Negara Tak Ramah Kasih Sayang: Batas Cinta dan Mesum Kabur, Kekerasan Muncul

Ais Fahira

News

Bincangperempuan.com- Di banyak tempat di Indonesia, memperlihatkan kasih sayang di depan umum atau istilah kerennya public display of affection (PDA)—masih dianggap tabu. Pelukan, cium pipi, pegangan tangan, bahkan sekadar sandaran bahu, bisa jadi bahan teguran, olokan, atau malah tindakan represif. Bukan hanya aparat, tapi kadang pemuda setempat ikut merasa berhak menertibkan pasangan yang sedang mesra. Ada kasus di Jambi yang belum lama ini terjadi misalnya, di mana sepasang muda-mudi yang hanya duduk berduaan di jembatan justru jadi sasaran kekerasan pemuda setempat. 

Fenomena ini menunjukkan bagaimana kasih sayang sering kali dipandang lebih berbahaya daripada kekerasan itu sendiri. Ironisnya, saat ada kekerasan di jalanan, publik kerap bersikap lebih permisif.

Di era digital, stigma itu justru semakin kentara. Video amatir pasangan berduaan di taman atau kafe kerap beredar di media sosial, diberi caption sarkas, lalu dibanjiri komentar sinis: “cinta tak selamanya indah dek,”lebay banget,” “kayak nggak ada tempat lain” hingga “tunggu aja nanti ditinggal.” Alih-alih menormalisasi kasih sayang, masyarakat justru mencemoohnya. Lantas mengapa kasih sayang di ruang publik dipandang lebih mengganggu dibandingkan kekerasan yang jelas-jelas membahayakan?

Menunjukkan Kasih Sayang di Ruang Publik Masih Tabu di Indonesia

Indonesia termasuk negara yang paling rendah tingkat penerimaannya terhadap PDA. Penelitian lintas budaya oleh tim psikolog internasional (melibatkan Indonesia, Nepal, dan Polandia) menunjukkan bahwa partisipan dari Indonesia memiliki ekspresi kasih sayang publik paling sedikit, diiringi dengan sikap negatif paling tinggi terhadap PDA. Sebaliknya, peserta dari Polandia justru paling terbuka, sementara Nepal berada di tengah-tengah.

Menariknya, penelitian itu juga menunjukkan hubungan yang konsisten antara PDA dan kepuasan dalam hubungan. Pasangan yang lebih sering menunjukkan kasih sayang, baik di ruang privat maupun publik, cenderung merasa lebih puas dalam relasinya. Dengan kata lain, ekspresi kasih sayang bukan sekadar “gaya-gayaan,” tetapi berperan penting dalam menjaga kedekatan emosional pasangan. Namun di Indonesia, norma sosial yang konservatif membuat ekspresi ini kerap ditekan.

Baca juga: Bercanda soal Perceraian? Cobalah Memahami Keberanian Perempuan 

Kenapa Kita Tidak Nyaman dengan PDA?

Budaya di Indonesia cenderung anti terhadap PDA, karena ekspresi kasih sayang di ruang publik sering dianggap tidak pantas. Faktor-faktornya mencakup norma sosial, religiusitas, patriarki, dan standar ganda masyarakat, yang akan dijelaskan lebih rinci sebagai berikut:

  1. Norma Sosial dan Pengaruh Budaya Lokal
    Banyak komunitas, terutama yang konservatif atau religius, memegang nilai bahwa hubungan romantis harus tersembunyi dan tidak dipamerkan. Afeksi di depan umum meski pelukan singkat sering dianggap melanggar kesopanan, sehingga pasangan yang mengekspresikannya bisa menjadi sasaran teguran atau cemooh. 
  2. Religiusitas dan Moralitas Publik
    Selain norma sosial, ajaran agama berperan besar dalam membentuk sikap terhadap PDA. Di banyak komunitas religius, ekspresi kasih sayang di ruang publik lewat kontak fisik, walau ringan seperti pegangan tangan, pelukan singkat, atau cium pipi dianggap melanggar aturan agama dan norma kesopanan. Akibatnya, orang yang mengekspresikan PDA kerap dipandang tidak punya kendali diri dan berisiko dicap melanggar ajaran agama.
  3. Patriarki yang Membenci Ekspresi Feminin
    Dari kecil, kita dibentuk lewat sentuhan ibu dipeluk, digendong, ditimang, dicium, digandeng ke sekolah. Semua itu adalah bentuk care work yang identik dengan feminitas. Ironisnya, begitu masuk ruang publik, ekspresi yang sama malah dianggap lemah, norak, atau memalukan. Artinya, kebencian pada PDA adalah bentuk penolakan terhadap feminitas. Kita lebih suka melihat pasangan tampil dingin di luar karena maskulinitas—yang identik dengan kontrol diri, dan jarak—masih dipuja sebagai standar kepantasan sosial. Pada akhirnya, larangan terhadap PDA berfungsi sebagai cara patriarki mengatur ekspresi tubuh, lewat dalih kesopanan.
  4. Double Standards dan Fokus pada “Apa Kata Orang”
    Masalah terbesar sebenarnya terletak pada standar ganda. Pasangan yang bergandengan tangan bisa dipermalukan, sementara kekerasan fisik seperti kekerasan dalam rumah tangga justru kerap dianggap urusan pribadi. Kasih sayang dianggap “mengumbar privasi,” padahal kekerasan, pelecehan verbal, atau aksi brutal bisa lolos dari perhatian publik. Paradoks ini menunjukkan bahwa masyarakat lebih resah dengan ekspresi cinta yang wajar daripada tindakan yang nyata merugikan.

