Di Balik Candaan Ani-Ani: Ketimpangan yang Membentuk Sugar Baby

Ais Fahira

News

Bincangperempuan.com- Ungkapan “ani-ani no, simpenan yes” sempat viral beberapa waktu lalu setelah dilontarkan Lisa Mariana, sosok yang diberitakan dekat dengan Ridwan Kamil. Dalam sebuah podcast, ia mengaku sebagai “simpenan”—dan kalimat itu langsung menjadi bahan candaan publik di jagat maya. 

Banyak yang menertawakannya karena dianggap tidak ada bedanya dengan istilah “ani-ani”, sebutan populer untuk perempuan muda yang tampil glamor dengan gaya hidup mewah hasil dukungan lelaki mapan. Fenomena ini memperlihatkan bagaimana istilah ani-ani atau sugar baby terus dibicarakan, tetapi jarang dibedah dengan serius. 

Secara sederhana, sugar baby adalah perempuan atau laki-laki muda yang menjalani hubungan beneficial—hubungan transaksional dengan sosok lebih tua dan mapan, yang disebut sugar daddy atau sugar mommy. Sebagai imbalan atas perhatian, kedekatan emosional, atau hubungan romantis (dan dalam beberapa kasus hubungan seksual), mereka menerima dukungan finansial.

Di media sosial, humor semacam “info sugar daddy dong, capek kerja” sering berseliweran. Tapi jika lapisan komedinya kita kelupas, fenomena sugar baby tidak bisa dilepaskan dari persoalan struktural.

Ketimpangan Ekonomi Sebagai Akar Masalah

Salah satu pendorong utama maraknya sugar baby adalah ketimpangan ekonomi, terutama antara perempuan dan laki-laki. Upah perempuan secara konsisten lebih rendah, baik secara nasional maupun global. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa Angka Partisipasi Kerja (APK) perempuan pada 2024 hanya 56,4 persen, jauh tertinggal dari laki-laki yang mencapai 89,51 persen. Jurang ini menggambarkan betapa akses perempuan pada pekerjaan layak masih terbatas.

Situasi Indonesia mencerminkan kondisi global: perempuan rata-rata hanya menerima 77 sen untuk setiap satu dolar yang diterima laki-laki untuk pekerjaan bernilai setara. Bahkan laporan UN Women mencatat bahwa perempuan Indonesia masih mendapat 23 persen lebih rendah dibanding laki-laki, meskipun proporsi perempuan berpendidikan tinggi justru lebih banyak.

Kondisi ini menunjukkan bahwa akar masalahnya bukan pada kemampuan, melainkan struktur yang membuat perempuan bekerja lebih keras untuk hasil yang lebih kecil. Banyak bidang pekerjaan masih belum ramah gender, baik dari sisi waktu, keamanan, maupun peluang naik jabatan. Sistem demikian membuat perempuan lebih rentan secara ekonomi. Sehingga sebagian perempuan mencari jalan pintas, dengan menjadi sugar baby.

Di saat yang sama, media sosial menanamkan standar gaya hidup bahwa perempuan dianggap “berdaya” atau “independen” ketika bisa liburan fancy, sering terlihat jalan-jalan atau dalam perjalanan, memakai barang mewah, dan rutin ke klinik kecantikan agar selalu tampil paripurna. 

Tuntutan untuk tampil seperti itu tidak sebanding dengan kesempatan ekonomi yang tersedia. Akhirnya, sebagian perempuan memilih jalur sugar dating untuk mengakses kehidupan yang secara struktural sulit mereka capai.

Apa yang diungkap Lisa Mariana menjadi pintu masuk untuk melihat bagaimana tekanan ekonomi dan sosial itu bekerja dalam kehidupan perempuan muda hari ini.

Baca juga: Membandingkan LC dan Istri, Kemunafikan yang Berakar dari Patriarki

Patriarki dan Relasi Kuasa

Selain persoalan ekonomi, patriarki turut melanggengkan fenomena ini. Sistem patriarki memandang laki-laki sebagai penyedia utama, sementara perempuan dianggap pelengkap—layak digaji lebih rendah, diposisikan lebih rendah, dan diperlakukan sebagai objek.

Dalam banyak budaya, laki-laki yang berusia lebih tua dan berkuasa secara ekonomi dianggap memiliki hak untuk mengakses tubuh perempuan. Perempuan kemudian dipandang sebagai komoditas sebagai hiburan, pendamping hingga penanda status sosial.

Sejak kecil, perempuan dibentuk untuk selalu tampil cantik, rapi, dan menyenangkan—seolah keberadaannya adalah etalase yang dinilai dari luar. Norma sosial seperti ini membuat tubuh perempuan memiliki “nilai jual”, dan sistem patriarki memanfaatkan itu untuk memperkuat relasi kuasa yang timpang.

Oleh karena itu sugar dating bisa tumbuh dari struktur yang sejak awal menempatkan perempuan sebagai pihak yang harus menyenangkan dan laki-laki sebagai pihak yang berhak menikmati.

