Dari Ibu Hamil hingga Ayah: Bagaimana Asap Karhutla Mengancam Generasi Berikutnya

Ais Fahira

News

Bincangperempuan.com- Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bukanlah fenomena baru di Indonesia. Dari tahun ke tahun, asap tebal yang menyelimuti langit sejumlah wilayah—terutama di Sumatera dan Kalimantan—telah menjadi “tamu rutin” yang datang hampir setiap musim kemarau. Namun, tahun ini seolah ada sikap pembiaran. Seolah bencana yang berulang ini dianggap hal lumrah. Padahal, bukti ilmiah menunjukkan bahwa paparan asap karhutla membawa ancaman yang jauh lebih dalam, yakni ancaman lintas generasi yang menyasar kesehatan reproduksi perempuan dan laki-laki, serta masa depan anak-anak yang belum lahir.  

Asap karhutla mengandung partikel halus PM2.5, karbon monoksida, hidrokarbon aromatik polisiklik, dioksin, dan berbagai senyawa kimia pengganggu endokrin (endocrine-disrupting chemicals/EDC). Zat-zat ini mampu masuk ke dalam aliran darah, menembus plasenta, dan bahkan memengaruhi kualitas sel reproduksi. Dampaknya tidak berhenti pada individu yang terpapar hari ini, tetapi juga dapat merusak generasi berikutnya.  

Baca juga: Bencana Karhutla, Negara Alpa, dan Beban Berlapis di Pundak Perempuan

Dampak Asap Karhutla terhadap Kesehatan Perempuan dan Ibu Hamil  

Bagi perempuan, terutama ibu hamil, paparan asap karhutla membawa risiko yang sangat serius. Kelompok rentan ini lebih mudah mengalami gangguan kesehatan karena sistem tubuh sedang mengalami perubahan fisiologis yang besar. Asap yang terhirup dapat memicu peradangan sistemik, mengganggu fungsi hormon, dan meningkatkan risiko komplikasi kehamilan.  

Ketua Umum Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI), Prof. Dr. dr. Budi Wiweko, Sp.OG, Subsp. F.E.R., MPH, FRANZCOG (Hons), FICRM, secara tegas mengingatkan bahaya ini. Menurutnya, asap karhutla mengandung EDC seperti dioksin, karbon monoksida, dan bisphenol A (BPA). Senyawa-senyawa tersebut berpotensi merusak sistem hormon tubuh. Risiko paling tinggi terjadi pada kehamilan di bawah 12 minggu, ketika organ-organ janin sedang terbentuk. Jika zat beracun ini masuk ke dalam aliran darah ibu, kemungkinan bayi lahir dengan kelainan pada organ reproduksi dan alat kelamin meningkat secara signifikan.  

“Kebakaran hutan dan lahan itu asapnya berkaitan dengan polusi, sudah pasti tidak sehat. Untuk perempuan sehat saja tidak baik, apalagi untuk ibu hamil,” tegas Prof. Budi kepada Media Indonesia. Ia menyarankan ibu hamil di wilayah terdampak untuk selalu memakai masker medis, membatasi aktivitas di luar rumah, dan mendorong kebijakan bekerja dari rumah (work from home) bagi pekerja hamil. Langkah-langkah proteksi mandiri ini menjadi sangat penting karena perlindungan struktural dari pemerintah masih sering terlambat.  

Asap Kebakaran Hutan dan Risiko Kelahiran Prematur  

Bukti kuat mengenai dampak lintas generasi datang dari penelitian yang dipublikasikan di jurnal Environmental Research pada 2022. Sam Heft-Neal beserta rekan-rekannya menganalisis data kelahiran tunggal di California periode 2006–2012. Mereka menggabungkan data kelahiran dengan estimasi satelit mengenai batas asap kebakaran hutan serta konsentrasi PM2.5 permukaan.  

Hasilnya, setiap hari tambahan paparan asap kebakaran hutan selama kehamilan dikaitkan dengan peningkatan risiko kelahiran prematur (<37 minggu) sebesar 0,49 persen (95% CI: 0,41–0,59 persen). Pada median paparan sebanyak tujuh hari, risiko meningkat 3,4 persen dibandingkan ibu yang tidak terpapar. Asosiasi ini lebih kuat pada trimester akhir kehamilan dan pada hari-hari dengan intensitas asap sedang hingga tinggi (PM2.5 asap 5–10 µg/m³ atau lebih dari 10 µg/m³). Paparan asap intensitas rendah tidak menunjukkan hubungan yang signifikan.  

