Bincangperempuan.com– Artikel Vogue berjudul “Is Having a Boyfriend Embarrassing Now?” tengah ramai diperbincangkan. Judulnya yang provokatif berhasil memantik perdebatan. Pertanyaan soal memiliki pacar, khususnya bagi perempuan heteroseksual, kini tak lagi dianggap sebagai pencapaian, melainkan sesuatu yang dipertanyakan.
Narasi ini terasa relevan dengan lanskap media sosial hari ini. Identitas single and proud dirayakan terang-terangan, sementara hubungan romantis tak lagi menjadi simbol tunggal keberhasilan hidup perempuan. Respons publik pun terbelah. Sebagian setuju dan melihat judul tersebut sebagai representasi kelelahan kolektif terhadap relasi yang timpang. Sebagian lain menilai Vogue terlalu menyederhanakan persoalan dan lebih mengejar sensasi.
Namun yang jelas di sini adalah hubungan romantis sudah tak lagi menjadi pusat kebahagiaan bagi semua orang. Jika romance bukan lagi prioritas utama, lantas relasi apa yang kini bisa kita pilih?
Menua Bareng Bestie
Salah satu jawabannya muncul lewat pilihan untuk menua bersama sahabat. Di Tiongkok, tujuh perempuan memutuskan membeli rumah bersama sebagai tempat tinggal masa pensiun mereka, mengadopsi pendekatan ala Golden Girls. Mereka merancang ruang hidup komunal dengan kamar pribadi, area bersama, paviliun teh, serta rencana berbagi keterampilan seperti memasak dan berkebun.
Kisah ini bukan sekadar cerita viral yang terdengar manis. Melainkan contoh konkret bagaimana persahabatan dapat berfungsi sebagai sistem dukungan utama—bukan sekadar pelengkap setelah hadirnya pasangan romantis. Dalam praktik ini, kedekatan emosional, kepercayaan, dan komitmen jangka panjang tidak bergantung pada ikatan romantis, melainkan pada relasi yang telah teruji oleh waktu.
Pilihan tersebut juga mencerminkan tren yang lebih luas. Seiring bertambahnya usia dan meningkatnya ketidakpastian ekonomi, banyak orang mulai menaruh kepercayaan pada relasi yang stabil dan berkelanjutan, alih-alih pada asumsi bahwa pasangan romantis akan selalu hadir dan mampu memenuhi seluruh kebutuhan hidup.
Baca juga: Ketika Parasocial Relationship Jadi Pedang Bermata Dua
Sebab “Partner” Tak Selalu Soal Romantis
Selama ini, kata partner hampir selalu diasosiasikan dengan hubungan romantis. Padahal, secara historis, istilah ini berakar dari konteks kerja dan bisnis—relasi yang dibangun atas dasar tanggung jawab bersama, kepentingan yang saling terkait, serta kolaborasi yang dapat diandalkan.
Andrea Bonior, psikolog klinis dan penulis The Friendship Fix, menjelaskan kepada Self Magazine bahwa makna awal partner sama sekali tidak bermakna tunggal untuk hal romantis. Istilah ini kemudian digunakan oleh pasangan LGBTQ+ yang tidak diakui secara hukum oleh negara, sebagai cara untuk menamai dan mengklaim komitmen seumur hidup mereka. Seiring waktu, istilah partner akhirnya menjadi sinonim dari spouse atau pasangan hidup.
Namun jika inti dari sebuah partnership adalah perawatan, dukungan, dan investasi bersama, lantas mengapa partnership masih dianggap hanya sah dalam hubungan romantis?
Relationship Anarchy: Bukan Anti-Cinta, Tapi Anti-Hierarki
Pertanyaan inilah yang kemudian digugat melalui pendekatan yang dikenal sebagai relationship anarchy. Kimberly Horn, psikolog dan penulis Friends Matter, for Life, mengatakan kepada Self bahwa pandemi menjadi pemicu penting pergeseran cara pandang ini.
Terjebak berbulan-bulan bersama satu pasangan, seintim apapun relasi tersebut—membuat banyak orang menyadari bahwa menggantungkan seluruh kebutuhan emosional pada satu individu adalah ekspektasi yang tidak realistis. Kesadaran ini membuka ruang bagi pengakuan atas pentingnya jejaring relasi yang lebih luas.
