Ngakak Liat Si Kaya Jatuh? It’s Called Eat The Rich

Ais Fahira

News

Ngakak Liat Si Kaya Jatuh It’s Called Eat The Rich

Bincangperempuan.com- Kondisi Indonesia sekarang jelas nggak bisa dibilang “baik-baik aja.” Hampir tiap bulan ada aja kebijakan baru yang bikin publik ribut. Yang terbaru, soal rencana naiknya tunjangan dan gaji anggota DPR RI. Nggak heran, berita itu langsung bikin masyarakat ngamuk, sampai demo pecah di mana-mana. Puncaknya, muncul kabar beberapa rumah anggota dewan dijarah massa.

Siapa pelakunya? Masih misteri. Bisa jadi warga yang kesel, bisa juga ada pihak lain yang sengaja bikin kericuhan. Tapi yang jelas, kejadian itu malah jadi tontonan sekaligus hiburan publik. Di medsos, berseliweran postingan soal barang-barang hasil jarahan—dari perabot rumah tangga, barang branded, hewan peliharaan, sampai ijazah. Semua itu akhirnya jadi bahan meme, guyonan, dan candaan rame-rame.

Fenomena ini nyambung banget sama istilah eat the rich—ungkapan perlawanan yang nunjukin kepuasan kolektif ketika orang kaya atau elit yang biasanya jauh dari realita, akhirnya kena batunya dan jadi bahan kritik bareng-bareng.

Apa Sih Maksudnya Eat The Rich?

Istilah “eat the rich” pertama kali keluar dari pemikir Prancis abad ke-18, Jean-Jacques Rousseau. Dia bilang: “When the people shall have nothing more to eat, they will eat the rich.” Ungkapan itu muncul pas era Revolusi Prancis, waktu jurang antara rakyat miskin kelaparan dengan kaum aristokrat yang foya-foya makin nggak ketolong.

Sejak itu, frasa ini jadi simbol kritik sosial-ekonomi. Eat the rich jelas bukan ajakan beneran buat “makan orang kaya,” tapi lebih ke sindiran. Maksudnya, kalau kebutuhan rakyat nggak dipenuhi, kemarahan bisa meledak dan diarahkan ke kelas penguasa.

Fast forward ke era digital: istilah ini makin populer di kalangan anak muda. Di TikTok, X, sampai Instagram, eat the rich dipakai jadi meme dan satire buat ngetawain gaya hidup hedon para pejabat atau miliarder.

Di Indonesia sendiri, frasa ini makin kerasa relevan. Setiap kali ada kesenjangan mencolok—kayak kasus naiknya tunjangan DPR—publik biasanya ngerespons dengan kemarahan yang dibungkus humor gelap. Meme soal jarahan rumah dewan itu cuma salah satu contohnya. Sama kayak di Barat, ungkapan ini jadi cara kolektif buat ngetawain sekaligus ngelawan ketidakadilan.

Baca juga: Apa Benar Seks Hiburan Bagi Orang Miskin?

Eat The Rich di Budaya Pop

Nggak cuma di politik, eat the rich juga udah jadi bagian dari budaya populer. Istilah ini nongol di lagu, film, serial, meme internet, sampai fashion. Intinya, udah jadi arus utama budaya massa.

Di film, misalnya. Banyak banget karya yang secara terang-terangan nge-frame orang kaya sebagai musuh atau bahan satir. Contoh paling nendang: Parasite (2019) karya Bong Joon-ho, yang gamblang banget nunjukin jurang kelas antara keluarga miskin dan kaya. Terus ada The Menu (2022) yang ngekritik elitisme dunia kuliner, Saltburn (2023), dan The White Lotus (2021) yang ngulik sisi gelap orang kaya: moral bobrok, spiritual kosong, tapi semua itu ketutup sama harta melimpah.

Polanya sama: karakter kaya digambarin jatuh, menderita, atau bahkan mati. Buat penonton, lihat penderitaan itu bukan cuma hiburan, tapi juga kayak fantasi sosial—semacam kepuasan karena akhirnya ada “balasan” buat privilese mereka.

Di luar film, eat the rich juga hidup lewat meme dan tren medsos. Meme yang nyinyirin miliarder atau nyindir selebritas pamer harta jadi kanal kritik yang murah, cepat, dan gampang diakses siapa aja. Humor gelap bikin kritik sosial jadi lebih “ngena” sekaligus lebih gampang diterima.

Lucunya, slogan eat the rich juga udah jadi fashion statement. Kaos, tote bag, sampai aksesori dengan tulisan itu dijual di mana-mana, terutama buat anak muda. Ironis banget, karena kritik terhadap kapitalisme akhirnya malah dikapitalisasi lagi lewat produk kapitalis.

Fenomena ini nunjukin kalau eat the rich udah bukan sekadar slogan perlawanan. Ia udah jadi narasi cair yang bisa terus diputar, dipasarkan, sekaligus nunjukin ambiguitas antara kritik dan komodifikasi.

Kenapa Kita Happy Lihat Orang Kaya Susah?

Dalam psikologi, ada istilah schadenfreude. Dari bahasa Jerman, Schaden artinya “kerusakan,” Freude artinya “kesenangan.” Jadi sederhananya, itu perasaan puas waktu ngelihat orang lain kena sial.

Fenomena ini juga udah terbukti ilmiah. Menurut Britannica, ketika seseorang yang dianggap berkuasa atau patut dicemburui jatuh sial, bagian otak yang ngurus “reward” alias rasa kemenangan bakal aktif. Jadi, secara biologis, otak kita nganggep itu kayak kemenangan kecil, bikin kita ngerasa lega atau puas.

Tapi rasa puas ini nggak berdiri sendiri. Ada faktor sosial dan politik yang ngedukung:

  • Secara sosial, penderitaan orang kaya dianggap kayak balas dendam simbolis atas penderitaan rakyat.
  • Secara politik, ini jadi bentuk protes nggak langsung. Lewat tawa, meme, atau film satir, kritik bisa lebih gampang nyampe ke publik.
  • Secara personal, ngelihat orang berkuasa jatuh bisa bikin seseorang ngerasa lebih baik dibandingkan dirinya sendiri.

Jadi, rasa puas liat si kaya menderita bukan cuma hiburan. Tapi udah rooted di psikologi manusia, diperkuat ketidakadilan sosial, dan hadir di budaya pop sebagai ekspresi kolektif.

Baca juga: Benarkah Kalau Miskin Dilarang Punya Anak?

Eat The Rich Nggak Akan Pernah Mati

Selama jurang kaya-miskin makin lebar, ungkapan ini bakal terus hidup. Bentuknya bisa meme, satire, atau hiburan kolektif lain yang gampang viral. Tapi intinya, eat the rich bukan sekadar lelucon, tapi representasi rasa muak masyarakat terhadap sistem yang timpang.

Dengan kata lain, selama masih ada segelintir orang yang hidup kelewat mewah di tengah mayoritas rakyat yang ngos-ngosan buat kebutuhan dasar, eat the rich bakal terus relevan. Dia bakal terus jadi slogan abadi—pengingat, sekaligus perlawanan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Teras

Artikel Lainnya

Australia Batasi Usia Pengguna Media Sosial, Akankah Indonesia Menyusul?

Generation Gap

Usia Bukan “Sekadar” Angka

Dorong Tata Kelola Digital Berbasis Hak Publik, AMSI dan UNESCO Hadirkan Podcast Ruang Damai

Leave a Comment