Single Parent dalam Kencan: Mengapa Perempuan Lebih Susah Repartnering?

Ais Fahira

News

Bincangperempuan.com- Di tengah percakapan sehari-hari maupun hiburan populer di Indonesia, kita masih sangat sering menemukan humor, lagu, hingga kelakar yang bernada misoginis. Kelakar tersebut paling nyaring berbunyi ketika menyasar perempuan berstatus janda. Di dalam dunia musik atau komedi pop, sosok janda kerap dibingkai secara dangkal: sebatas godaan visual, sosok yang dianggap hot, atau objek fantasi. 

Narasi destruktif ini tidak hanya merendahkan, tetapi juga mereduksi kompleksitas hidup seorang perempuan. Lalu, bagaimana jika stigma tersebut ditarik ke dalam konteks yang lebih spesifik, yaitu dunia kencan? Apakah benar janda “lebih menarik” seperti di lagu-lagu seksis itu? Bagaimana jika ada anak yang terlibat, apakah dinamika yang dihadapi single mom akan sama dengan single dad?

Baca juga: Fenomena Solomaxing: Saat Status Lajang Dioptimalkan

Angka di Balik Layar: Perbedaan Respon dalam Aplikasi Kencan

Berdasarkan survei dealbreaker pada ratusan pengguna aplikasi kencan, sekitar 45 persen laki-laki menganggap status single mother sebagai batas tegas (dealbreaker) untuk tidak melanjutkan kencan. Sedangkan pada perempuan hanya 27 persen dari mereka yang menolak single dad atas alasan status pengasuhan.

Ketimpangan ini semakin terlihat jelas dari data yang dirilis platform kencan Zoosk. Sebanyak 92 persen perempuan single menyatakan terbuka untuk berkencan dengan single dad, bahkan 55 persen di antaranya mengaku “sangat terbuka”. Alasan yang paling sering diutarakan adalah persepsi positif terhadap ayah tunggal. seperti dianggap lebih bertanggung jawab, memiliki sifat pengasuh (caring), sabar, serta sudah terbiasa memikirkan kepentingan orang lain di luar dirinya sendiri.

Meski begitu, dinamika ini bukan berarti laki-laki menutup pintu sepenuhnya. Data online dater mencatat lebih dari separuh laki-laki (52 persen) tetap bersedia menjalin hubungan dengan wanita yang sudah memiliki anak. Menariknya, wanita cenderung sedikit lebih waspada terkait latar belakang anak dari hubungan sebelumnya. Namun, 61 persen wanita menilai pria yang aktif menjalankan perannya sebagai single dad memiliki potensi lebih tinggi untuk berkomitmen serius. Tidak mengherankan jika sebanyak 63 persen single parent akhirnya merasa lebih nyaman dan mudah berkencan dengan sesama orang tua tunggal karena adanya kesamaan empati dan pemahaman atas prioritas hidup.

Fenomena Global dan Realitas Repartnering

Survei di atas sekilas memberikan gambaran ketimpangan ketertarikan antara single mom dan single dad. Hal ini tentu akan memengaruhi bagaimana mereka bisa menemukan pasangan kembali. Sebuah studi tentang repartnering (proses membentuk hubungan baru setelah perceraian atau perpisahan). Analisis longitudinal berdasarkan data British Understanding Society yang melibatkan ribuan sampel laki-laki dan perempuan menunjukkan bahwa keberadaan anak—terutama yang tinggal bersama (custody) secara signifikan menurunkan peluang seseorang untuk mendapatkan pasangan baru dibanding mereka yang tidak memiliki anak (childless).

Namun, di antara sesama orang tua tunggal yang memegang hak asuh anak, terdapat jurang gender (gender divide) yang timpang: single mom memiliki tingkat pembentukan hubungan baru yang jauh lebih rendah dibanding single father. Studi tersebut juga mengungkapkan bahwa ayah tunggal lebih sering berhasil membentuk keluarga dengan dua orang tua (two-parent stepfamilies) dan lebih cepat diterima kembali dalam institusi pernikahan dibanding ibu tunggal.

