Benarkah Laki-laki Lebih Susah Multitasking Ketimbang Perempuan?

Ais Fahira

News

Benarkah Laki-laki Lebih Susah Multitasking Ketimbang Perempuan

Bincangperempuan.com- B’Pers, pernahkah kamu menyadari bahwa teman laki-lakimu tampak kesulitan saat harus melakukan dua hal sekaligus? Misalnya, saat dia mencoba membalas pesan sambil mendengarkan ceritamu—akhirnya malah salah tanggap atau tidak fokus. Atau ketika dia sedang mengemudi, kamu bicara panjang lebar, tapi jawabannya cuma “oh” atau “hmm”?

Ada anggapan yang beredar di masyarakat bahwa laki-laki memang tidak bisa multitasking. Sementara itu, perempuan sering dipersepsikan sebaliknya—mampu memasak sambil menjaga anak, atau mengerjakan tugas kantor sambil menjawab obrolan grup WhatsApp keluarga. Tapi apakah ini sekadar stereotip, atau ada dasar biologis dan psikologis di balik anggapan tersebut?

Multitasking: Apa Sebenarnya yang Terjadi di Otak?

Multitasking, secara sederhana, berarti melakukan lebih dari satu tugas dalam waktu bersamaan. Tapi secara neurologis, otak manusia sebenarnya tidak benar-benar melakukan dua hal secara serentak. Otak akan terus-menerus berganti fokus antara dua atau lebih tugas, fenomena ini disebut task switching.

Dalam proses task switching ini membutuhkan energi dan waktu untuk memindahkan fokus dari satu hal ke hal lain. Jadi, semakin kompleks tugas yang dilakukan bersamaan, semakin besar beban pada otak. Ini berlaku pada semua orang, tanpa memandang gender.

Namun, berbagai studi menunjukkan bahwa ada perbedaan kecil antara otak laki-laki dan perempuan dalam cara memproses informasi. Beberapa peneliti menyebut bahwa otak perempuan cenderung memiliki koneksi lebih kuat antara belahan otak kiri dan kanan, sementara otak laki-laki lebih dominan koneksi dalam satu belahan otak.

Studi-studi menunjukkan bahwa proses task switching ini berlaku bagi semua orang, tanpa memandang jenis kelamin. Namun, ada riset yang menemukan perbedaan dalam pola konektivitas otak laki-laki dan perempuan yang mungkin memengaruhi bagaimana cara mereka memproses informasi. Penelitian besar yang dilakukan oleh University of Pennsylvania pada tahun 2013 mengungkap perbedaan mencolok dalam struktur konektivitas otak antara laki-laki dan perempuan. Otak laki-laki cenderung memiliki koneksi yang lebih kuat dalam satu belahan otak, khususnya dari bagian depan ke belakang. Hal ini mendukung koordinasi antara persepsi dan tindakan, seperti kemampuan navigasi atau keterampilan motorik.

Sementara itu, otak perempuan menunjukkan konektivitas yang lebih tinggi antara kedua belahan otak. Pola ini diyakini mempermudah integrasi antara pemikiran analitis dan intuitif. Dengan kata lain, perempuan lebih terbantu dalam menggabungkan logika dan emosi, yang pada akhirnya memberi keunggulan dalam hal memori, perhatian terhadap detail sosial, serta kemampuan menyelesaikan beberapa tugas secara simultan.

Selain itu, banyak pakar mengingatkan bahwa hasil penelitian ini tidak boleh dijadikan pembenaran mutlak atas stereotip gender. Otak manusia memang menunjukkan perbedaan, tetapi kemampuan multitasking sejatinya juga dibentuk oleh pengalaman hidup dan pelatihan sosial sejak kecil. Perempuan, misalnya, sering dilatih untuk menyelesaikan banyak pekerjaan rumah tangga sekaligus, mengurus anak sambil memasak, atau menyelesaikan tugas kantor sambil merawat keluarga. Kebiasaan ini pada akhirnya melatih kemampuan mereka dalam mengelola banyak hal secara bersamaan.

Sebaliknya, laki-laki dalam banyak kultur sosial cenderung diarahkan untuk fokus mendalam pada satu tugas dalam satu waktu. Mereka dilatih untuk menyelesaikan satu pekerjaan hingga tuntas, dan baru kemudian berpindah ke hal lain. Pola pendidikan dan pembagian peran yang berbasis gender inilah yang turut memengaruhi perbedaan kemampuan multitasking antara laki-laki dan perempuan.

