Home » News » “Tobrut” dan “Aura Maghrib” Objektifikasi Perempuan di Media Sosial

“Tobrut” dan “Aura Maghrib” Objektifikasi Perempuan di Media Sosial

Yuni Camelia Putri

News

Bincangperempuan.com- Belakangan, istilah “tobrut” dan “aura maghrib” menjadi populer di kalangan pengguna media sosial. Seakan-akan dinormalisasikan oleh masyarakat untuk memviralkan konten. Padahal, keduanya merendahkan perempuan sebagai representasi seksis di masyarakat. 

Istilah “tobrut” merupakan singkatan dari kata yang tidak pantas dan mengacu pada penggambaran fisik perempuan dengan cara yang tidak senonoh. Kata ini sering digunakan untuk merujuk pada ukuran payudara perempuan dengan konotasi negatif dan objektifikasi. 

Istilah “aura maghrib” sering digunakan untuk menyebut perempuan dengan kulit sawo matang atau berwarna gelap. Penggunaan istilah ini berakibat pada stereotip yang mengkategorikan perempuan berdasarkan penampilan fisiknya, seolah-olah hal tersebut menentukan kualitas diri mereka. Hal ini tentunya tidak tepat dan berbahaya, karena mengabaikan nilai dan kemampuan perempuan sebagai individu.

Sayangnya, kedua istilah ini, “tobrut” dan “aura maghrib”, telah menjadi patokan yang keliru untuk menilai “kualitas diri” perempuan di kalangan masyarakat Indonesia. Hal ini tentunya sangat berbahaya karena perempuan direduksi menjadi hanya sebatas bentuk tubuh dan warna kulit, mengabaikan nilai, kemampuan, dan kepribadian mereka sebagai individu.

Kemudian memperkuat stereotip dan memicu diskriminasi terhadap perempuan yang tidak sesuai dengan standar kecantikan yang dipaksakan, sehingga mereka mengalami body shaming, pelecehan, dan berbagai bentuk ketidakadilan lainnya. Serta bisa merusak kesehatan mental akibat stereotip yang memicu rasa insecure, depresi, dan gangguan kecemasan.

Penggunaan istilah “tobrut” dan “aura maghrib” mencerminkan realitas pahit bahwa budaya kita masih terjebak dalam objectification dan pandangan seksual terhadap perempuan. Popularitas istilah-istilah ini di media sosial menunjukkan bahwa pencapaian, kepribadian, dan keunikan perempuan masih belum dihargai.

Hal ini memicu ketidakkonsistenan dalam memperjuangkan dan melindungi hak-hak perempuan. Di satu sisi, kita berbicara tentang kesetaraan dan keadilan gender, namun di sisi lain, kita masih terikat pada stereotip dan standar kecantikan yang sempit.

Baca juga: Backburner Relationship, Ketidakjelasan dalam Hubungan

Kunci postingan viral

Objektifikasi perempuan di media sosial seakan tak pernah pudar. Perempuan terus-menerus dipandang sebagai objek yang dapat dinikmati, dengan perasaan dan identitas mereka diabaikan atau bahkan dihapuskan. Hal ini diperparah dengan standar kecantikan yang tidak realistis yang dipaksakan kepada perempuan, seolah-olah nilai mereka ditentukan oleh penampilan fisik.

Tren terbaru di media sosial semakin memperburuk situasi ini. Perempuan dikategorikan berdasarkan penampilan mereka, dengan tujuan utama untuk mendapatkan popularitas dan viralitas. Hal ini menandakan pandangan patriarki yang masih mengakar kuat, di mana komentar seksis terhadap tubuh perempuan dianggap wajar, bahkan ketika mereka telah berusaha keras untuk menjaga penampilan mereka.

Istilah “tobrut” dan “aura maghrib” menjadi contoh nyata dari objektifikasi ini. “Tobrut” digunakan untuk menggambarkan perempuan dengan bentuk tubuh yang dianggap “berbeda” dan “mencolok”, dengan anggapan bahwa laki-laki menyukai tipe tubuh tersebut. Sedangkan “aura maghrib” digunakan sebagai komentar hinaan untuk merendahkan perempuan, seperti yang terjadi pada Fuji.