Baca juga: #SamaSamaAman: Ketika Match Jadi Ancaman: KBGO di Aplikasi Kencan Daring

Mengurai Stigma Sosial: Antara “Laki-Laki Keren” dan “Kewajiban Perempuan”

​Mengapa ketimpangan ini bisa terjadi? Faktor utamanya bersumber dari perpaduan antara stigma kultural dan standar ganda dalam menilai pengasuhan.

​Secara kultural, stigma sosial terhadap single mother terasa jauh lebih berat. Ketika masyarakat melihat seorang single father merawat dan membesarkan anaknya sendirian, respons publik cenderung sangat positif. Laki-laki tersebut langsung dilabeli sosok yang keren, dewasa, dan penuh pengorbanan. Dalam dunia kencan, keterlibatan laki-laki dalam pengasuhan dianggap sebagai bonus atau keunggulan moral luar biasa yang mendongkrak daya tariknya.

​Sebaliknya, perlakuan yang sama hampir tidak pernah didapatkan oleh single mom. Bagi perempuan, mengasuh anak tidak pernah dipandang sebagai nilai tambah yang istimewa, melainkan sekadar “kewajiban alamiah” yang sudah semestinya dilakukan. Kualitas yang dielu-elukan pada laki-laki justru dianggap sebagai standar paling dasar (bare minimum) bagi perempuan.

​Ketimpangan persepsi inilah yang menjadi tembok tebal dan kesusahan terbesar bagi single mom saat ingin berkencan kembali:

​Kekhawatiran Laki-Laki: Laki-laki single (khususnya yang belum pernah memiliki anak) kerap dibayangi kekhawatiran soal beban ekonomi tambahan, komplikasi relasi dengan mantan suami, serta rasa cemas karena tidak akan pernah menjadi prioritas utama di kehidupan sang perempuan. Di sisi lain, perempuan yang akan berkencan dengan single dad justru lebih mudah menoleransi keberadaan anak dari hubungan sebelumnya. Keterlibatan sang laki-laki dalam mengasuh anak dinilai sebagai bukti nyata kedewasaan dan kesiapan berkomitmen.

​Akibat dari dinamika yang tidak seimbang ini, single mom menjadi jauh lebih selektif, waspada, atau bahkan menahan diri untuk aktif mencari pasangan. Mereka harus melipatgandakan saringan demi melindungi keamanan emosional anak dan dirinya sendiri dari stigma yang mengintai.

​Bergerak Melampaui Stereotip: Single Parent Berhak Bahagia

​Ketimpangan angka dan riset di atas menunjukkan bahwa dunia kencan belum sepenuhnya adil bagi orang tua tunggal. Perempuan yang berjuang membesarkan anaknya sendirian kerap dituntut membuktikan jauh lebih banyak hal hanya untuk mendapatkan penerimaan yang setara.

​Sudah saatnya masyarakat dan dunia kencan pada umumnya, mulai mengikis cara pandang yang dangkal dan misoginis. Membuka hati dan memulai hubungan baru bukanlah sebuah kesalahan atau tindak kejahatan. Single parent, baik laki-laki maupun perempuan, memiliki hak yang sama penuhnya untuk dicintai, berkencan, dan membangun kebahagiaan baru tanpa harus dibebani prasangka usang. Memahami status single parent seharusnya dilakukan dengan melihat ketangguhan, kapasitas kasih sayang, dan kedewasaan mereka dalam mengarungi kehidupan—bukan dengan menghakimi nilai diri mereka lewat stigma status sosial.

Referensi:

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Teras

Artikel Lainnya

Penelantaran Bayi: Dosa yang Difasilitasi Negara Secara Sistematis

Social Battery Mengapa Beberapa Orang Lebih Mudah Lelah Secara Sosial

Social Battery: Mengapa Beberapa Orang Lebih Mudah Lelah Secara Sosial?

Sistem Kerap Meleset, Wali Murid Menanggung Beban: Potret Buram Hambatan PPDB di Bengkulu

Leave a Comment