Jadi, jika perempuan terlihat lebih ahli dalam multitasking, bisa jadi itu bukan karena kemampuan bawaan dari lahir, melainkan karena mereka terbiasa melakukannya. Sebuah keterampilan yang terasah oleh keadaan dan ekspektasi sosial. Bahkan, dalam banyak kasus, perempuan tidak punya pilihan lain selain multitasking, terutama dalam peran domestik. Sementara laki-laki, walau tidak sering diminta untuk multitasking, tetap bisa melakukannya jika diperlukan, hanya saja dengan cara dan ritme yang berbeda.

Laki-laki bukannya tidak mampu, hanya saja laki-laki membutuhkan waktu transisi untuk berpindah dari satu aktivitas ke aktivitas lain. Sebagian lainnya memilih untuk menyusun skala prioritas dan menyelesaikan tugas secara berurutan demi menjaga efisiensi. Ini bukan kekurangan, melainkan strategi kerja yang berbeda. Banyak laki-laki yang justru tampil sangat produktif ketika diberi ruang untuk fokus dan tidak dibebani banyak tugas sekaligus.

Baca juga: Anomali, Ballerina Cappuccina? Ini Dia Istilah dari Gen Alpha

Perbedaan Kemampuan atau Perbedaan Pelatihan Sosial?

Meski ada temuan neurologis, banyak ahli menyarankan agar kita tidak terlalu cepat menarik kesimpulan bahwa “perempuan lebih ahli multitasking daripada laki-laki” secara mutlak. Sebab, banyak dari kemampuan ini bisa dipengaruhi oleh faktor sosial dan budaya.

Sejak kecil, perempuan sering dilatih untuk mengurus banyak hal sekaligus seperti mengatur rumah, merawat adik, menyelesaikan tugas, hingga bersosialisasi. Sementara laki-laki lebih sering diarahkan pada fokus mendalam dan satu per satu. Artinya keahlian perempuan bukan melulu kemampuan alami, tetapi karena ekspektasi sosial yang berbeda terhadap peran gender.

Jadi, kalau perempuan terlihat lebih lihai multitasking, mungkin itu karena mereka “dipaksa” untuk bisa. Dalam kehidupan sehari-hari, banyak perempuan—terutama ibu—yang tidak punya pilihan selain melakukan banyak hal dalam waktu bersamaan. Kemampuan ini bukan bawaan lahir, melainkan keterampilan yang terasah karena tuntutan situasi.

Bahaya Multitasking yang Tidak Disadari

Di sisi lain, terlalu mengandalkan multitasking juga bisa berdampak buruk. Studi menunjukkan bahwa multitasking terus-menerus justru bisa menurunkan produktivitas, membuat kita lebih mudah lelah, dan meningkatkan kesalahan. Otak kita, pada dasarnya, tidak dirancang untuk terus menerus berganti fokus dalam waktu singkat.

Baik laki-laki maupun perempuan sebaiknya tidak menjadikan multitasking sebagai standar produktivitas. Yang penting bukan seberapa banyak yang bisa kita kerjakan sekaligus, tapi seberapa baik kualitas dari apa yang dikerjakan.

Baca juga: Mengenal Kutang Suroso: Warisan Lokal yang Tetap Nyaman Dipakai

Mengubah Cara Pandang terhadap Gender dan Kinerja

Masyarakat sering menilai laki-laki yang tidak bisa multitasking sebagai “tidak cekatan” dan menganggap perempuan yang multitasking sebagai “superwoman“. Padahal dua-duanya tidak adil. Laki-laki bisa sangat produktif jika diberi ruang untuk fokus, dan perempuan juga tidak harus selalu multitasking untuk dianggap hebat.

Kita perlu menyadari bahwa setiap orang punya gaya kerja dan kapasitas kognitif yang berbeda. Alih-alih mempertahankan stereotip, akan lebih sehat jika kita memberi ruang bagi masing-masing individu untuk mengenal dan memilih cara kerja yang paling cocok untuk mereka.

Referensi:

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Teras

Artikel Lainnya

Pemeriksaan Haid: Pendidikan, Disiplin, atau Kekerasan?

Perempuan Harus Mengambil Peran Pengelolaan dan Pemanfaatan Hutan

Perempuan Pulau Pari Mengeluh Sulitnya Menjaga Laut dan Pesisir

Perempuan Pulau Pari Mengeluh Sulitnya Menjaga Laut dan Pesisir

Leave a Comment