Home » News » Peran Perempuan atas Lahirnya Sumpah Pemuda

Peran Perempuan atas Lahirnya Sumpah Pemuda

Bincang Perempuan

News

Peran Perempuan atas Lahirnya Sumpah Pemuda

Bincangperempuan.com– Sejarah Sumpah Pemuda merupakan tonggak bersejarah dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Terjadi pada tanggal 28 Oktober 1928, Sumpah Pemuda adalah komitmen para pemuda Indonesia untuk bersatu, berjuang, dan berdiri sebagai satu bangsa, meraih kemerdekaan dari penjajahan Belanda. Namun, apa yang sering dilupakan adalah peran penting perempuan dalam lahirnya Sumpah Pemuda, terutama pada Kongres Pemuda II yang dilaksanakan di Gedung Kramat 106 (sekarang menjadi Museum Sumpah Pemuda).

Pertama, perempuan yang hadir pada Kongres Pemuda II memberikan dukungan moral yang kuat kepada para pemuda. Mereka mendukung semangat nasionalisme dan persatuan, menjadikan diri mereka sebagai inspirasi bagi para pemuda. Kehadiran mereka di tengah-tengah para pemuda adalah simbol solidaritas dan persatuan antara laki-laki dan perempuan dalam perjuangan kemerdekaan.

Kedua, perempuan tersebut juga berkontribusi dalam hal pemikiran. Mereka adalah sosok yang cerdas dan berpendidikan tinggi. Dalam kongres tersebut, mereka ikut dalam diskusi dan perdebatan, memberikan masukan yang berharga dalam merumuskan semangat persatuan dan cita-cita kemerdekaan. Kontribusi intelektual mereka membantu merancang pernyataan-pernyataan penting yang menjadi landasan Sumpah Pemuda.

Ketiga, perempuan di Kongres Pemuda II juga menjalankan peran penting dalam menjaga semangat perjuangan. Mereka membantu memelihara semangat dan moral para pemuda, terutama dalam kondisi yang sulit dan saat menghadapi hambatan. Dukungan psikologis dari perempuan ini membantu para pemuda tetap teguh dan bersatu dalam perjuangan mereka.

Keempat, perempuan ini memiliki peran dalam menyebarkan semangat persatuan dan nasionalisme ke masyarakat luas. Setelah Kongres Pemuda II, mereka terus aktif dalam mengkampanyekan semangat persatuan dan nasionalisme di berbagai daerah. Mereka berbicara kepada masyarakat dan mengajak orang-orang untuk bersatu demi cita-cita kemerdekaan.

Kelima, beberapa di antara mereka juga aktif dalam bidang pendidikan. Mereka membantu mendirikan sekolah-sekolah rakyat yang mendidik generasi muda dengan semangat cinta tanah air. Pendidikan yang mereka berikan tidak hanya berfokus pada pengetahuan, tetapi juga nilai-nilai patriotisme dan persatuan.

Keenam, perempuan-perempuan tersebut terlibat dalam dunia jurnalistik dan publikasi. Mereka menulis artikel dan tulisan yang menyebarkan ide-ide nasionalisme dan semangat persatuan. Dengan tulisan mereka, mereka turut berkontribusi dalam menggerakkan semangat perjuangan nasional.

Baca juga: Perempuan Generasi Z: Antara Dorongan dan Beban Ganda

Ada enam orang perempuan yang tercatat hadir dalam Kongres Pemuda II, yang ikut serta dalam membentuk semangat nasionalisme dan persatuan bangsa. Mereka adalah Dien Pantow, Emma Poeradiredjo, Jo Tumbuan, Nona Tumbel, Poernamawoelan, dan Siti Soendari. Peran mereka tidak hanya terbatas pada kehadiran fisik, tetapi juga melibatkan kontribusi nyata dalam proses pergerakan nasional.

Siti Soendari

Merupakan adik bungsu dr. Soetomo. Siti bukanlah seorang perempuan biasa. Beliau berasal dari kalangan Jawa elit dan berhasil menempuh pendidikan tinggi dengan gelar Meester in de Ritchen (Sarjana Hukum) di Universitas Leiden di Belanda pada tahun 1934. Pada masa itu, tidak mudah bagi perempuan untuk bisa mengenyam pendidikan yang tinggi. Bahkan, Siti adalah perempuan ke-2 yang berhasil mendapatkan gelar tersebut. Selain berhasil dalam pendidikan, Siti juga pernah menjabat sebagai direktur bank.

Di Kongres Pemuda II, Siti berpidato soal rasa cinta Tanah Air. Beliau menekankan bahwa rasa cinta tanah air harus ditanamkan pada perempuan sejak kecil, tidak hanya pada laki-laki saja. Saat itu Siti berpidato dalam bahasa Belanda sehingga Muhammad Yamin selaku Sekretaris Kongres Pemuda II menerjemahkan pidato Siti.

Emma Poeradiredja

Adalah tokoh perempuan yang mengenyam pendidikan di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO). Selama hidupnya, beliau aktif dalam berbagai organisasi yang bergerak di bidang perjuangan kemerdekaan Indonesia dan kesetaraan perempuan. Beliau juga pernah menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung dan anggota DPR/MPR Indonesia. Di Kongres Pemuda II, Emma yang menjabat sebagai Ketua Cabang Bandung Jong Islamieten Bond berpidato mengenai peran para perempuan agar terlihat tidak hanya dalam pembicaraan pergerakan namun juga dengan perbuatan.

Poernomowoelan

Nona Poernomowoelan yang merupakan seorang guru dan salah satu perwakilan pemuda Taman Siswa. Beliau menjadi pembicara pertama di mimbar Kongres Pemuda II lho. Sebagai tokoh yang aktif di bidang pendidikan, beliau berpidato soal mencerdaskan bangsa yang harus disertai dengan pendidikan yang tertib dan disiplin. Selain itu, menurutnya anak haruslah mendapatkan pendidikan yang baik di sekolah maupun di rumah. Ada beberapa sejarawan yang mengatakan bahwa Nona Poernomowoelan hadir di Kongres Pemuda II sebagai perwakilan dari Jong Java. Namun, kabar tersebut belum bisa dikonfirmasi dengan jelas.

Baca juga: Perlunya Mekanisme Pelindungan Hak Ekosob PPHAM

Perempuan-perempuan yang hadir pada Kongres Pemuda II di Gedung Kramat 106 memiliki peran penting dalam lahirnya Sumpah Pemuda. Mereka bukan sekadar penonton, tetapi juga aktor yang berperan aktif dalam membentuk semangat nasionalisme, persatuan, dan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Kontribusi mereka adalah bukti bahwa perjuangan kemerdekaan tidak hanya milik kaum pemuda, melainkan usaha bersama seluruh elemen masyarakat, termasuk perempuan. Perjuangan itu adalah perjuangan bersama, dan peran perempuan dalam peristiwa bersejarah ini seharusnya diakui dan dihargai.(**)

gerakan perempuan, peran perempuan dalam sumpah pemuda

Artikel Lainnya

“Lean In” Membongkar Mitos dan Menggebrak Langit-langit Kaca

Rasminah dan Usia Perkawinan Anak

Jasa Rasminah Abadi Melampaui Zaman

Male Gaze: Ketidakadilan Gender dan Bencana Bagi Perempuan

Leave a Comment