Apa Benar Seks Hiburan Bagi Orang Miskin?

Ais Fahira

News

Apa Benar Seks Hiburan Bagi Orang Miskin

Bincangperempuan.com- B’Pers, kita sering mendengar ungkapan “seks adalah hiburan bagi masyarakat miskin.” Ungkapan ini menyiratkan adanya ketimpangan akses terhadap bentuk-bentuk hiburan yang lebih beragam dan dianggap “berkelas”. Dalam konteks ini, seks dianggap sebagai satu-satunya pelarian yang murah dan mudah diakses oleh masyarakat berpenghasilan rendah. Namun, narasi memuat stigma buruk terutama terhadap perempuan, yang kembali menjadi kelompok rentan akibat ketimpangan ekonomi dan relasi kuasa. 

Ada yang mengatakan bahwa seks adalah satu-satunya hiburan bagi orang miskin karena keterbatasan akses terhadap fasilitas hiburan lain. Mereka tinggal di ruang sempit, minim hiburan, dan akhirnya menjadikan seks sebagai bentuk pengalihan atau pelampiasan. Dari asumsi ini muncul pula stereotip bahwa orang miskin memiliki banyak anak karena terlalu sering berhubungan seks. Namun, apakah klaim ini didukung oleh fakta?

Baca juga: Bengkulu Darurat Perkawinan Anak: 625 Kasus dalam Setahun

Seks adalah Hiburan Orang Miskin, Mitos atau Fakta ?

Stigma yang beredar di masyarakat mengatakan bahwa seks adalah satu-satunya hiburan bagi orang miskin karena keterbatasan akses terhadap fasilitas hiburan lain. Mereka tinggal di ruang sempit, minim hiburan, dan akhirnya menjadikan seks sebagai bentuk pengalihan atau pelampiasan. Dari asumsi ini muncul pula stereotip bahwa orang miskin memiliki banyak anak karena terlalu sering berhubungan seks. Namun, apakah klaim ini didukung oleh fakta?

Ternyata tidak ada fakta yang menyebutkan bahwa orang miskin atau kelas bawah cenderung berhubungan seksual lebih sering. Menurut riset “Social Class and Marital Sex in China” yang dipublikasikan dalam Sage Publication, frekuensi hubungan seksual justru paling banyak dilakukan oleh kelas menengah. Studi ini juga menunjukkan bahwa peningkatan frekuensi hubungan seksual dari tahun ke tahun lebih signifikan pada kelompok kelas bawah, tetapi peningkatan itu masih tergolong kecil jika dibandingkan dengan stabilitas angka pada kelas menengah.

Dengan kata lain, meskipun ada peningkatan pada kelas bawah, anggapan bahwa orang miskin paling banyak berhubungan seks atau bahwa seks adalah satu-satunya hiburan mereka, adalah penyederhanaan yang tidak akurat dan bias secara kelas.

Adakah Pengaruh Kelas Sosial terhadap Perilaku Seksual?

Secara frekuensi, seks memang tidak mengenal kelas sosial, baik orang kaya, miskin, dan kelas menengah sama-sama punya dorongan dan aktivitas seksual. Tapi bukan berarti seks berdiri sendiri, lepas dari pengaruh struktur sosial. Justru, hubungan antara seks dan kelas sosial itu saling berkait secara kompleks.

Dalam wawancara dengan The Face, Dr. Hannah Charnock, dosen sejarah Inggris di University of Bristol, menjelaskan bahwa motivasi orang untuk melakukan hubungan seksual sangat dipengaruhi oleh kelas sosial, terutama pada usia muda. “Dalam banyak komunitas kelas bawah, seks di usia muda bisa dilihat sebagai penanda status, bahkan jika dilakukan di luar hubungan formal. Perempuan kelas bawah bisa menggunakan seks sebagai sarana untuk mobilitas sosial,” jelasnya. Sebaliknya, dalam komunitas kelas menengah, seks bebas  justru bisa menurunkan status sosial seseorang. Seks menjadi sesuatu yang skandalistik dan tabu.

Tempat dan usia ketika seseorang mulai aktif secara seksual juga sangat bervariasi antar kelas sosial. Faktor ekonomi dan dinamika keluarga memengaruhi sejauh mana seks bisa diakses atau dilakukan. Misalnya, remaja kelas bawah yang tinggal di rumah susun dengan banyak anggota keluarga dan ruang terbatas, cenderung melakukan hubungan seksual di luar rumah atau di rumah orang lain yang lebih “privileged“. Sementara remaja kelas menengah biasanya memiliki kamar pribadi, kendaraan, atau ruang yang cukup untuk melakukan seks secara lebih “privat”.

Perempuan muda dari kelas bawah juga lebih berisiko memulai aktivitas seksual sebelum usia legal untuk memberikan persetujuan. Mereka cenderung memiliki akses yang lebih rendah terhadap sumber daya, informasi, dan pendidikan seks yang membuat mereka kesulitan menegosiasikan keinginan sendiri, serta melindungi diri dari kehamilan tidak diinginkan. Di saat yang sama, mereka juga lebih rentan terhadap kekerasan seksual dibanding kelompok kelas lainnya.

Fakta-fakta ini menunjukkan pentingnya pendidikan seks yang inklusif, sambil tetap memahami bahwa pengalaman seksual sangat dipengaruhi oleh kelas. Misalnya, kontrasepsi mungkin masih dianggap tabu di komunitas kelas bawah, karena pendidikan seks masih minim dan tekanan norma sosial. 

Baca juga: Ruang Aman Anak di Bengkulu: Kegentingan yang Terabaikan

Faktor yang Memengaruhi Aktivitas Seksual

Di luar faktor kelas sosial, perlu diketahui bahwa perilaku seksual juga dipengaruhi oleh berbagai faktor biologis, psikologis, dan situasional. Menurut Medical News Today, ada sejumlah variabel yang menentukan frekuensi hubungan seksual seseorang:

  • Kesehatan secara keseluruhan: Kondisi medis, pengobatan, dan perubahan hormon dapat memengaruhi hasrat seksual. Misalnya, menstruasi, kehamilan, menopause, atau kadar testosteron yang rendah pada laki-laki dapat menurunkan libido. Obat seperti antidepresan juga bisa menurunkan gairah seksual.
  • Usia: Seiring bertambahnya usia, aktivitas seksual cenderung menurun. Biasanya berhubungan dengan kondisi kesehatan dan perubahan hormon.
  • Perubahan dalam hubungan: Semakin lama sebuah hubungan berjalan, aktivitas seksual bisa jadi lebih rutin atau bahkan menurun. Komunikasi yang terbuka menjadi penting untuk menjaga kebutuhan seksual agar tetap terpenuhi.
  • Rutinitas kehidupan: Stres karena bawahan, tanggung jawab rumah tangga, dan kesibukan sehari-hari juga bisa mengganggu ritme seksual. Beberapa pasangan mengatasinya dengan menjadwalkan waktu khusus.
  • Peristiwa global: Misalnya, selama pandemi COVID-19, aktivitas seksual menurun pada sebagian besar pasangan di Tiongkok, tetapi justru meningkat di kalangan pasangan menikah di Singapura dan Inggris.

Faktor-faktor ini menunjukkan bahwa seks bukan hanya dipengaruhi oleh faktor ekonomi, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh kondisi tubuh, psikologi, situasi sosial, dan dinamika relasi.

Mengapa Stigma Ini Memberatkan Perempuan

Stigma bahwa seks adalah hiburan bagi orang miskin secara tidak langsung menempatkan perempuan sebagai objek hiburan. Terutama perempuan yang hidup dalam keterbatasan ekonomi. Narasi ini memposisikan perempuan miskin sebagai pihak yang tidak berdaya, pasif, dan hanya “tersedia” untuk kebutuhan seksual, baik dalam konteks pernikahan maupun di luar itu. Perempuan menjadi representasi hiburan murah, seakan-akan tubuh mereka adalah sarana pengalihan dari kemiskinan.

Narasi ini juga sering dipakai untuk menyalahkan perempuan atas jumlah anak yang mereka miliki, tanpa melihat faktor-faktor struktural seperti akses terhadap pendidikan seks, kontrasepsi, tekanan budaya, relasi kuasa dalam rumah tangga, dan keterbatasan pilihan hidup secara umum.

Tidak bisa dipungkiri seks memang memiliki korelasi dengan kelas sosial. Tetapi kita tidak bisa menyederhanakan itu sebagai sebatas hiburan yang dimiliki orang miskin. Alih-alih menyalahkan atau menertawakan orang miskin karena memiliki anak banyak atau dianggap “terlalu aktif” secara seksual, lebih baik mempertanyakan kenapa sistem sosial membiarkan sebagian orang hidup tanpa akses yang memadai terhadap pendidikan seks, kontrasepsi, dan pilihan hidup yang layak?

Referensi:

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Teras

Artikel Lainnya

Mengapa Kita Harus Menolak Penulisan Ulang Sejarah Ulang Oleh Penguasa

Mengapa Kita Harus Menolak Penulisan Ulang Sejarah Ulang Oleh Penguasa?

Mengenang Ibu Negara Fatmawati Lewat Merajut Nusantara

Kerja Domestik Tak Terlihat, Tetapi Lelahnya Nyata

Kerja Domestik Tak Terlihat, Tetapi Lelahnya Nyata

Leave a Comment