“Tepuk Sakinah” Jangan Sampai Sekadar Yel-yel

Ais Fahira

News

Bincangperempuan.com– Baru-baru ini publik dihebohkan dengan gebrakan terbaru KUA, yaitu Tepuk Sakinah. Kementerian Agama (Kemenag) berhasil mencuri perhatian publik, khususnya di media sosial TikTok, lewat inovasi edukatif berupa yel-yel sederhana yang memadukan gerakan tepuk tangan dan lirik mudah diingat. Metode ini menjadi bagian dari program Bimbingan Perkawinan (Bimwin) bagi calon pengantin.

Fenomena ini dengan cepat viral karena terlihat santai jauh dari materi serius soal pernikahan yang biasanya kaku dan membosankan, kini dikemas dengan cara ringan dan menyenangkan. Generasi muda pun lebih mudah mengingatnya karena formatnya mirip dengan tren konten di TikTok singkat, catchy, dan gampang diulang.

Namun, sejauh mana “tepuk” ini mampu memberi dampak nyata pada kesiapan pasangan membangun rumah tangga? Apakah sekadar gimmick, atau memang bisa menjadi bagian dari strategi edukasi jangka panjang?

Baca juga: Praktik Pernikahan di Sekolah: Edukasi atau Romantisasi Nikah Muda

Apa Isi Tepuk Sakinah?

“Berpasangan… Berpasangan… Berpasangan… (tepuk 3 kali)
Janji kokoh… Janji kokoh… Janji kokoh… (tepuk 3 kali)
Saling cinta… Saling hormat… Saling jaga… Saling ridho…
Musyawarah… untuk sakinah…”

Begitulah kira-kira potongan lirik Tepuk Sakinah yang ramai di media sosial. Yel-yel ini disusun sebagai pengingat lima pilar utama keluarga sakinah:

  • Zawaj (Berpasangan) – menegaskan bahwa pernikahan adalah ikatan sah antara dua orang yang saling melengkapi.
  • Mitsaqan Ghalizan (Janji Kokoh) – akad nikah dianggap sebagai janji yang sangat kuat, bukan sekadar formalitas.
  • Mu’asyarah Bil Ma’ruf – hidup bersama dengan cinta, saling menghormati, saling menjaga, dan berbuat baik.
  • Musyawarah – menyelesaikan masalah dengan dialog dan mufakat, bukan dominasi salah satu pihak.
  • Taradhin (Saling Ridha) – saling menerima dengan ikhlas dalam setiap proses berumah tangga.

Melansir dari rilis Kemenag, Dirjen Bimas Islam Kemenag, Abu Rokhmad mengatakan bahwa gerakan tepuk tangan ini bukan hanya seremonial, tetapi simbol bahwa pasangan bisa mencairkan konflik dengan mengingat esensi pernikahan. Namun, Kepala Humas Kemenag, Thobib Al Asyha menegaskan bahwa Tepuk Sakinah bukan materi wajib, melainkan hanya ice breaking dalam sesi Bimwin agar suasana lebih ringan dan interaktif.

Di satu sisi, pendekatan ini memang inovatif. Peserta tidak melulu dijejali ceramah panjang yang bisa mengundang rasa kantuk. Ada intermezzo yang membuat mereka lebih rileks, sambil tetap mengingat materi Bimwin.

Solusi atau Gimmick?

Meski terlihat segar dan inovatif, Tepuk Sakinah tetap menyisakan catatan. Yel-yel semacam ini bisa membantu peserta mengingat pesan kunci, tetapi itu saja belum cukup untuk menjawab kompleksitas persoalan rumah tangga. Konflik nyata seperti soal keuangan, hubungan dengan keluarga besar, atau masalah komunikasi.

