Bincangperempuan.com- Anggota DPD RI, Yashinta Sekarwangi Mega, berkolaborasi dengan Generasi Anti Kekerasan (GAK) menyelenggarakan Youth Talks 2025 dengan tema “Mewujudkan Yogyakarta yang Aman, Inklusif, dan Bebas Perundungan”. Kegiatan ini menjadi ruang dialog dan advokasi pemuda untuk merespons berbagai persoalan kekerasan yang masih dialami remaja, khususnya perundungan di lingkungan pendidikan, ruang publik, dan ruang digital.
Mengusung tagline Stop Bullying, Start Loving, kegiatan ini diikuti oleh 60 peserta dari 15 komunitas di Yogyakarta yang terdiri atas pelajar, mahasiswa, dan pegiat isu sosial. Sejak awal, peserta diperkenalkan dengan visi serta kerja-kerja advokasi GAK dalam upaya pencegahan kekerasan dan penciptaan ruang aman serta inklusif bagi pemuda.
Rangkaian acara diawali dengan Focus Group Discussion (FGD) yang membahas isu-isu krusial remaja, mulai dari perundungan, kesehatan mental, kekerasan seksual, kesetaraan gender, hingga inklusivitas. FGD ini menjadi ruang aman bagi peserta untuk berbagi pengalaman sekaligus merumuskan pandangan bersama atas persoalan yang dihadapi pemuda di lingkungan pendidikan maupun sosial.
Baca juga: Luka Patriarki: Inses, Ekonomi, dan Perlindungan Anak di Bengkulu
From Nothing to Something
Founder Generasi Anti Kekerasan Indonesia, Muhammad Fahry Azizurahman, menegaskan makna tagline “From Nothing to Something”. Ia mengatakan, “Dari yang tidak ada sesuatu, tercipta sesuatu dalam bentuk perubahan dari pergerakan, terutama di Daerah Istimewa Yogyakarta. Remaja adalah generasi yang masuk ke dalam kelompok rentan dan rawan menjadi korban kekerasan, baik itu dalam bentuk bullying, kekerasan seksual, KBGO, ataupun kasus kenakalan remaja.”
Salah satu momen penting dalam kegiatan ini adalah Deklarasi Pemuda Anti Bullying yang dipimpin oleh perwakilan peserta. Deklarasi tersebut menjadi simbol komitmen kolektif pemuda Yogyakarta untuk menolak segala bentuk perundungan, baik secara langsung maupun daring.
Diskusi utama dalam Youth Talks Session menghadirkan tiga narasumber: Khalisha Nur Shadrina selaku Co-Founder GAK Yogyakarta, Yashinta Sekarwangi Mega sebagai Anggota DPD RI Daerah Pemilihan Yogyakarta, serta Kalis Mardiasih, aktivis sekaligus penulis. Diskusi membahas isu bullying dari perspektif gerakan komunitas, pengalaman advokasi, serta peran kebijakan publik dalam melindungi kelompok rentan.

Sinergi Lintas Sektor untuk Generasi Tangguh
Dalam sesi tersebut, Yashinta Sekarwangi menegaskan peran strategis pemerintah. Ia menyampaikan, “Sebenarnya banyak program dan kebijakan yang telah disiapkan bahkan sudah berjalan, mulai dari tingkat dewan hingga implementasi di lapangan. Namun tantangan yang masih dihadapi adalah minimnya sosialisasi kepada masyarakat, sehingga program-program tersebut belum sepenuhnya dirasakan manfaatnya. Di era modern ini, kolaborasi antara pemerintah, stakeholder, dan masyarakat menjadi kunci utama.”
Sementara itu, Kalis Mardiasih menyoroti relasi laki-laki dan perempuan dalam kehidupan sehari-hari. Ia menegaskan, “Kekerasan baik verbal, non-verbal, maupun digital dapat menimpa siapa saja tanpa memandang usia. Karena itu, anak muda perlu meningkatkan kepedulian dan kesadaran sosial agar tidak mudah terjebak dalam pola pikir maupun lingkungan yang diskriminatif dan penuh kekerasan.”
Dari sudut pandang komunitas, Khalisha Nur Shadrina menyoroti stigma yang kerap melekat pada remaja. Ia mengatakan, “Alih-alih dicap sebagai ‘generasi strawberry’, remaja justru membutuhkan dukungan dan ruang aman untuk bertumbuh. Stigma yang melekat pada generasi Z dapat membuat remaja ragu mencari jati diri dan mengekspresikan diri secara sehat. Perubahan hanya dapat terjadi jika remaja memiliki pondasi yang kuat, salah satunya dengan kemampuan memimpin diri sendiri sebelum memimpin orang lain.”
Melalui berbagai perspektif, sesi ini menegaskan bahwa upaya menciptakan generasi muda tangguh tidak bisa dibebankan pada satu pihak saja. Sinergi antara pemerintah, aktivis, komunitas, dan masyarakat luas menjadi langkah penting untuk menjawab tantangan zaman serta memastikan remaja tumbuh dalam lingkungan yang aman, adil, dan berdaya.
Sebagai penguatan partisipasi bermakna, kegiatan dilanjutkan dengan Advocacy Session menggunakan metode gallery walk. Dalam sesi ini, peserta menyampaikan aspirasi dan rekomendasi secara langsung kepada Anggota DPD RI yang kemudian ditanggapi bersama aktivis masyarakat sipil. Sesi ini menegaskan pentingnya dialog dua arah antara pemuda dan pembuat kebijakan.
Baca juga: ASN Dilarang Bercerai? Helmi Hasan Lupa Negara Bukan Penjaga Rumah Tangga
Rangkaian kegiatan ditutup dengan sesi refleksi serta penandatanganan kesepakatan pengangkatan R. A. Yashinta Sekarwangi Mega sebagai Pembina Generasi Anti Kekerasan. Penetapan ini menjadi simbol komitmen bersama dalam mendukung gerakan pemuda anti perundungan di Yogyakarta.
Secara keseluruhan, Youth Talks 2025 berlangsung dengan tertib, aman, dan penuh semangat kolaborasi. Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah konkret dalam mendorong keterlibatan aktif pemuda untuk mewujudkan Yogyakarta yang aman, inklusif, dan bebas dari perundungan.
