Home » News » Ibu Pekerja dan Tumbuh Kembang Anak 

Ibu Pekerja dan Tumbuh Kembang Anak 

Yuni Camelia Putri

News

Bincangperempuan.com- Perempuan pekerja kerap mendapatkan stigma negatif dari masyarakat. Kepercayaan yang berkembang di masyarakat adalah ibu pekerja merupakan ibu yang buruk karena terlalu berada jauh dari anak-anaknya. Hal ini didorong oleh kepercayaan bahwa tugas domestik merupakan kewajiban seorang perempuan.

Streotipe gender yang berkembang justru terus menyebabkan masalah bagi kemajuan hidup perempuan. Adanya anggapan bahwa perempuan yang bekerja dianggap kurang kompeten dan berkomitmen sebagai ibu rumah tangga seakan menghalangi perempuan yang ingin bekerja.

Stigma negatif ini mendorong Julia Kmec selaku sosiolog dari Washington State University mencari tahu tentang komitmen perempuan pekerja terhadap keluarga. Dalam penelitiannya, Julie menemukan bahwa ibu memiliki keterlibatan yang aktif dalam mengasuh anak dan pekerjaan rumah tangga lainnya. Penelitian ini menunjukkan bahwa perempuan pekerja dapat membagikan tanggung jawab sebagai ibu rumah tangga dan pekerja yang ideal.

Keterlibatan perempuan dalam dunia kerja kerap mendapatkan stigma negatif karena kuatnya nilai patriarki di masyarakat. Padahal penelitian oleh Julie Kmec menemukan bahwa ibu pekerja memiliki keterlibatan yang lebih intens dalam perkembangan anak dan menjaga kualitas hubungan pernikahan. Padahal ada beberapa keuntungan lainnya yang diberikan oleh perempuan yang bekerja

Baca juga: Love Scammer: Ciri dan Cara Menghindarinya

Memberikan waktu yang berkualitas bagi perkembangan anak

Para ibu yang bekerja kerap menghabiskan waktu yang lebuh sedikit bersama anak-anaknya. Meskipun demikian, kebanyakan ibu pekerja justru memberikan waktu yang berkualitas bagi perkembangan anaknya.

Biasanya, ibu pekerja akan menghabiskan waktunya dan sang anak dengan melakukan aktivitas positif yang melibatkan permainan edukatif. Para peneliti menemukan bahwa waktu yang dihabiskan ibu pekerja dan anaknya mendorong sang anak untuk melakukan aktivitas yang terstruktur dan edukatif. Hal ini mendorong perkembangan kognitif anak yang lebih cepat.

Memotivasi anak untuk lebih positif

Ibu pekerja kerap dijadikan inspirasi bagi sang anak terutama pada anak perempuan. Penelitian yang dilakukan oleh McGinn, Kathleen L.; Castro, dan Mayra Ruiz menemukan bahwa anak perempuan yang dibesarkan ibu yang bekerja cenderung memiliki keinginan bekerja saat dewasa. Selain itu, anak perempuan yang tumbuh dari sosok ibu pekerja ini justru memiliki tingkat kewaspadaan yang kuat, keinginan kerja yang tinggi, dan memperoleh pendapatan yang lebih tinggi ketika bekerja.

Pada anak laki-laki, ibu pekerja berhasil menumbuhkan rasa cinta terhadap keluarga ketika anak dewasa. Hal ini menjadikan mereka menyadari pentingnya untuk terlibat dalam pekerjaan rumah tangga dan merawat anggota keluarganya. McGinn mengatakan bahwa ibu pekerja berhasil menghasilkan anak yang menghargai kehadiran perempuan di aspek kehidupan. Pada akhirnya, anak-anak yang tumbuh dari seorang ibu pekerja memiliki keterampilan dan kualitas hidup yang lebih baik.

Meningkatkan prestasi akademik anak

Ibu yang bekerja kerap dianggap tidak perhatian terhadap kebutuhan akademik anaknya. Lantas, apakah itu benar adanya? Penelitian yang dilakukan oleh Rachel Dunifon terkait hubungan antara ibu pekerja dan prestasi anak-anak dari tahun 1987-1992 di Denmark menemukan bahwa anak-anak yang tumbuh dari ibu yang bekerja memiliki nilai rata-rata anakdemik yang lebih tinggi dibandingkan ibu yang tidak bekerja. Selain itu, ia menemukan bahwa ibu yang bekerja antara 10 hingga 19 jam dalam seminggu memiliki anak yang kualitas akademiknya unggul 2,6 persen dari anak-anak seusianya.

Baca juga: Film Sleep Call: Jerat Perempuan dalam Kemajuan Teknologi

Penurunan masalah perilaku anak

Perilaku negatif anak kerap dikaitkan dengan kualitas pola asuh dari ibunya, bukan? Anak-anak yang berperilaku buruk dianggap tidak memiliki perhatian yang cukup dari orang tuanya. Lantas, apakah persepsi ini benar adanya?

Nyatanya, anak yang tumbuh dari ibu pekerja memiliki tingkat permasalahan perilaku yang rendah. Para peneliti menyimpulkan jika hal ini didorong oleh keamanan finansial, terpenuhi kebutuhan pangan, sandang, dan papan, terpenuhnya kebutuhan psikologis, dan tunjangan kesehatan yang didapatkan dari kedua orang tuanya.

Selain empat keuntungan ini, penelitian yang dilakukan oleh Almani, Abro, dan Mugheri di tahun 2012 menemukan bahwa ibu pekerja menjadi contoh positif bagi anak-anaknya. Ibu yang bekerja berhasil menumbuhkah sikap positif pada anak seperti tanggung jawab, menghargai pencapaian, dan membentuk kepribadian anak yang lebih produktif, mandiri, dan percaya diri.

Dampak positif ini berhasil membantah asumsi masyarakat tentang ibu pekerja yang menghasilkan anak yang bermasalah dalam perilaku, belajar, dan kehidupan sosialnya. Meskipun demikian, pemilihan waktu yang tepat untuk mulai bekerja juga menghasilkan dampak yang lebih positif lagi. Beberapa penelitian menyarankan agar ibu dapat mulai bekerja ketika anak telah berusia 2-3 tahun.

Akan tetapi, perlu diingat bahwa hal ini tidak menandakan bahwa perempuan yang berfokus sebagai ibu rumah tangga tidak menghasilkan anak yang berkualitas, ya! Untuk itu, ibu rumah tangga ataupun ibu yang bekerja dianggap dapat menghasilkan anak yang berkualitas.

Sumber:

  • Almani, A. S., Abro, A., & Mugheri, R. A. (2012). Study of the Effects of Working Mothers on the Development of Children in Pakistan. International Journal of Humanities and Social Science, 2(11), 164-171.
  • Denise-Marie Ordway, 2018. “What research says about the kids of working moms”, dalam The Journalist’s Resource
  • Stanford University Author, 2012. “Are mothers non-ideal employees?”, dalam Stanford University (The Clayman Institute for Gender Research)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

dilema ibu pekerja, gerakan perempuan

Artikel Lainnya

Kasus Perempuan di Afghanistan dan Refleksinya terhadap Indonesia

Girl Math, Upaya Mendobrak Stereotip Boros Terhadap Perempuan

Girl Math, Upaya Mendobrak Stereotip Boros Terhadap Perempuan 

Susi Handayani, 20 Tahun Bergerak untuk Isu Perempuan dan Anak

Leave a Comment