Oleh karena itu jangan sampai yel-yel ini berhenti di level simbolik, karena pasangan juga perlu bekal yang lebih praktis, seperti keterampilan komunikasi, manajemen konflik, hingga pengelolaan emosi. Dengan kata lain, Tepuk Sakinah lebih tepat dipahami sebagai “pembuka obrolan” mengenai edukasi seputar pernikahan di ruang publik, bukan sebagai jawaban tuntas untuk masalah rumah tangga.

Karena itu, pertanyaannya bukan apakah Tepuk Sakinah sekadar gimmick, tetapi bagaimana inovasi semacam ini bisa diintegrasikan dengan kebijakan yang lebih mendalam—sehingga menjadi pintu masuk menuju pembekalan pranikah dan pendampingan rumah tangga yang lebih komprehensif.

Baca juga: Pernikahan Bukan Sekadar Objek: Menyikapi Tren Unboxing Pengantin

Jangan Sampai Jadi Sekadar Yel-yel

Niat baik dari Kemenag tentu patut diapresiasi. Edukasi pranikah memang perlu menyesuaikan dengan zaman. Kalau generasi muda lebih suka konten singkat dan interaktif, wajar jika metode pengajaran pun ikut menyesuaikan. Namun, inovasi ini harus ditempatkan dalam kerangka yang lebih besar.

Yel-yel seharusnya tidak berdiri sendiri. Ada beberapa langkah lanjutan yang mendesak untuk diiringkan dengan Tepuk Sakinah:

  1. Konseling pranikah yang mendalam
    Bimbingan dua hari jelas tidak cukup. Calon pengantin butuh ruang untuk benar-benar memahami ekspektasi pernikahan, membicarakan nilai-nilai pribadi, dan mengantisipasi konflik potensial.
  2. Konseling lanjutan saat ada masalah
    Di banyak negara, marriage counseling adalah hal yang wajar. Di Indonesia, akses ke konseling perkawinan masih minim dan sering distigma. Padahal, inilah yang benar-benar membantu ketika rumah tangga di ambang keretakan.
  3. Edukasi soal kesetaraan peran gender
    Banyak masalah rumah tangga muncul dari ketimpangan peran. Laki-laki masih cenderung dididik sebagai pengambil keputusan utama, sementara perempuan dibebani peran ganda. Tanpa kesadaran kesetaraan, pilar sakinah akan rapuh.

Dalam konteks ini, Tepuk Sakinah bisa jadi strategi kecil yang menarik perhatian publik.  Karena mudah diingat, dan bisa mencairkan suasana. Apalagi, dengan tren Kemenag yang makin aktif di media sosial, yel-yel ini bisa diperluas menjadi kampanye edukatif—mulai dari infografis soal pembagian peran domestik yang adil, video singkat tentang komunikasi asertif, hingga normalisasi konseling pasangan.

Dengan begitu, edukasi pernikahan tidak berhenti di yel-yel, tetapi benar-benar menjawab kebutuhan pasangan muda di dunia nyata. Sebab, yel-yel tidak akan menyelamatkan pasangan yang sedang di ambang perceraian karena masalah struktural dalam rumah tangga.

Yang benar-benar dibutuhkan adalah akses pada hal-hal krusial seperti konseling pranikah yang serius, layanan konseling pascanikah yang mudah diakses, edukasi kesetaraan gender serta pengetahuan kesehatan reproduksi yang komprehensif. Jangan sampai usaha mewujudkan keluarga harmonis berhenti di Tepuk Sakinah semata.

Referensi:

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Teras

Artikel Lainnya

RUU PPRT Terombang-ambing 21 Tahun, Pekerja Rumah Tangga Terus Bekerja Tanpa Perlindungan

Survei Global: 31% Laki-Laki Gen Z Setuju Istri Harus Mematuhi Suami, Lebih Tinggi Dibanding Generasi Sebelumnya

Menteri PPPA Kaji Ulang PerGub Perkawinan ASN

Menteri PPPA: Kaji Ulang PerGub Perkawinan ASN

Leave a Comment