Survei Global: 31% Laki-Laki Gen Z Setuju Istri Harus Mematuhi Suami, Lebih Tinggi Dibanding Generasi Sebelumnya

Ais Fahira

News

Bincangperempuan.com- “Ya kan nanti ujungnya tetap laki-laki yang memutuskan.” “Atau, keputusan besar tetap dia yang ambil. Dia kan laki-laki.”

Narasi seperti ini mungkin tidak asing di obrolan sehari-hari. Padahal generasi muda sering dibayangkan lebih egaliter—lebih terbuka pada kesetaraan dan lebih kritis terhadap norma tradisional dalam relasi. Namun, kenyataannya masih banyak generasi muda berpikiran seperti itu.

Sebuah survei global terhadap 23.000 responden di 29 negara yang dilakukan oleh Ipsos bersama Global Institute for Women’s Leadership di King’s College London menunjukkan bahwa sebagian laki-laki Gen Z masih memegang pandangan yang cukup tradisional tentang peran gender. Dalam beberapa hal, sikap mereka bahkan lebih konservatif dibandingkan generasi yang lebih tua

Temuan ini memunculkan pertanyaan terkait bagaimana generasi yang tumbuh di wacana kesetaraan justru masih—atau bahkan kembali—menghidupkan cara pandang lama tentang relasi antara laki-laki dan perempuan?

Baca juga: Belajar Demokrasi dari Gen Z Nepal yang  Pilih Perdana Menteri Lewat Discord

Ketimpangan Peran dalam Pernikahan

Pernikahan yang ideal merupakan kemitraan yang setara. Suami dan istri dianggap berbagi peran, berbagi keputusan, dan sama-sama memiliki suara dalam menentukan arah kehidupan rumah tangga.

Namun temuan survei menunjukkan bahwa bayangan tersebut belum sepenuhnya menjadi kenyataan.

Sebagian laki-laki Gen Z masih memandang hubungan pernikahan dengan pola yang lebih hierarkis. Sekitar 31 persen laki-laki Gen Z setuju bahwa seorang istri harus selalu mematuhi suaminya. Selain itu, 33 persen juga berpendapat bahwa dalam keputusan penting rumah tangga, suami seharusnya memiliki kata akhir.

Pandangan ini menunjukkan bahwa bagi sebagian responden, hubungan suami-istri masih dilihat sebagai hubungan yang memiliki struktur kepemimpinan yang jelas—dengan laki-laki berada di posisi penentu utama.

Pandangan ini justru lebih kuat dibandingkan generasi yang lebih tua. Pada generasi Baby Boomer, hanya sekitar 13 hingga 17 persen laki-laki yang setuju dengan gagasan bahwa suami harus selalu menjadi penentu akhir dalam pernikahan.

Perbedaan ini memunculkan ironi tersendiri. Generasi muda sering diasosiasikan dengan nilai-nilai yang lebih egaliter. Namun dalam hal ini, sebagian laki-laki Gen Z justru lebih terbuka terhadap gagasan tentang kepemimpinan laki-laki dalam rumah tangga dibandingkan generasi sebelumnya.

Perempuan tidak menunjukkan kecenderungan yang sama. Hanya 18 persen perempuan Gen Z yang setuju bahwa istri harus selalu mematuhi suami, sementara pada perempuan Baby Boomer angkanya bahkan lebih kecil, yaitu sekitar 6 persen.

Kesenjangan ini menunjukkan bahwa meskipun generasi muda hidup di era yang lebih terbuka terhadap kesetaraan gender, pemahaman tentang bagaimana relasi dalam pernikahan seharusnya berjalan masih belum sepenuhnya sama antara laki-laki dan perempuan.

Kemandirian Perempuan Dianggap Terlalu Berlebihan

Salah satu temuan yang paling mencolok dalam survei tersebut berkaitan dengan persepsi tentang kemandirian perempuan. 

Sekitar 24 persen laki-laki Gen Z setuju dengan pernyataan bahwa perempuan seharusnya tidak terlihat terlalu mandiri atau terlalu independen.  Angka ini dua kali lebih tinggi dibandingkan laki-laki Baby Boomer, yang hanya 12 persen menyatakan hal yang sama.

Di kalangan perempuan, persetujuannya jauh lebih rendah. Hanya 15 persen perempuan Gen Z dan 9 persen perempuan Baby Boomer yang sepakat dengan pandangan tersebut.

