Saat Riau Mulai Melambat, Pembukaan Hutan Justru Bergeser ke Wilayah yang Lebih Kecil
Bincangperempuan.com- Peta deforestasi akibat industri kelapa sawit di Sumatra sedang berubah. Selama dua dekade terakhir, Riau dikenal sebagai episentrum pembukaan hutan terbesar untuk sawit. Namun kini, ketika ekspansi di Riau mulai melambat, tekanan justru bergeser ke provinsi yang selama ini luput dari sorotan: Aceh.
Data terbaru tahun 2024 menunjukkan, luas deforestasi akibat sawit di Aceh mencapai 1.980 hektar. Angka ini nyaris menyamai Riau yang mencatat 2.028 hektar pada tahun yang sama.
Padahal, skala industri sawit di kedua wilayah sangat berbeda. Luas kebun sawit di Aceh hanya sekitar 254.822 hektar, sedangkan Riau telah mencapai lebih dari 1,5 juta hektar. Dengan kata lain, laju pembukaan hutan di Aceh kini hampir setara dengan Riau, meski luas kebunnya enam kali lebih kecil.

Perbandingan itu memperlihatkan satu hal: Aceh tampaknya menjadi “front terakhir” ekspansi sawit di Sumatra, tempat pembukaan hutan baru masih berlangsung aktif ketika wilayah lain mulai kehabisan ruang. Dalam dua dekade terakhir, luas kebun sawit di Aceh bertambah sekitar 92 ribu hektar. Namun berbeda dengan provinsi lain yang mulai melambat, deforestasi di Aceh tetap tinggi hingga 2024. Itu menunjukkan ekspansi sawit di Aceh masih berlangsung melalui pembukaan hutan baru, bukan semata-mata memanfaatkan lahan non-hutan. “Jika Riau adalah cerita tentang ledakan sawit yang sudah matang, maka Aceh adalah babak baru ekspansi,” demikian tergambar dari pola data dua dekade terakhir.
Baca juga: Ketika Laut Diberi Jeda: Cara Nelayan Bengkulu Memulihkan Gurita dan Menghemat Energi Melaut
Riau: Dari Puncak Deforestasi ke Titik Jenuh
Riau tetap menjadi provinsi dengan beban historis deforestasi terbesar di Sumatra. Puncaknya terjadi pada 2005, ketika lebih dari 48.390 hektar hutan dibuka hanya dalam satu tahun. Pada periode 2004–2010, Riau kehilangan sekitar 200.606 hektar hutan—setara hampir 70 persen dari total deforestasi sawit yang terjadi dalam dua dekade. Namun setelah 2010, lajunya menurun tajam. Dalam sepuluh tahun terakhir, total deforestasi sawit di Riau hanya sekitar 15.139 hektar. Tahun 2024, angkanya tinggal 2.028 hektar.
Penurunan ini tidak selalu berarti industri sawit di Riau menjadi lebih ramah lingkungan. Sebaliknya, kondisi itu bisa menunjukkan bahwa sebagian besar lahan yang dapat dikonversi memang sudah habis.
Riau kini tampak mendekati titik jenuh. Luas kebun sawit di provinsi ini telah meningkat dari 1,03 juta hektar pada 2004 menjadi 1,5 juta hektar pada 2024. Ketika ruang untuk ekspansi semakin sempit, tekanan pun bergeser ke provinsi lain.