Peneliti memperkirakan terdapat 6.974 kelahiran prematur berlebih yang dapat dikaitkan dengan paparan asap kebakaran hutan pada periode 2007–2012, atau sekitar 3,7 persen dari seluruh kelahiran prematur yang tercatat. Menariknya, dampak ini tidak berbeda secara signifikan berdasarkan ras/etnis atau tingkat pendapatan, tetapi lebih besar pada ibu yang tinggal di wilayah yang jarang terpapar asap. Temuan ini menegaskan bahwa bahkan paparan singkat dapat membawa konsekuensi jangka panjang bagi kesehatan anak.  

Baca juga: Apakah Udara Kita Masih Layak Hirup?

Ancaman terhadap Reproduksi Laki-laki: Mengapa Dampaknya Lintas Generasi  

Ancaman lintas generasi tidak hanya datang dari sisi ibu. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa asap kebakaran hutan juga merusak kualitas sperma laki-laki. Studi yang dipublikasikan di Fertility and Sterility menganalisis sampel air mani 84 pria di wilayah Seattle yang menjalani prosedur inseminasi intrauterin (IUI) selama peristiwa kabut asap besar tahun 2018, 2020, dan 2022.  

Hasilnya konsisten: setelah terpapar asap, terjadi penurunan konsentrasi sperma, jumlah total sperma, jumlah sperma bergerak (total motile sperm count), dan jumlah sperma yang bergerak progresif. Penurunan ini terjadi meskipun pria tersebut menjadi kontrol bagi dirinya sendiri (membandingkan kondisi sebelum dan sesudah paparan). Zat beracun dalam asap diduga memicu peradangan sistemik, mengganggu hormon reproduksi, dan merusak DNA sperma.  

Penelitian pada hewan coba memperkuat temuan ini. Paparan asap kayu putih (komponen umum kebakaran hutan) selama dua minggu saja sudah cukup menurunkan motilitas sperma tikus jantan dan mengubah kandungan RNA non-koding dalam semen. Perubahan RNA ini berperan penting dalam regulasi gen selama perkembangan embrio awal. Akibatnya, keturunan dari ayah yang terpapar menunjukkan gangguan: anak betina mengalami keterlambatan pubertas dan gangguan endokrin, sementara anak jantan memiliki kadar hormon testosteron dan luteinizing hormone yang lebih rendah.  

Oleh sebab itu, asap karhutla tidak hanya membahayakan janin melalui ibu, tetapi juga dapat merusak kualitas genetik yang dibawa ayah. Inilah yang menjadikan ancamannya bersifat lintas generasi–kerusakan dapat diteruskan ke anak dan cucu.  

Saatnya Mengakhiri Pembiaran  

Karhutla di Indonesia sudah berlangsung puluhan tahun. Setiap musim kemarau, ribuan hektare lahan terbakar, asap menyebar lintas provinsi bahkan lintas negara, dan jutaan warga terpapar. Namun, respons yang muncul sering kali reaktif dan tidak mengentaskan permaslahan. Padahal, bukti ilmiah—baik dari California maupun studi-studi terbaru tentang kualitas sperma—menunjukkan bahwa harga yang dibayar jauh lebih mahal daripada sekadar biaya pemadaman atau masker sekali pakai.  

Pemerintah perlu menempatkan karhutla sebagai isu kesehatan reproduksi dan kesehatan generasi, bukan sekadar isu lingkungan atau ekonomi. Kebijakan pencegahan yang serius, penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran lahan, sistem peringatan dini yang terintegrasi dengan layanan kesehatan ibu dan anak, serta dukungan nyata bagi kelompok rentan (termasuk kebijakan WFH bagi pekerja hamil) harus menjadi prioritas.  

Ibu hamil dan pasangan yang sedang merencanakan kehamilan di wilayah rawan karhutla perlu ekstra waspada: gunakan masker, batasi aktivitas luar ruangan, pantau kualitas udara, dan konsultasikan kondisi kesehatan secara rutin. Namun, tanggung jawab utama tetap berada di tingkat kebijakan. Karena jika pembiaran terus berlanjut, yang terbakar bukan hanya hutan dan lahan, melainkan masa depan generasi Indonesia.  

Referensi:

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Teras

Artikel Lainnya

Perempuan Membangun Desa Kopi Tangguh Iklim di Bengkulu

Perempuan Membangun Desa Kopi Tangguh Iklim di Bengkulu

Stop Stigma, Mulai Fakta: Membongkar Mitos HIV yang Masih Dipercaya Banyak Orang

Selain Donatur dilarang Ngatur Candaan Biasa atau Problematis

Selain Donatur dilarang Ngatur: Candaan Biasa atau Problematis?

Leave a Comment