Tren “Plenger” TikTok: Saat Disabilitas Dijadikan Lelucon, Apa Bahayanya?

Ais Fahira

News

Bincangperempuan.com– Di TikTok, kamu mungkin pernah melihat tren dance dengan dua lembar tisu. Ketika musik berbunyi, tisu dilepaskan dari tangan, lalu harus ditangkap dengan tangan lainnya. Semakin lama, temponya menjadi semakin cepat, dan jumlah tisu juga ditambah. Mulanya, tren ini berawal dari pengguna di China yang sekadar memamerkan kepiawaian refleks mereka dalam memainkan tisu agar tidak jatuh ke lantai. 

Namun, ceritanya menjadi problematik ketika tren tersebut sampai ke beranda warganet Indonesia. Tren ini dimodifikasi sedemikian rupa. Alih-alih berfokus pada ketangkasan menangkap tisu, beberapa kreator tiba-tiba mengubah mimik wajah mereka—seakan-akan sedang kejang, mengalami kelumpuhan wajah, atau menunjukkan tics (gerakan atau suara spontan di luar kendali yang dialami oleh individu dengan sindrom atau kebutuhan khusus tertentu).

Mirisnya, ini tidak berhenti sebagai sekadar video lewat. Salah satu pengguna bahkan secara sadar menjadikan ekspresi wajah yang kerap disebut netizen sebagai wajah “plenger” ini sebagai identitas atau personal branding-nya. Dari eksploitasi mimik tersebut, ia meraup atensi dan bahkan mendapatkan endorsement. Hal ini memicu kegeraman netizen yang sadar. Menjadikan kondisi disabilitas sebagai bahan bercandaan apalagi menjadikannya komoditas untuk mengeruk keuntungan pribadi adalah tindakan yang sangat tidak etis.

Baca juga: Mitos Gold Digger: Eksploitasi Finansial Tidak Memandang Gender

Mengapa Menganggap Lucu Ekspresi “plenger” Itu Ableism?

Lantas di mana letak kesalahannya? Secara tidak sadar ketika kita menganggap ekspresi kejang sebagai hal lucu, kita sedang melanggengkan satu konsep yaitu ableism. Secara harfiah, ableism adalah serangkaian kepercayaan atau praktik yang merendahkan dan mendiskriminasi penyandang disabilitas—baik fisik, intelektual, maupun psikiatris. Praktik ini sering kali bersandar pada asumsi usang bahwa penyandang disabilitas adalah kelompok yang “rusak” dan perlu “diperbaiki”. 

Ableism menjalar kuat dalam budaya kita akibat sempitnya pemahaman masyarakat tentang makna disabilitas, cara kelompok non-disabilitas diajarkan untuk memperlakukan disabilitas, dan bagaimana kelompok disabilitas jarang dilibatkan dalam pengambilan keputusan.

Seperti kebanyakan bentuk diskriminasi, ableism sering muncul dari kelompok non-disabilitas yang mengklaim punya niat baik atau sekadar bercanda. Akar dari diskriminasi ini bermuara pada model medis disabilitas (medical model of disability). Sejak awal, masyarakat diajarkan untuk melihat disabilitas murni lewat kacamata dokter—bahwa ada sesuatu yang “salah” pada diri seseorang dan hal tersebut harus diobati. 

Masalahnya, interpretasi kita terhadap kata “salah” itulah yang keliru. Sesuatu yang berbeda, tidak otomatis berarti buruk. Ableism terlihat dari cara masyarakat diajarkan untuk berkomunikasi dan memperlakukan kelompok disabilitas. Sejak kecil, banyak orang non-disabilitas diajarkan untuk bersikap ekstra baik atau merasa kasihan. Meski tujuannya mungkin agar inklusif, sikap kasihan yang berlebihan justru merendahkan karena mengasumsikan bahwa penyandang disabilitas itu tidak berdaya (helpless). 

Asumsi ketidakberdayaan inilah akar masalahnya. Ketika seseorang di TikTok memparodikan tics atau ekspresi disabilitas sebagai lucu-lucuan. Mereka sedang meminjam kondisi medis orang lain untuk ditertawakan, karena dianggap menyimpang dari standar normal. 

Apa Dampaknya Bagi Teman-teman Disabilitas?