Relationship anarchy bukan tentang menolak pacaran atau pernikahan. Melainkan pendekatan yang menolak hierarki tradisional dalam hubungan serta gagasan bahwa pasangan romantis harus diutamakan dibanding relasi lain. Oleh karena itu relasi persahabatan, keluarga pilihan, dan komunitas memiliki bobot yang setara—ditentukan oleh kesepakatan, kebutuhan nyata, serta kontribusi emosional.
Ketika Punya Pasangan Romantis Bukan Lagi Prestasi
Bagi perempuan, perubahan ini tidak bisa dilepaskan dari proses emansipasi. Di banyak tempat, perempuan kini dapat membeli aset seperti rumah atau properti atas nama sendiri, membangun karier, dan menjadi pencari nafkah utama. Mereka memiliki kebebasan untuk mendefinisikan secara mandiri seperti apa bentuk keluarga yang diinginkan.
Kondisi ini menggeser makna pernikahan dari sebuah keharusan menjadi sebuah pilihan. Dan bagi sebagian perempuan, pilihan itu mulai kehilangan daya tariknya. Bukan karena anti-cinta, melainkan karena hidup yang bermakna tidak lagi bergantung pada satu skenario tunggal.
Baca juga: Nikah Tapi Tak Serumah, Kok Bisa?
Namun, Pernikahan Masih Jadi Tolak Ukur Keberhasilan bagi Perempuan Indonesia
Namun, konteks Indonesia menunjukkan kenyataan yang lebih kompleks. Tekanan sosial untuk menikah—terutama bagi perempuan—masih sangat kuat. Sosiolog Universitas Sebelas Maret, Drajat Tri Kartono, mengatakan kepada Kompas Bahwa penurunan angka pernikahan pada laki-laki lebih tajam dibanding perempuan, salah satunya karena tekanan sosial terhadap laki-laki untuk menikah relatif lebih kecil. Laki-laki lebih sering dituntut untuk mapan secara ekonomi, dibandingkan dengan status menikah.
Sebaliknya, perempuan yang memasuki usia 30-an kerap berhadapan dengan rentetan pertanyaan klise: “Kapan nyusul?”, “Kok masih sendiri?”, atau “Sendiri aja, mana pacarnya?” Pertanyaan-pertanyaan ini cerminan dari tekanan sosial yang menempatkan pernikahan sebagai penanda kedewasaan dan keberhasilan perempuan. Dalam konteks ini, tidak mengherankan jika angka pernikahan perempuan relatif lebih tinggi dibanding laki-laki.
Situasi tersebut menunjukkan bahwa budaya patriarki masih kuat menempatkan perempuan sebagai subjek yang harus difungsikan secara reproduktif. Lembaga pernikahan, dalam kerangka ini, kerap menjadi alat normatif untuk mengatur tubuh dan peran perempuan—mulai dari hamil, melahirkan, hingga mengasuh. Ketika perempuan tidak atau belum masuk ke dalam skema tersebut, status sosialnya kerap dipertanyakan, seolah keberadaannya belum sepenuhnya sah.
Padahal, di konteks global, hubungan romantis sudah tidak lagi menjadi simbol tunggal kesuksesan perempuan. Kehidupan yang bermakna dapat dibangun melalui beragam relasi—persahabatan, keluarga pilihan, komunitas, serta pencapaian personal dan profesional. Perubahan ini menegaskan bahwa perempuan seharusnya memiliki banyak pilihan hidup, bukan hanya satu jalan yang dianggap paling benar.
Relasi romantis tetap dapat menjadi ruang kebahagiaan, keintiman, dan pertumbuhan bersama. Namun, relasi romantis bukan lagi satu-satunya ukuran keberhasilan hidup. Ketika pilihan hidup perempuan diakui setara, pertanyaan yang seharusnya diajukan bukan lagi “kapan menikah?”, melainkan dorongan untuk menjalani hidup bahagia versi masing-masing.
Referensi:
- Joseph, C. (2025, October 29). Is having a boyfriend embarrassing now? Vogue. https://www.vogue.com/article/is-having-a-boyfriend-embarrassing-now?utm_source=chatgpt.com Vogue
- Ryu, J. (2025, December 11). Are best friends the new boyfriends? SELF. https://www.self.com/story/best-friends-platonic-partner
- Krisna, A., Judith, M. P., & Rosalina, M. P. (2024, Oktober 21). Belum mapan, empat dari 10 warga Indonesia masih melajang (3). Kompas.id. https://www.kompas.id/baca/investigasi/2024/10/21/belum-mapan-empat-dari-10-warga-indonesia-masih-melajang.