Kepopuleran istilah ini menunjukkan kekejaman dan rasisme yang masih ada di media sosial. Perempuan yang tidak sesuai dengan standar kecantikan yang dipaksakan merasa tertekan dan terhina. Objektifikasi tubuh perempuan sebagai “tobrut” atau “aura maghrib” hanya memperkuat anggapan bahwa perempuan hanyalah objek untuk pemuasan nafsu atau pandangan seksis lainnya.

Parahnya, alih-alih melawan stereotip ini, banyak pengguna media sosial justru ikut mempopulerkan istilah-istilah tersebut. Mereka tidak peduli dengan dampak negatifnya, hanya ingin mengikuti tren dan mendapatkan popularitas. Hal ini semakin memperkuat budaya objektifikasi dan diskriminasi terhadap perempuan di media sosial.

Istilah “tobrut” dan “aura maghrib” adalah contoh nyata dari budaya patriarki dan objektifikasi perempuan yang masih merajalela di media sosial. Sehingga kita harus bersama-sama melawan stereotip ini dengan menolak untuk menggunakan istilah-istilah tersebut dan mempromosikan budaya yang lebih menghargai perempuan sebagai individu yang utuh dengan berbagai potensi dan nilai-nilainya.

Baca juga: Gamophobia, Ketakutan untuk Menjalin Komitmen dan Pernikahan

Kerugian bagi perempuan 

“Tobrut” dan “aura maghrib” menjadi dua istilah yang memberikan dampak negatif yang signifikan terhadap perempuan. Meskipun dianggap sebagai “candaan”, kedua istilah ini memperkuat nilai seksis dan menelanjangi perempuan dengan standar yang tidak adil. Tingginya popularitas kedua istilah populer ini menandakan bahwa perempuan hidup didalam tekanan sosial yang tiada akhir.

Istilah “tobrut” dan “aura magrib” kerap dilontarkan untuk perempuan yang dianggap memancing hasrat laki-laki. Disinilah letak permasalahannya, “tobrut” dan “aura magrib” mengobjetifikasi citra negatif terhadap tubuh perempuan yang akan mempengaruhi rasa percaya dirinya. Rasa tidak percaya diri ini turut didorong oleh rasa tidak nyaman, dipermalukan, dan tekanan psikologis. Hal ini semakin kompleks karena budaya setempat yang mempertimbangkan penampilan “menggoda” sebagai faktor penting dalam segala hal.

  • Diskriminasi di masyarakat

Penggunaan istilah-istilah yang merendahkan perempuan mendorong diskriminasi dan streotip gender di masyarakat. Mereka yang kerap dijuluki “aura maghrib” dianggap rendah karena tidak memenuhi standar kecantikan yang ada. Ironinya, hal ini turut mempersempit kesempatan karir dan diterima masyarakat di kehidupan sehari-hari.

Sekali lagi, standar kecantikan yang tidak masuk akal menciptakan kerugian yang signifikan. Mereka yang dijuluki “aura maghrib” akan diabaikan karena masyarakat yang menolak keberagaman dan perbedaan dalam pandangan feminitas yang ada. Sementara “tobrut”, mereka disukai tapi diperlakukan selayaknya barang yang diperebutkan oleh laki-laki.

  • Mengabaikan potensi perempuan

Istilah “tobrut” dan “aura maghrib” telah mengkitakan peran perempuan di kehidupan sehari-hari. Dua istilah ini hanya mengacu pada humor terhadap pesona perempuan yang dianggap unggul. Artinya, potensi perempuan hanya dibatasi oleh fisik yang memikat, sehingga kualitas lainnya seperti kecerdasan, kepemimpinan, atau profesionalitasnya masih diabaikan.

Sumber:

  • Amelia Prisilia, 2024. “Apa Arti Sebutan Aura Maghrib? Sering Jadi Bahan Ledekan ke Fuji di Media Sosial”, dalam suara.com
  • Muhammad Ijlal Sasakki Junaidi, 2024. “Tobrut Memang Meresahkan, Budaya Merendahkan Tubuh Perempuan tapi Dimaklumi karena Gampang Masuk FYP”, dalam Mojok.co

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Artikel Lainnya

Lolos Mentor Match 2024, Yuni Camelia Goes to Singapore

Kolaborasi Lembaga Layanan, Untuk Mengatasi Angka Kekerasan Seksual di Bengkulu

Sri Astuti, Perempuan Pelestari Budaya Rejang Umeak Meno’o

Leave a Comment