Sayangnya, kritik terhadap tren semacam ini dibalas dengan komentar, “Ah, baper amat, ini kan cuma konten lucu-lucuan.” Padahal, data dan sains membuktikan sebaliknya. Diskriminasi dan ejekan ini berdampak sangat fatal, terutama bagi anak-anak dan remaja.

Berdasarkan tinjauan sistematis berskala global yang dilakukan oleh Lindsay dkk. (2026), yang meneliti lebih dari 20.000 anak dan remaja dengan disabilitas di 12 negara, ableism terbukti menghancurkan kesehatan fisik dan mental korban. Anak-anak dan kelompok muda dengan disabilitas sangat rentan terhadap diskriminasi semacam ini.

Secara fisik, paparan ableism dapat memicu cedera, rasa sakit, hingga memperburuk gejala disabilitas yang mereka alami. Selain itu, hantaman terberatnya ada pada kesehatan mental. Tren yang merendahkan kondisi mereka berkontribusi langsung pada tekanan emosional, depresi, dan kecemasan. 

Lelucon semacam ini menghancurkan persepsi diri, menurunkan kepercayaan diri, dan secara tragis dapat meningkatkan kecenderungan bunuh diri (suicidality). Singkatnya, lelucon receh demi endorsement itu dibayar mahal dengan hancurnya kualitas hidup ribuan anak dengan disabilitas yang menyaksikannya

Baca juga: Ketika Politik Identitas Menjadi Pengalihan Isu di Kala Krisis 

Mengapa Kita Harus Mengakhiri Tren “plenger”?

Kita tidak bisa terus menoleransi tren seperti ini dengan berlindung di balik tameng kebebasan berekspresi atau sekadar humor gelap (dark jokes). Dalam diskursus media sosial, mengejek disabilitas adalah kekerasan yang sering luput dari radar.

Menurut riset Trindade (2024), terdapat fenomena di mana pengguna media sosial di Brazil menemukan “hiburan” dengan mengolok-olok kondisi disabilitas orang lain. Dalam analisis wacana kritisnya, tindakan mengejek ini menjadi sebuah mekanisme terang-terangan untuk mencabut nilai kemanusiaan seseorang dan mereduksi eksistensi mereka semata-mata pada keterbatasan fisik atau mentalnya.

Itu artinya ketika seorang kreator dengan sengaja menirukan kelumpuhan wajah untuk ditertawakan, ia sedang mengobjektifikasi kelompok disabilitas. Serta mengabaikan realitas serta perjuangan hidup mereka, dan pada akhirnya mengubah mereka menjadi sekadar objek tertawaan.

Media sosial memiliki kekuatan besar untuk membentuk dan menormalisasi budaya. Jika kita terus memberikan panggung, likes, dan validasi kepada kreator yang mengeksploitasi disabilitas sebagai strategi marketing atau personal branding, kita sedang menjadi ableist. Disabilitas bukanlah bahan komedi, dan juga bukan alat untuk mencari uang lewat jalan pintas. Sudah saatnya kita berhenti menormalisasi ableism di FYP kita.

Referensi

  • Center for Disability Rights. (n.d.). Ableism. https://cdrnys.org/blog/uncategorized/ableism/
  • Lindsay, S., Phonepraseuth, J., Leo, S., & Abdeahad, N. (2026). The impact of ableism on the health and well-being of children and youth with disabilities: a systematic review. Disability and Rehabilitation, 48(8), 2265–2287. https://doi.org/10.1080/09638288.2025.2578425
  • Trindade, L. V. P. (2024). Disability is no laughing matter: A critical discourse analysis of disability mockery on social media in Brazil. Canadian Journal of Latin American and Caribbean Studies / Revue Canadienne Des Études Latino-Américaines et Caraïbes, 49(1), 22–36. https://doi.org/10.1080/08263663.2023.2271306

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Teras

Artikel Lainnya

Slut Shaming Kekerasan Verbal yang Merendahkan Perempuan

Slut Shaming: Kekerasan Verbal yang Merendahkan Perempuan

Mengapa Perlu Perspektif Ekonomi Feminis dalam COP30?

Ketika Merah Putih Dijadikan Template Nasionalisme

Ketika Merah Putih Dijadikan Template Nasionalisme

Leave a Comment