Bincangperempuan.com- Belakangan, linimasa media sosial dipenuhi foto-foto perempuan dengan latar kafe, sudut kota yang estetik, atau ruang-ruang rapi yang tampak seperti hasil jepretan pribadi. Wajahnya natural, pencahayaannya pas, sekilas tak ada yang terasa janggal. Foto-foto itu lewat begitu saja, menyatu dengan unggahan harian lain, seolah dokumentasi hidup biasa. Tapi, sebagian akun yang mengunggah foto tersebut kemudian memberi pengakuan bahwa gambar tersebut adalah hasil generated image berbasis AI.
Pengakuan itu justru membuka babak baru. Kolom komentar berubah jadi arena eksperimen. Orang-orang saling bertukar prompt, menambahkan detail, menyempurnakan tampilan—kulit dibuat lebih cerah, tubuh lebih ramping, ekspresi lebih “ideal” atau bentuk tubuh lebih berisi.
Yang membuat heran adalah kenapa hampir selalu figur perempuan yang dipakai untuk memamerkan kecanggihan prompting AI? Kenapa bukan lanskap, benda mati, atau figur manusia yang lebih beragam?
Baca juga: Ramai Pembalut Repack di Pasaran, Apakah Aman?
Bias Gender AI dalam Merepresentasikan Tubuh Perempuan
Sebuah studi yang dimuat dalam jurnal Journalism and Media (2025) menganalisis gambar-gambar yang dihasilkan oleh dua sistem AI populer, DALL-E Nature dan Flux 1. Studi analisis tersebut menemukan bahwa AI cenderung mereproduksi dan bahkan memperkuat standar kecantikan hegemonik yang sudah lama mendominasi media. Tubuh kurus, kulit cerah, dan fitur wajah yang diasosiasikan dengan standar Barat muncul jauh lebih sering dibandingkan tubuh beragam lainnya. Tubuh gemuk hampir tidak terlihat, atau jika muncul, kerap ditempatkan dalam konteks negatif seperti tidak sehat atau malas.
Bias ini bahkan tidak berhenti pada bentuk tubuh saja. Representasi gender juga berjalan timpang. Laki-laki lebih sering digambarkan dalam peran aktif berolahraga, bekerja, memimpin. Sementara itu perempuan cenderung ditampilkan dalam posisi pasif, santai, atau terseksualisasi. Perempuan lebih sering hadir sebagai objek visual, bukan subjek dengan aktivitas dan agensi. Dengan kata lain, AI bukan hanya “meniru” realitas sosial, tetapi menyaringnya melalui kacamata yang sudah bias sejak awal.
Sistem AI belajar dari kumpulan gambar yang diambil dari internet, seperti iklan, media populer, dan media sosial. Sementara itu, ruang-ruang visual tersebut sejak lama lebih sering menampilkan tubuh perempuan dengan standar kecantikan tertentu dan menjadikan perempuan sebagai objek visual.
Tubuh yang tidak sesuai dengan standar tersebut seperti tubuh gemuk, tua, atau beragam secara ras dan bentuk kerap diabaikan. Ketika data yang sudah bias ini diproses oleh algoritma, AI ini tidak akan memperbaiki ketimpangan yang ada. AI justru mengulang dan memperkuat bias, sehingga narasi visual yang sempit terus dilanggengkan dan keberagaman tubuh serta identitas semakin tersisih.
Penelitian Rosenbaum (2025) menyoroti maraknya unggahan gambar perempuan hasil AI di media sosial yang disertai narasi “looking for husband” yang sempat tren di Facebook. Unggahan ini umumnya dibuat oleh akun palsu atau bot untuk menarik perhatian dan interaksi. Perempuan yang ditampilkan digambarkan sangat cantik dengan tubuh yang nyaris mustahil secara biologis.
Fenomena ini menunjukkan bagaimana AI meniru dan memperkuat selera visual dominan yang menempatkan perempuan sebagai objek pilihan, bukan sebagai subjek dengan agensi. Dalam upayanya menyesuaikan diri dengan pola tersebut, AI justru menghasilkan representasi tubuh yang ekstrem dan tidak manusiawi.