Dari Jalanan ke Timeline: Sosial Media Memperkuat Pola

Meski PDA di ruang publik fisik sering ditegur atau bahkan diserang, di media sosial situasinya berbeda. Remaja dan anak muda kini lebih nyaman mengekspresikan kasih sayang lewat unggahan foto, story, atau komentar manis. Platform digital memberi ruang lebih aman, karena audiens bisa dipilih—teman dekat, pasangan, atau followers yang sefrekuensi.

Berbagai studi menunjukkan bahwa Gen Z dan milenial memandang media sosial sebagai “ruang privat kedua.” Di sini, mereka bisa menunjukkan kasih sayang tanpa takut diintervensi pemuda setempat atau aparat. Banyak di antaranya membagikan foto bersama dengan caption romantis, bergandengan tangan, atau berangkulan, sebagian karena tekanan teman sebaya—kalau semua teman melakukannya, mereka ikut menyesuaikan diri agar tidak ketinggalan. Namun, pola ini sebenarnya juga punya risiko baru cibiran massal dari warganet jika unggahan mereka viral di luar lingkaran aman. 

Baca juga: Apa Itu Doom Spending? Benarkah Anak Muda Gagal Menabung Karena Foya-foya?

PDA Tidak Sama dengan Mesum dan Standar Absurd Kesusilaan

Norma kesusilaan di Indonesia sering dipakai untuk mempersekusi praktik PDA, padahal batasannya sendiri kabur. Afeksi sederhana seperti pegangan tangan, pelukan singkat, atau cium pipi kerap dipukul rata dengan perilaku seksual di ruang publik. Standarnya juga tidak konsisten, misalnya pasangan duduk bersenderan di kafe bisa ditegur, tapi berpelukan di motor di jalanan justru dianggap lumrah.

Masalah utamanya adalah definisi “mesum” yang tidak pernah jelas. Akibatnya, kasih sayang dipersepsi sama dengan perilaku cabul. Padahal, jelas sekali perbedaan antara ekspresi kasih sayang yang wajar dengan tindakan yang memang melanggar ruang publik. Masyarakat yang sehat seharusnya bisa membedakan keduanya. Kalau kita terus menabukan afeksi sambil menormalisasi kekerasan, jangan salahkan bila negeri ini semakin terasa tidak ramah bagi cinta.

Kebingungan standar inilah yang sebenarnya bisa dibaca sebagai moral panic—kepanikan sosial yang berlebihan terhadap sesuatu yang dianggap mengancam moral, padahal sebenarnya tidak. Sama seperti musik rock, pakaian mini, atau rambut berwarna yang dulu dicap merusak generasi, PDA pun jadi sasaran panik moral. Akhirnya, kasih sayang sederhana dipukul rata dengan tindakan cabul hanya karena masyarakat tidak pernah punya definisi jelas tentang “kesusilaan.”

Referensi:

  • Kocur, D., Jach, Ł., Sitko-Dominik, M., Dhakal, S., Sharma, N., Harsono, Y. T., Przybylska, I., Nieduziak, E., Dzienniak-Pulina, D., & Rychłowska-Niesporek, A. (2025). To hug or not to hug? Public and private displays of affection and relationship satisfaction among people from Indonesia, Nepal, and Poland. PLOS ONE, 20(6), e0326115. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0326115 
  • Linzonia, Y. U. (2021). Analisis public display of affection (PDA) melalui interaksi hubungan teman sebaya pada media sosial Instagram (Skripsi, Universitas Pendidikan Indonesia). https://repository.upi.edu/68451/
  • Zanrela, A., & Yuliarti, M. S. (2019). Kasus public display of affection: Studi kasus motif dan proses produksi pesan public display of affection (PDA) pada Instagram mahasiswa Ilmu Komunikasi Reguler Tahun 2016 Universitas Sebelas Maret. Jurnal Komunikasi Massa, 20(1), 1–15. https://www.jurnalkommas.com/docs/Jurnal%20D1216011.pdf

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Teras

Artikel Lainnya

Representasi Gender dalam Iklan

Kesetaraan Gender dalam Iklan: Dari Dapur hingga Panjat Tebing

Belajar Demokrasi dari Gen Z Nepal yang Pilih Perdana Menteri Lewat Discord

Belajar Demokrasi dari Gen Z Nepal yang  Pilih Perdana Menteri Lewat Discord

Centil artinya

“Centil Era”, Memberdayakan Perempuan dengan Cara Positif

Leave a Comment