Bincangperempuan.com- Tenun bumpak, kain tradisional Suku Serawai di Bengkulu, berada di ambang kepunahan. Marleni (45), atau Leni, nyaris menjadi satu-satunya penenun yang masih setia menjaga warisan ini. Sejak kecil ia belajar menenun dari ibu dan neneknya, dan selama lebih dari 30 tahun, bunyi alat tenun tak pernah benar-benar berhenti dari rumahnya di Seluma.
Di tengah gempuran tekstil modern dan minimnya minat generasi muda, Leni bertahan dengan caranya sendiri. Ia menenun setiap hari, membuka galeri, memasarkan karyanya lewat media sosial, hingga mengajar perempuan lintas generasi dan mahasiswa. Upaya ini bukan sekadar mencari nafkah, melainkan usaha menyelamatkan identitas budaya yang perlahan tergerus zaman.
Ancaman kepunahan kian nyata karena lemahnya regenerasi dan dukungan kebijakan. Sejumlah tenun khas Bengkulu bahkan sudah punah lebih dulu. Masyarakat adat dan pemerhati budaya mendesak pemerintah daerah hadir lebih serius dari regulasi, pendidikan, hingga pemasaran agar tenun bumpak tak hanya bertahan di tangan satu orang, lalu hilang diam-diam.
Baca berita lengkapnya hanya di teras.id/bincangperempuan-com