Temuan ini memperlihatkan bagaimana kemandirian perempuan masih dipandang secara ambivalen. Di satu sisi, perempuan didorong untuk berpendidikan tinggi, berkarier, dan mandiri secara ekonomi. Namun di sisi lain, ada ekspektasi sosial yang masih menganggap kemandirian tersebut tidak boleh terlalu berlebihan.

Masalahnya, anggapan berlebihan ini sering kali tidak jelas  standarnya. Sehingga menempatkan perempuan dalam posisi dilematis—diapresiasi ketika berprestasi, tetapi juga dikritik ketika terlalu independen atau mandiri.

Tekanan Maskulinitas pada Laki-Laki Muda

Namun temuan survei ini tidak hanya berbicara tentang ekspektasi terhadap perempuan. Ia juga menunjukkan bagaimana laki-laki muda menghadapi tekanan yang tidak kalah besar.

Sebanyak 59 persen laki-laki Gen Z merasa bahwa laki-laki saat ini dituntut melakukan terlalu banyak hal untuk mendukung kesetaraan gender. Angka ini lebih tinggi dibandingkan laki-laki Baby Boomer, yang berada di angka 45 persen.

Tekanan ini juga terlihat dalam ekspektasi maskulinitas lainnya. Misalnya, 43 persen laki-laki Gen Z setuju bahwa laki-laki muda harus terlihat kuat secara fisik, bahkan jika tubuh mereka sebenarnya tidak sesuai standar maskulinitas umum.

Sekitar 30 persen juga percaya bahwa laki-laki tidak seharusnya mengatakan “I love you” kepada teman laki-lakinya, sementara 21 persen menganggap laki-laki yang terlibat dalam pengasuhan anak kurang maskulin dibandingkan mereka yang tidak.

Temuan-temuan ini menunjukkan bahwa norma gender tradisional tidak hanya membatasi perempuan, tetapi juga membatasi laki-laki itu sendiri. Standar maskulinitas yang kaku dapat membuat laki-laki sulit mengekspresikan emosi, berbagi tanggung jawab pengasuhan, atau menjalani peran yang lebih fleksibel dalam kehidupan keluarga.

Baca juga: Cuma Temen, HTS, Situationship sampai FWB: Kenapa Hubungan Gen Z Penuh Label?

Paradoks Generasi Paling Modern

Namun di satu sisi, survei ini juga menemukan adanya kontradiksi dalam cara Gen Z memandang perempuan. Di satu sisi, mereka adalah generasi yang paling menganggap perempuan dengan karier sukses sebagai sosok yang menarik. Sekitar 41 persen laki-laki Gen Z setuju dengan pernyataan tersebut, jauh lebih tinggi dibandingkan generasi Baby Boomer.

Sedangkan pada saat yang sama, sebagian dari mereka juga percaya bahwa perempuan tidak boleh terlihat terlalu mandiri atau bahwa istri harus selalu mematuhi suami. Paradoks ini menggambarkan bagaimana norma gender sedang berada dalam fase transisi. Nilai-nilai lama belum sepenuhnya hilang, sementara nilai baru belum sepenuhnya mapan.

Temuan ini menunjukkan bahwa perubahan nilai tentang gender tidak selalu berjalan lurus dari generasi tua ke generasi muda. Gen Z hidup di era yang lebih terbuka terhadap kesetaraan. Namun sebagian dari mereka masih memegang pandangan lama tentang bagaimana laki-laki dan perempuan seharusnya berperan dalam hubungan. 

Kontradiksi ini memperlihatkan bahwa kemajuan sosial tidak otomatis menghapus norma lama, melainkan menciptakan ruang tarik-menarik antara nilai baru dan tradisi yang masih bertahan. Karena itu, percakapan tentang kesetaraan gender tidak bisa berhenti pada asumsi bahwa generasi muda pasti lebih progresif. 

Sebab pada akhirnya, kesetaraan bukan hanya soal perubahan sikap perempuan, tetapi juga tentang bagaimana laki-laki membayangkan kembali peran mereka dalam hubungan yang lebih setara.

Referensi:

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Teras

Artikel Lainnya

Ancaman Bertanam Kopi Monokultur di Kawasan TNKS

Kenapa Pekerja Rumah Tangga Perlu Dilindungi Undang-undang ?

Pergi Jauh ke Ruang Laktasi PBHI Soroti Hak Ibu Pekerja Menyusui

Pergi Jauh ke Ruang Laktasi: PBHI Soroti Hak Ibu Pekerja Menyusui

Leave a Comment