Sumatera Selatan Muncul sebagai Magnet Baru
Jika Riau melambat, Sumatera Selatan justru memperlihatkan tren sebaliknya. Dalam dua dekade terakhir, provinsi ini mengalami lonjakan luas kebun sawit paling agresif di Sumatra. Pada 2004, luas lahan sawit di Sumatera Selatan tercatat 420.291 hektar. Dua puluh tahun kemudian, luasnya melonjak menjadi 1.007.021 hektar.
Artinya, Sumatera Selatan menambah sekitar 586 ribu hektar kebun sawit baru—bahkan lebih besar dibandingkan tambahan lahan di Riau dalam periode yang sama.
Meski tingkat deforestasi tahunannya tidak setinggi Riau pada masa puncak, pertumbuhan lahan yang sangat cepat menunjukkan bahwa pusat ekspansi sawit di Sumatra sedang bergeser. Riau mungkin telah mencapai batas ruang. Sementara Sumatera Selatan berubah menjadi magnet baru bagi investasi dan perluasan kebun.
Baca juga: Under the Intensifying Heat: Poverty and Child Marriage in Seluma
Bengkulu: Deforestasi Ditekan, Luasan Sawit Bertambah 50%
Di tengah masih tingginya tekanan di sejumlah provinsi, Bengkulu menunjukkan pola berbeda. Pada awal 2000-an, Bengkulu sempat mengalami deforestasi sawit yang cukup tinggi. Tahun 2004 menjadi puncaknya, dengan hutan yang dibuka mencapai 2.110 hektar. Setahun kemudian, angka itu masih berada di atas 1.600 hektar.
Namun setelah itu, laju deforestasi turun secara bertahap. Pada periode 2006–2009, pembukaan hutan masih berkisar antara 600 hingga 900 hektar per tahun. Memasuki 2010, angkanya turun drastis menjadi 284 hektar. Dalam lima tahun berikutnya, deforestasi terus menyusut hingga hanya puluhan hektar.
Dalam hampir satu dekade terakhir, deforestasi sawit di Bengkulu nyaris tidak lagi terjadi. Tahun 2022, Bengkulu bahkan mencatat nol hektar deforestasi industrial untuk sawit. Pada 2024, angkanya hanya 1,43 hektar.
Penurunan itu terjadi meski luas kebun sawit di Bengkulu tetap bertambah, dari 59.136 hektar pada 2004 menjadi 89.599 hektar pada 2024. Kondisi ini menunjukkan bahwa perluasan sawit di Bengkulu kini lebih banyak terjadi di lahan non-hutan, bukan melalui pembukaan kawasan berhutan baru.
Meski demikian, angka rendah bukan berarti ancaman telah hilang. Pengawasan tetap diperlukan, terutama untuk memastikan perluasan kebun tidak bergeser ke kawasan hutan tersisa atau lahan gambut. Sebab, pengalaman di banyak daerah menunjukkan, ketika harga sawit naik, godaan membuka lahan baru sering datang lebih cepat daripada regulasi.

Lampung dan Misteri “Ekspansi Tanpa Deforestasi”
Lampung menawarkan anomali yang lebih mencolok. Selama 24 tahun, dari 2001 hingga 2024, provinsi ini secara konsisten mencatat nol hektar deforestasi industrial untuk sawit. Tidak ada satu pun hektar hutan yang tercatat dibuka untuk kebun sawit.
Namun pada saat yang sama, luas kebun sawit di Lampung tetap bertambah. Dari 82.379 hektar pada 2004, luasnya meningkat menjadi 106.701 hektar pada 2024. Artinya, Lampung berhasil menambah lebih dari 20 ribu hektar kebun sawit tanpa membuka hutan baru.
Ada dua kemungkinan. Pertama, ekspansi sawit di Lampung memang sepenuhnya dilakukan di lahan non-hutan, seperti bekas lahan pertanian, semak belukar, atau perkebunan lama yang dialihfungsikan. Kedua, ada pergeseran pola industri: perusahaan tidak lagi membuka hutan primer, melainkan mengubah penggunaan lahan yang sebelumnya telah terdegradasi.
Bagi provinsi lain, Lampung bisa menjadi studi kasus penting tentang bagaimana industri sawit masih dapat berkembang tanpa memperbesar kerusakan hutan. Kalaupun ada “sulap” di balik data ini, setidaknya sulapnya bukan jenis yang membuat hutan tiba-tiba menghilang semalam.

Aceh Kini Perlu Menjadi Fokus Pengawasan
Data terbaru menunjukkan bahwa ancaman terbesar deforestasi sawit di Sumatra tidak lagi hanya berada di provinsi dengan industri terbesar, tetapi juga di wilayah yang lahannya relatif masih tersedia.
Tahun 2024, setelah Riau dan Aceh, provinsi dengan deforestasi sawit tertinggi adalah Sumatera Barat dengan 773 hektar dan Jambi dengan 470 hektar. Sementara itu, Bengkulu, Lampung, Kepulauan Riau, dan Bangka Belitung berada di kelompok dengan tingkat deforestasi paling rendah.
Pergeseran ini penting dibaca oleh pemerintah, investor, dan publik. Selama ini, perhatian terhadap sawit dan deforestasi terlalu sering berhenti di Riau. Padahal, ketika pengawasan terfokus di satu tempat, ekspansi kerap bergerak diam-diam ke wilayah lain.
Aceh, dengan hutan yang masih tersisa dan laju pembukaan yang kembali tinggi, berisiko menjadi pusat baru kehilangan hutan di Sumatra. Tanpa pengawasan ketat, moratorium izin baru, dan penegakan hukum yang konsisten, Aceh bisa mengulang jejak Riau, hanya saja dengan jeda waktu dua dekade. Dan seperti biasa, hutan selalu kalah cepat dibandingkan ekskavator.
Referensi:
