Baru Putus Langsung Punya Cadangan: Cepat Move On atau Monkey Branching?

Bincang Perempuan

News

Bincangperempuan.com- Pernahkah kamu melihat seseorang yang baru saja putus hubungan, tapi dalam hitungan hari bahkan jam sudah menggandeng pasangan baru dengan begitu leluasa? Jangan terkecoh. Biasanya, sebelum kata putus resmi terucap, mereka sebenarnya sudah lama mencuri start, dan mengamankan sosok baru tersebut di belakang pasangannya.

Bagi orang luar, fenomena ini kerap disangka sebagai proses move on yang luar biasa cepat. Padahal, dalam dinamika psikologi kencan modern, perilaku ini memiliki istilah tersendiri yaitu monkey branching.

Analoginya diambil langsung dari perilaku monyet yang bergelantungan di pepohonan: seekor monyet tidak akan pernah melepaskan dahan lama sebelum tangan satunya berhasil menggenggam dahan baru yang kuat. Jika ia melepaskannya begitu saja tanpa pegangan, ia berisiko jatuh. Dalam hubungan asmara, monkey branching menggambarkan situasi ketika seseorang tidak akan benar-benar meninggalkan hubungannya saat ini sebelum memastikan ada pasangan pengganti yang siap menyambutnya.

Bukan Sekadar Cepat Move On

Monkey branching memang terkesan seperti proses move on biasa. Padahal, ada batas tipis namun tegas yang membedakannya. Hubungan baru umumnya terjadi secara spontan setelah sebuah ikatan resmi berakhir—sebagai bentuk pelarian atau pelipur lara sementara. Sementara itu, monkey branching dieksekusi sebelum hubungan lama usai.

Dalam praktiknya, fenomena ini sering berada di area abu-abu micro-cheating atau perselingkuhan emosional (emotional cheating). Pelaku tidak selalu langsung melakukan kontak fisik dengan calon pasangan baru. Mereka kerap memulainya dengan membangun komunikasi intens dan ketertarikan romantis tersembunyi dengan orang lain untuk menjaga potensi hubungan di masa depan. 

Perspektif Evolusi: Mate Switching dan Strategi Bertahan Hidup Emosional

Mengapa manusia bisa melakukan perhitungan dingin semacam ini dalam urusan perasaan? Melansir dari Attachment Project, perilaku ini tidak muncul begitu saja. Ada konsep yang dikenal sebagai Mate Switching Hypothesis.

Secara evolusioner, memasuki pasar kencan kembali setelah lajang membawa risiko yang cukup besar. Seseorang harus menanggung risiko kesendirian, kehilangan alokasi sumber daya emosional maupun material, serta ketidakpastian apakah ia bisa menemukan pasangan baru yang sepadan. Dalam konteks bertahan hidup (survival), menjadi lajang dianggap sebagai kondisi berisiko tinggi.

Oleh karena itu, tradisi “menyiapkan cadangan” atau melakukan perselingkuhan emosional sebelum benar-benar berpisah bertindak sebagai mekanisme adaptif untuk meminimalkan risiko tersebut. Dengan mengamankan calon pasangan baru terlebih dahulu, seseorang berhasil menghapus masa transisi menjadi lajang. Perselingkuhan emosional dalam konteks ini berfungsi sebagai uji coba (trial phase) untuk mengukur apakah dahan baru tersebut memang lebih menguntungkan sebelum dahan lama benar-benar dipotong.

Taktik Sabotase Emosional: Bikin Masalah Demi Alibi

Namun, mengamankan dahan baru hanyalah setengah dari permainan. Tantangan terbesar pelaku monkey branching adalah bagaimana cara keluar dari hubungan lama tanpa ingin terlihat sebagai pihak yang bersalah. Di sinilah taktik manipulasi dan sabotase emosional mulai dimainkan.

