Bincangperempuan.com- Bayangkan seorang laki-laki yang berbicara terbuka tentang hasrat seksualnya. Di banyak ruang, hal itu dianggap wajar, bahkan menjadi tanda kejantanan, kejujuran, atau “kodrat”. Sekarang bayangkan seorang perempuan yang melakukan hal serupa. Reaksinya sering bertolak belakang: ada yang menganggapnya terlalu berani, ada yang mencurigainya, hingga ada yang langsung menyimpulkan bahwa perempuan tersebut bersedia atau available untuk siapa saja.
Meskipun demikian, saat ini masyarakat mulai akrab dengan keberadaan sex toy atau mainan seks yang ditujukan untuk perempuan. Kehadiran alat-alat ini sering kali dipandang sebagai simbol keterbukaan dan otonomi atas kepuasan pribadi. Namun, sejarah di balik ekspresi seksual tersebut menyimpan rekam jejak yang jauh dari sekadar urusan rekreasi atau kepuasan. Selama berabad-abad, keberadaan hasrat seksual perempuan tidak pernah benar-benar diakui secara jujur sebagai kondisi manusiawi yang wajar. Sebaliknya, dorongan tersebut diredam, dianggap penyimpangan moral, atau dibingkai ulang melalui lensa medis yang patriarkal.
Baca juga: Sunat Perempuan Meningkat, Kontrol Atas Tubuh Anak Tak Pernah Surut
Mitos Histeria dan Penyakit yang Diciptakan
Salah satu narasi paling populer mengenai sejarah kepuasan seksual perempuan berakar dari praktik medis era Victorian. Narasi tersebut menceritakan bahwa pada abad ke-19, para dokter menggunakan vibrator mekanis untuk mengobati pasien perempuan yang didiagnosis menderita “histeria”. Istilah medis yang kini sudah tidak digunakan itu dahulunya mencakup berbagai macam keluhan, mulai dari sakit kepala, kecemasan, hingga gangguan saraf. Menurut narasiini, terapi dokter bertujuan memberikan orgasme kepada pasien demi meredakan gejala penyakit tersebut. Penggunaan vibrator dianggap sebagai inovasi teknologi untuk meringankan tugas fisik dokter yang kelelahan jika harus melakukan pemijatan secara manual.
Melansir dari BBC, narasi ini mencapai puncak kepopulerannya setelah sejarawan teknologi Rachel Maines menerbitkan bukunya pada tahun 1999 yang berjudul The Technology of Orgasm: “Hysteria,” the Vibrator, and Women’s Sexual Satisfaction. Maines menyatakan bahwa praktik pengobatan histeria melalui stimulasi seksual telah dilakukan dokter bahkan sejak era Romawi. Dalam pandangannya, ketiadaan pemahaman mengenai anatomi dan fungsi organ seksual perempuan membuat para dokter pada masa itu tidak menyadari bahwa pelepasan gejolak (paroxysm) yang dialami pasien sejatinya adalah respons seksual alami. Pembingkalan medis ini secara tidak langsung mengubah kepuasan seksual perempuan dari sebuah kebutuhan biologis yang sah menjadi sekadar tindakan terapi medis untuk menyembuhkan penyakit.
Dekonstruksi Sejarah dan Penyangkalan Otonomi
Meskipun teori Maines diterima luas dalam budaya populer dan diadaptasi ke dalam film hingga teater, riset sejarah modern menunjukkan bahwa kisah “dokter pengobat histeria” tersebut hanyalah sebuah mitos. Studi yang dipublikasikan dalam Journal of Positive Sexuality oleh sejarawan Hallie Lieberman dan Eric Schatzberg membantah klaim tersebut. Lieberman menemukan bahwa tidak ada bukti sejarah primer yang mendukung gagasan bahwa dokter abad ke-19 secara rutin merangsang organ intim pasien perempuan dengan vibrator di ruang praktik medis mereka.
Realitas sejarah yang ditemukan Lieberman memperlihatkan bahwa alat pemijat mekanis atau vibrator mulai dipasarkan pada awal abad ke-20 sebagai alat rumah tangga umum untuk meredakan ketegangan otot leher atau punggung. Alat tersebut dijual langsung kepada konsumen, termasuk perempuan, melalui katalog komersial. Namun, karena tabu sosial yang sangat kuat terhadap keintiman perempuan, penggunaan alat ini untuk kepuasan seksual terpaksa disembunyikan di balik eufemisme kesehatan tubuh.
