitas finansial adalah hal yang sangat cerdas dan rasional. Sudah saatnya kita membuang kebiasaan menggunakan label gold digger sebagai senjata miskin empati untuk menyudutkan perempuan.
Referensi:
- Freyth, L., & Jonason, P. K. (2026). Mercenary predators: Individual characteristics of gold diggers. Personality and Individual Differences, 258. https://doi.org/10.1016/j.paid.2026.113817
- Pew Research Center. (2017, 20 September). Americans see men as the financial providers, even as women’s contributions grow. https://www.pewresearch.org/short-reads/2017/09/20/americans-see-men-as-the-financial-providers-even-as-womens-contributions-grow/
- UN Women. (n.d.) Equal pay for work of equal value. https://www.unwomen.org/en/news/in-focus/csw61/equal-pay
- WebMD. (2024, 15 November). Signs of a gold digger. https://www.webmd.com/sex-relationships/signs-gold-digger