Ketika dahan baru sudah dalam genggaman erat, pelaku biasanya tidak langsung jujur bahwa mereka telah membagi hatinya. Malahan mereka akan melakukan penarikan diri secara emosional (emotional withdrawal). Mereka menjadi dingin, lepas tanggung jawab, dan sengaja memicu konflik-konflik kecil menjadi pertengkaran besar.

Tujuan dari sabotase ini adalah menciptakan narasi bahwa hubungan yang sedang dijalani memang sudah rusak, toksik, atau tidak lagi bisa dipertahankan. Dengan membuat situasi hubungan menjadi sangat tidak nyaman, pelaku memiliki alibi yang sempurna. Ketika perselisihan memuncak dan perpisahan terjadi, mereka bisa dengan mudah berargumen, “Lagian hubungan kita kan emang udah nggak sehat dari kemarin.” 

Alibi ini berfungsi untuk meredam rasa bersalah internal dalam diri pelaku. Dan juga untuk mendistorsi persepsi publik dan pasangan lama, seolah-olah kepindahan mereka ke pasangan baru yang mendadak adalah bentuk “penyelamatan diri” dari hubungan lama yang buruk, bukan hasil dari perselingkuhan emosional yang sudah dirancang jauh-jauh hari.

Kalkulasi Nilai Hubungan dan Ketakutan Sendiri

Selain faktor evolusi dan taktik alibi, ada dinamika psikologis internal yang mendorong seseorang melakukan monkey branching.  Salah satunya dijelaskan melalui Rusbult’s Investment Model of Commitment.  Teori ini menyatakan bahwa komitmen seseorang dalam hubungan merupakan hasil penjumlahan dari kepuasan yang dirasakan dan investasi yang telah ditanamkan, dikurangi dengan kualitas alternatif lain (quality of alternatives).

Di era digital dan media sosial, kualitas alternatif seolah hadir tanpa batas. Ketika kepuasan dalam hubungan lama menurun sedikit saja, persepsi bahwa di luar sana ada opsi yang lebih baik akan meningkat tajam. Jika hal ini digabungkan dengan fear of being single—ketakutan mendalam akan kesendirian dan ketidakmampuan memproses emosi ketidaknyamanan pascaputus—maka monkey branching menjadi jalan pintas yang sangat menggiurkan.

Riset pada tahun 2013 menunjukkan bahwa individu dengan ketakutan tinggi akan kesendirian cenderung menurunkan standar kualitatif mereka demi mendapatkan pasangan baru dengan cepat. Asal tidak sendiri, dahan mana pun akan mereka hinggapi.

Tanggung Jawab Emosional dalam Berhubungan

Monkey branching pada akhirnya adalah bentuk pengecutan emosional. Pelaku menukar kejujuran dan keberanian berkonfrontasi dengan taktik manipulasi demi rasa aman pribadinya sendiri. Korban dari perilaku ini sering kali ditinggalkan dalam kebingungan mendalam, meragukan validitas hubungan masa lalu mereka, dan merasa dimanipulasi oleh konflik buatan.

Memahami monkey branching bukan berarti memvalidasi atau membenarkan tindakan tersebut atas nama evolusi. Justru dengan mengenali pola, akar psikologis, dan taktik sabotase di baliknya, kita bisa belajar untuk lebih dewasa secara emosional: berani mengakhiri hubungan secara jujur ketika memang sudah tidak sejalan, tanpa harus menjadikan perasaan orang lain sebagai pijakan dahan sementara.

Referensi:

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Teras

Artikel Lainnya

Child grooming termasuk kekerasan seksual

Mengapa Child Grooming Termasuk Kekerasan Seksual?

Pernikahan Bukan Sekadar Objek Menyikapi Tren Unboxing Pengantin

Pernikahan Bukan Sekadar Objek: Menyikapi Tren Unboxing Pengantin

Sunat Perempuan di Indonesia

Kontroversi Sunat Perempuan di Indonesia

Leave a Comment