Anomali, Ballerina Cappuccina? Ini Dia Istilah dari Gen Alpha

Ais Fahira

News

Anomali, Ballerina Cappuccina Ini Dia Istilah dari Gen Alpha

Bincangperempuan.com- Pernah dengar anak-anak kecil teriak “Skibidi Toilet!” sambil tertawa atau joget-joget tak karuan? Atau mungkin kamu lihat komentar di TikTok atau YouTube yang isinya cuma “Anomali-anomali” Atau istilah nyeleneh “ballerina capucina” yang tidak jelas maksudnya tapi viral di dunia maya? Kalau iya, selamat datang di dunia Gen Alpha—generasi yang katanya paling melek digital, paling kreatif, tapi juga paling membingungkan bagi generasi-generasi sebelumnya.

Apa Itu Gen Alpha?

Istilah Gen Alpha pertama kali diperkenalkan oleh peneliti sosial asal Australia, Mark McCrindle, pada tahun 2008 Nama “Alpha” diambil dari huruf pertama alfabet Yunani, menandakan dimulainya siklus generasi baru setelah Gen Z. Mereka lahir setelah tahun 2010, tepatnya dari tahun 2010 hingga sekitar 2024—jadi saat ini, usia mereka berkisar antara bayi baru lahir hingga remaja berusia 15 tahun.

Gen Alpha adalah anak-anak dari para milenial dan Gen Z. Mereka tumbuh dengan tablet di tangan, akses internet 24/7, dan terbiasa melihat dunia lewat layar—baik itu video YouTube, game Roblox, atau filter-filter lucu di TikTok dan Instagram.

Baca juga: Diligent: Generasi Alpha Bengkulu Siap Beraksi

Apa Bedanya Gen Alpha dan Gen Z?

Banyak yang bingung membedakan Gen Z dan Gen Alpha, karena keduanya sama-sama dekat dengan teknologi. Tapi ada beberapa perbedaan kunci:

  1. Tahun Lahir
    Gen Z lahir di antara tahun 1997 sampai dengan 2010. Sedangkan Gen Alpha lahir di antara tahun 2010 sampai sekarang.
  2. Pengalaman Teknologi
    Gen Z tumbuh di masa transisi—dari HP Nokia ke smartphone, dari televisi ke YouTube. Mereka merasakan hidup sebelum dan sesudah teknologi canggih.
    Sedangkan Gen Alpha lahir di tengah semua itu. Mereka native banget dengan touchscreen, AI, dan media sosial. Bahkan, banyak dari mereka sudah punya akun media sosial sendiri sejak usia dini—meskipun masih dikontrol orang tua.
  3. Kebiasaan Belajar dan Hiburan:
    Gen Z masih mengenal sistem belajar konvensional. Sementara Gen Alpha banyak yang belajar lewat video, game edukatif, atau platform seperti Zoom sejak pandemi. Cara berpikir mereka lebih cepat, visual, dan multitasking.
  4. Orang Tua:
    Gen Z adalah anak-anak generasi X dan awal milenial. Gen Alpha sebagian besar anak dari milenial dan bahkan Gen Z yang kini tengah menjadi orang tua muda.

Baca juga: Selamat Datang Generasi Beta

Istilah-istilah Unik dari Dunia Gen Alpha

Gen Alpha punya kosakata unik yang membingungkan bagi sebagian orang, bahkan oleh Gen Z. Dalam dunia digital mereka yang cepat dan absurd, bahasa jadi alat menunjukkan identitas. Menurut berbagai sumber, berikut ini istilah unik yang sering digunakan Gen Alpha:

  • Rizz: Singkatan dari charisma, artinya kemampuan menarik perhatian, terutama dalam konteks percintaan. Viral lewat TikTok dan dipopulerkan oleh Kai Cenat.
  • Sigma: Berasal dari konsep “sigma male“, pria yang independen dan anti-hirarki sosial. Dipakai Gen Alpha secara ironis untuk menggambarkan sikap cuek tapi keren.
  • Mewing: Teknik menekan lidah ke langit-langit mulut agar rahang terlihat tegas. Belum terbukti ilmiah, tapi viral di kalangan remaja.
  • Big L: L sendiri merupakan kepanjangan dari Loss yang artinya kekalahan besar atau momen gagal yang memalukan. Lawannya, Big W (win), untuk kemenangan besar.
  • Looksmaxxing/Mogging: Usaha untuk memaksimalkan penampilan agar terlihat lebih menarik dari orang lain.
  • Brainrot: Istilah umum untuk menghabiskan terlalu banyak waktu online menonton konten berkualitas rendah yang menimbulkan pembusukan (rot) di otak.
  • Fanum Tax: Istilah untuk mencuri makanan teman, berasal dari kebiasaan YouTuber Fanum yang gemar mengambil makanan di piring orang.
  • Gyatt: Biasanya digunakan untuk menunjukkan kekaguman.
  • Sus: Kepanjangan dari suspicious yang artinya “mencurigakan”.
  • Yapping: Istilah yang ditujukan kepada seseorang terlalu banyak bicara atau mengoceh.
  • Cap: Kebohongan atau sesuatu yang tidak benar.
  • No cap: Berlawanan dengan cap, artinya jujur atau tidak berbohong.
  • Aura: Biasanya berhubungan dengan pesona atau ketertarikan seseorang. “Poin aura” dapat diperoleh atau hilang tergantung pada tindakan seseorang. Misalnya plus 1000 aura untuk mereka yang melakukan tindakan keren. Dan minus poin untuk seseorang yang telah melakukan tindakan yang tidak keren atau memalukan. Istilah ini lebih umum dalam komentar online atau video TikTok.

Tak hanya itu, Gen Alpha juga menciptakan istilah yang sepenuhnya absurd:

  • Skibidi Toilet: Serial animasi di Youtube yang karakter utamanya berupa kepala manusia dari toilet. Karakter  ini sering digunakan sebagai ekspresi dan meme tanpa makna yang jelas.
  • Anomali: Digunakan untuk menyebut hal yang tidak masuk akal, terutama dalam konteks meme.
  • Ballerina Cappuccina: Karakter AI (artificial intelligence) penari balet berkepala cangkir kopi. Ia merupakan istri dari Cappucino Asasino. Bagian dari tren viral “Italian Brainrot” bersama karakter absurd lain seperti Tralalero Tralalal, Trippi Troppi dan Bombardiro Crocodilo.

Istilah-istilah ini tumbuh dari dunia digital dan menyebar melalui algoritma. Bagi Gen Alpha, selama lucu dan bisa viral, istilah apa pun sah-sah saja dipakai. Walau pun kelihatan receh dan absurd, Gen Alpha saat ini sedang membentuk identitas mereka di dunia yang serba digital. Mereka belajar cepat, kritis, dan terbiasa mencari tahu melalui internet. Bahkan sejak usia belia, mereka sudah terpapar oleh AI. 

Nah, sebagai orang tua, guru, pembuat konten, sampai pelaku industri, mau tak mau harus memahami cara mereka berkomunikasi, agar tak ketinggalan. Karena momen ini seharusnya menjadi peluang untuk mengajak mereka tumbuh dengan arahan yang sehat dan ruang yang suportif.

Referensi:

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Teras

Artikel Lainnya

Gubernur Rohidin Paparkan Pelibatan Perempuan dalam Menjaga Hutan untuk Ketahanan Lokal

Global Backlash Threatens Women’s Sexual and Reproductive Health Rights

AMSI Latih Perusahaan Media Jelang Berlakunya UU PDP

Leave a Comment