Pembongkaran mitos ini penting. Mitos “dokter penyelamat” tetap menempatkan laki-laki dan otoritas medis di pusat cerita. Padahal fakta yang lebih sederhana dan lebih menyakitkan adalah masyarakat pada masa itu menolak mengakui keberadaan klitoris, menolak mengakui orgasme perempuan, dan menolak mengakui bahwa perempuan punya hak untuk mencari kepuasan bagi dirinya sendiri tanpa perantara laki-laki. Sementara pengetahuan tentang hasrat dan orgasme laki-laki jauh lebih terbuka dan diterima.
Baca juga: Mengapa Kondom Perempuan Masih Belum Populer? Apa yang Bisa Kita Lakukan?
Warisan Patriarki: Antara Hasrat dan Kontrol
Penyangkalan terhadap hasrat perempuan bukanlah narasi usang yang berhenti di era Victorian. Pola pikir yang menolak mengakui otonomi seksual perempuan bertransformasi ke dalam bentuk-bentuk pengawasan moral. Jika di masa lalu dorongan seksual perempuan dianggap sebagai kelainan jiwa bernama histeria, di masa kini ekspresi hasrat tersebut sering kali direspons dengan pembatasan dan prasangka.
Logika patriarki sering gagal memisahkan antara keberadaan hasrat (desire) dengan ketersediaan (availability). Ketika wacana publik mulai mengakui bahwa perempuan memiliki dorongan seksual, dorongan tersebut kerap disalahartikan seolah-olah perempuan harus selalu bersedia memenuhi ekspektasi seksual siapa saja. Ketika seorang perempuan mengekspresikan hasratnya tetapi menolak figur tertentu, ia kerap dicap munafik atau berbelit-belit. Padahal, memiliki hasrat seksual adalah hak biologis, sedangkan memilih dengan siapa dan bagaimana hasrat itu disalurkan adalah wujud dari otonomi tubuh yang berhak atas standar kepuasan tersendiri.
Memulihkan Hak atas Kepuasan
Sejarah panjang penolakan atas kepuasan seksual perempuan membuktikan bahwa pembungkaman terhadap perempuan tidak hanya terjadi di ruang publik atau politik, tetapi juga merambah hingga ke ruang paling personal. Gagasan bahwa perempuan tidak memiliki dorongan seksual—atau hanya memilikinya demi kepentingan reproduksi dan pemenuhan kebutuhan pasangan—adalah konstruksi sosial yang harus terus dikritisi.
Perjuangan merebut kembali narasi tentang hasrat perempuan bukan semata-mata persoalan mainan seks atau teknologi medis, melainkan pengakuan penuh atas kedaulatan tubuh. Hasrat seksual perempuan bukanlah gangguan kesehatan yang membutuhkan penanganan medis, dan bukan pula komoditas yang dapat diatur oleh pihak luar. Membicarakan kepuasan perempuan secara setara dan jujur adalah langkah penting untuk mengembalikan hak dasar perempuan atas tubuh dan pilihannya sendiri.
Ketika kita mulai mampu mengatakan bahwa hasrat perempuan sama wajarnya dengan hasrat laki-laki—tanpa syarat, tanpa kecurigaan, dan tanpa tuntutan ketersediaan otomatis—barulah kita benar-benar bergerak menuju pengakuan yang setara. Bukan hanya di katalog mainan seks, tapi di cara kita memandang tubuh, keinginan, dan kebebasan manusia.
Referensi:
- Henriques, M. (2018, November 8). The vibrator: From medical tool to revolutionary sex toy. BBC Future. https://www.bbc.com/future/article/20181107-the-history-of-the-vibrator
- Lieberman, H., & Schatzberg, E. (2018). A failure of academic quality control: The Technology of Orgasm. Journal of Positive Sexuality, 4(2). https://journalofpositivesexuality.org/wp-content/uploads/2018/08/Failure-of-Academic-Quality-Control-Technology-of-Orgasm-Lieberman-Schatzberg.pdf
