Perempuan Desa Harus Bisa Inovasi

BINCANGPEREMPUAN– Dosen Program Studi Teknologi Industri Pertanian Universitas Bengkulu Tuti Tutuarima, STP, M.Si, menyebutkan inovasi pascapanen bisa menjadi salah satu cara mengurangi kerugian yang dialami oleh petani. Sebab selama pandemi Covid-19, masyarakat umumnya akan menahan daya beli mereka, Sehingga bisa memicu banyaknya hasil pertanian yang tidak laku di pasaran.

“Supply (hasil panen) yang meningkat, membuat harga akan turun. Sementara permintaan tetap,” kata Tuti saat dihubungi pekan lalu.

Menurutnya, ada dua praktik inovasi yang bisa diterapkan oleh para petani perempuan di desa. Pertama dengan menyimpan hasil panen di tempat yang memiliki suhu rendah. Lalu kedua, dengan mengolah hasil panen menjadi produk lain yang memiliki nilai jual.

Baca juga : Urban Farming, Ringankan Beban Perempuan Kota

Contohnya seperti tomat, yang bisa diolah menjadi saus atau manisan tomat. Kemudian sayur hijau bisa diolah menjadi berbagai olahan, seperti mie atau stik sayur. Selain itu, Tuti juga mengharapkan agar para perempuan petani di desa harus bisa mandiri dalam memasarkan hasil pertaniannya. Dengan itu. kebiasaan mereka yang bergantung dengan penjualan dari pengepul bisa dikurangi dan bisa memangkas biaya yang keluar.

“Misalnya pola pemasaran dapat dilakukan melalui penjualan online,” katanya. “Kreatifitas perempuan jangan terputus walau dalam masa pandemi,” tambah akademisi Universitas Pat Petulai Irma lisa Sridanti, S.P, M.Si.

Serupa disampaikan Guru Besar Fakultas Pertanian, Universitas Bengkulu (Unib), Alnopri. Pengolahan pasca panen bisa menjadi solusi petani untuk menghadapi masalah penurunan harga, termasuk masalah daya tahan produk hasil pertanian.

“Selain menaikkan harga jual, (produk olahan) juga tahan lama,” kata Alnopri yang juga Ketua Universitas Pat Petulai. (kppswd)

1 thought on “Perempuan Desa Harus Bisa Inovasi”

Leave a Comment