Risiko Eksploitasi

Relasi transaksional selalu mengandung ketimpangan kuasa. Dalam sugar dating, ketimpangan ini sering tersembunyi karena dibungkus bahasa “hubungan saling menguntungkan”. Tidak semua hubungan sugar bersifat eksploitatif, tetapi banyak yang rentan ke arah tersebut, terutama ketika ada tekanan ekonomi.

Sayangnya, masyarakat kita kurang memiliki ruang aman untuk membicarakan ini tanpa moral panic atau menyalahkan korban. Diskusi publik sering berhenti pada penghakiman, bukan analisis. Akibatnya, perempuan yang terlibat dalam sugar dating hanya mendapat stigma, bukan fokus kepada solusi yang lebih aman.

Selain itu risiko yang mengancam kesehatan reproduksi juga sering diabaikan. Sebuah penelitian yang mengkaji fenomena sugar baby di kalangan remaja Semarang menemukan sugar baby menjalani hubungan tersebut untuk memenuhi kebutuhan finansial dan gaya hidup. 

Sebagian melakukan aktivitas seksual tanpa edukasi kesehatan reproduksi yang memadai, dan banyak sugar daddy tidak pernah mendorong pemeriksaan kesehatan. Risiko kehamilan, aborsi, hingga infeksi menular seksual kerap disadari, tetapi tidak diimbangi dengan pengetahuan atau dukungan untuk keluar dari relasi tersebut.

Sementara itu, perdebatan internasional mempertanyakan apakah sugar dating termasuk kerja seks. Banyak bentuk kerja seks, seperti girlfriend experience, juga mengombinasikan kedekatan emosional dan seksual. Dalam artikel DW, dijelaskan bahwa situs seperti Seeking.com tampak seperti aplikasi kencan biasa, tetapi banyak penggunanya jelas menuliskan kebutuhan finansial. Bahkan praktik sugar dating tidak hanya terjadi pada hubungan heteroseksual; banyak laki-laki muda juga menjadi sugar baby bagi laki-laki yang lebih tua.

Stefanie Klee dari organisasi Sex Work is Sex Work–Respect menilai sugar dating pada dasarnya merupakan bentuk kerja seks yang dibungkus lebih rapi. Ia menegaskan bahwa meskipun komunikasi awal terjadi online, “kerja seks itu nyata, personal, dan berlangsung di luar layar.” Ia juga menyebutkan bahwa sugar baby sangat rentan dieksploitasi, terutama ketika hukum tidak melindungi mereka. Terutama jika di negara mereka belum memiliki kebijakan spesifik terkait pekerja seks.

Baca juga: Pelakor dan Patriarki: Saat Film Menyalahkan Perempuan atas Retaknya Rumah Tangga

Stigma yang Selalu Mengarah pada Perempuan

Biasanya dalam ruang publik, yang paling sering diserang adalah perempuan—mereka yang dijuluki “ani-ani”. Padahal aktor yang menopang sistem ini adalah laki-laki berkuasa dengan sumber daya ekonomi. Mereka menawarkan uang, mengatur relasi, sekaligus menikmati keuntungannya.

Namun karena budaya patriarki begitu kuat, kritik jarang diarahkan kepada lelaki yang menciptakan dan melanggengkan relasi kuasa tersebut. Perempuan disalahkan karena dianggap “murahan”, “materialistis”, atau “tidak bermoral”, sementara laki-laki dengan kekuasaan finansial diposisikan hanya sebagai pemberi bantuan.

Fenomena ini menunjukkan bahwa meski R.A. Kartini sudah lebih dari satu abad meninggalkan kita, struktur patriarki tetap membayangi kehidupan perempuan. Ia memengaruhi keputusan-keputusan yang mereka ambil, ruang yang mereka miliki, dan pilihan yang tampak tersedia di depan mereka.

Pada akhirnya, fenomena sugar baby tidak akan selesai hanya dengan mencemooh para perempuan yang terlibat atau menormalisasinya sebagai pilihan hidup tanpa melihat risiko di baliknya. Yang dibutuhkan adalah perlindungan dan pemahaman edukasi tentang consent, relasi sehat, dinamika kuasa, serta risiko kesehatan reproduksi yang sering diabaikan. 

Dan solusi utamanya tetap struktur ekonomi. Selama akses perempuan terhadap pekerjaan layak, upah setara, dan kesempatan ekonomi masih timpang, fenomena semacam sugar baby akan terus muncul sebagai jalan pintas yang dipilih karena kebutuhan, bukan keinginan. Ketika perempuan memiliki akses ekonomi yang kuat dan adil, mereka tak perlu lagi mempertimbangkan relasi transaksional yang rawan eksploitasi—karena pilihan hidupnya tidak lagi dibatasi oleh keterpaksaan, tetapi oleh kebebasan.

Referensi:

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Teras

Artikel Lainnya

Representasi Perempuan di Media Masih Mencerminkan Masyarakat yang Patriarki

Side Hustle Meningkat: Bukti Darurat Upah Layak atau Peningkatan Produktivitas?

Dari Permen ke Donasi Sepihak Cerita Konsumen dan Kembalian yang Tak Benar-benar Kembali

Dari Permen ke Donasi Sepihak: Cerita Konsumen dan Kembalian yang Tak Benar-benar Kembali

Leave a Comment