Baca juga: Stop Stigma, Mulai Fakta: Membongkar Mitos HIV yang Masih Dipercaya Banyak Orang
AI Slop: Ketika Tubuh Perempuan Dijadikan Umpan Digital
Rosenbaum menilai fenomena ini sebagai AI slop—ketika konten visual buatan AI berkualitas rendah yang diproduksi massal demi engagement. Bahkan banyak di antaranya digunakan sebagai umpan, baik untuk penipuan (catfishing) maupun untuk mengumpulkan klik dan interaksi. Namun, di balik motif ekonomi tersebut, tersimpan persoalan ideologis yang lebih serius. Tubuh perempuan direduksi menjadi komoditas visual, diatur oleh algoritma, dan dikonsumsi tanpa relasi kemanusiaan.
Rosenbaum menyebut ini sebagai bentuk algorithmic gaze, kelanjutan dari konsep male gaze yang diperkenalkan Laura Mulvey. Jika sebelumnya kamera dan narasi film menjadi alat objektifikasi, kini algoritma mengambil alih peran tersebut. Sistem AI dilatih untuk mengenali pola apa yang disukai pengguna. Kemudian mengulanginya tanpa konteks etis. Hasilnya adalah figur-figur perempuan sintetis yang sesuai standar kecantikan tetapi tidak tampil manusiawi.
Yang lebih mengkhawatirkan, studi ini juga menemukan keterkaitan antara penyebaran gambar-gambar tersebut dengan ruang digital yang sarat ideologi konservatif. Estetika tubuh “murni”, feminin, patuh, dan ideal kerap selaras dengan narasi politik yang menekankan kontrol, hierarki, dan peran gender tradisional. Dalam konteks ini, AI tidak hanya memproduksi gambar, tetapi ikut membentuk imajinasi sosial tentang tubuh perempuan yang sesuai standar kecantikan tertentu.
Kembali ke linimasa media sosial kita, pertanyaan awal pun menemukan konteksnya. Figur perempuan bisa menjadi pilihan utama karena tubuh perempuan telah lama ditempatkan sebagai objek visual paling mudah untuk dieksploitasi.
Dengan AI, proses ini menjadi lebih cepat, lebih murah, dan lebih ekstrem. Tidak ada perlawanan, tidak ada suara balik, tidak ada consent. Masalahnya, dampak dari representasi gambar perempuan dari AI tidak berhenti di dunia digital.
Melainkan dapat memengaruhi cara perempuan nyata memandang tubuhnya sendiri. Ketika algoritma terus-menerus menampilkan tubuh ideal yang sempit dan tidak realistis, ketimpangan lama menemukan bentuk baru. Teknologi yang seharusnya membuka kemungkinan justru mengunci imajinasi pada pola lama.
Perlunya Regulasi Etis Penggunaan AI
Dua studi tersebut menunjukkan bahwa maraknya penggunaan figur perempuan dalam konten generated AI di media sosial bukan semata persoalan estetika. Tetapi juga membuka ruang bagi penyalahgunaan, mulai dari manipulasi visual hingga penipuan digital. Ketika tubuh perempuan dipilih sebagai wajah dari kecanggihan teknologi, ia kembali direduksi menjadi objek—mudah diproduksi, diatur, dan dikonsumsi oleh algoritma demi atensi dan keuntungan.
Dalam konteks ini, ketidakhadiran regulasi yang tegas membuat teknologi bergerak tanpa batas etis yang jelas. Tanpa penandaan yang transparan seperti watermark, label konten AI, dan pembatasan penggunaan, publik dibiarkan berhadapan dengan gambar yang menyesatkan dan berpotensi merugikan. Karena itu, pengembangan AI tidak bisa hanya diserahkan pada logika pasar, tetapi harus diiringi kebijakan yang melindungi martabat manusia.
Referensi:
- Vargas-Veleda, Y., del Mar Rodríguez-González, M., & Marauri-Castillo, I. (2025). Visual Representations in AI: A Study on the Most Discriminatory Algorithmic Biases in Image Generation. Journalism and Media, 6(3), 110. https://doi.org/10.3390/journalmedia6030110
- Rosenbaum, J. I need husband: AI beauty standards, fascism and the proliferation of bot driven content. AI & Soc (2025). https://doi.org/10.1007/s00146-025-02491-8
