Bincangperempuan.com- HIV masih sering dibicarakan dengan nada takut-takut, seolah-olah penyakit ini selalu mematikan atau memalukan. Tidak sedikit orang yang langsung menghubungkannya dengan moralitas atau menganggap HIV mudah menular hanya karena berada dekat dengan orang yang hidup dengan kondisi tersebut. Cara pandang seperti ini biasanya lahir dari informasi yang tidak lengkap—atau dari mitos yang terus diwariskan tanpa pernah diperiksa ulang.
Padahal, kenyataannya jauh lebih kompleks dan tidak sesederhana itu. Orang dengan HIV tidak otomatis menularkan virusnya, dan banyak “aturan tidak tertulis” yang beredar di masyarakat sebenarnya tidak punya dasar medis sama sekali. Jadi, sebelum kita larut dalam asumsi, mari lihat dulu: apa saja sebenarnya mitos dan salah kaprah yang beredar soal HIV?
Apakah HIV sama Dengan AIDS?
Banyak orang mengira HIV dan AIDS adalah hal yang sama karena kerap disebutkan beriringan. Padahal keduanya berbeda jauh. HIV (human immunodeficiency virus) adalah virus yang menyerang dan merusak sistem kekebalan tubuh. Virus ini menginfeksi sel-sel imun dan membuat tubuh kesulitan melawan penyakit lain. Karena sifat virus yang memasukkan materi genetiknya ke dalam DNA manusia, HIV juga digolongkan sebagai retrovirus.
Jika infeksi HIV tidak ditangani, kerusakan pada sistem imun akan semakin berat. Kondisi inilah yang kemudian berkembang menjadi AIDS (acquired immunodeficiency syndrome), yaitu tahap akhir sekaligus yang paling serius dari infeksi HIV. Pada fase AIDS, jumlah sel darah putih tertentu berada pada tingkat yang sangat rendah, dan tubuh berada dalam kondisi rentan terhadap berbagai penyakit infeksi maupun komplikasi berat.
Tanpa pengobatan, infeksi HIV biasanya berkembang menjadi AIDS dalam waktu sekitar sepuluh tahun. Namun, perbedaan utama yang perlu digarisbawahi adalah ini: HIV adalah virusnya, sedangkan AIDS adalah kondisi yang terjadi ketika infeksi HIV sudah sangat merusak sistem imun. Seseorang tidak akan mengalami AIDS jika tidak terinfeksi HIV. Berkat adanya terapi antiretroviral (ART) yang dapat menekan perkembangan virus, tidak semua orang yang hidup dengan HIV akan berkembang menjadi AIDS.
Baca: Mengapa Kondom Perempuan Masih Belum Populer? Apa yang Bisa Kita Lakukan?
Mengapa Kini Disebut ODHIV?
Sejak 2021, Kementerian Kesehatan menggunakan istilah ODHIV (Orang dengan HIV) untuk menggantikan istilah lama, ODHA. Menurut Pita Merah, perubahan istilah ini penting untuk menegaskan bahwa seseorang yang hidup dengan HIV tetaplah manusia dengan hak dan martabat yang utuh. Mereka tidak boleh diperlakukan berbeda, dikucilkan, atau dianggap “berbahaya” hanya karena status kesehatannya.
Istilah ODHIV juga menggambarkan kondisi medis secara lebih akurat. Banyak orang yang hidup dengan HIV, mengonsumsi ART secara rutin, dan mampu menjaga viral load tetap rendah hingga tidak terdeteksi. Dalam kondisi ini, HIV tidak berkembang menjadi AIDS, dan mereka dapat hidup sehat, produktif, serta tetap aktif bekerja atau beraktivitas seperti siapa pun.
Mitos: HIV Bisa Menular Hanya karena Berdekatan dengan Orangnya
Ini salah satu mitos terbesar yang memperkuat stigma terhadap ODHIV. Banyak orang masih percaya HIV bisa menular hanya dengan berada di dekat penderitanya, atau lewat sentuhan, pelukan, atau berbagi makanan. Faktanya, HIV tidak menular melalui kontak fisik biasa. Virus ini tidak menyebar melalui sentuhan atau berpelukan, cium pipi, berbagi gelas, alat makan, atau telepon, toilet umum atau kolam renang, atau pun gigitan serangga.
Perlu diketahui, HIV juga tidak menular lewat air liur. Ciuman biasa sama sekali tidak menyebabkan penularan. Dalam kondisi sangat jarang, misalnya keduanya memiliki luka terbuka di mulut, barulah ada kemungkinan penularan melalui ciuman dalam yang sangat intens. Namun, kasus seperti ini hampir tidak pernah terjadi.
Penularan HIV hanya bisa terjadi melalui darah, air mani, cairan vagina, ASI, dan cairan rektal (pangkal anus) dari seseorang yang memiliki viral load tinggi (jumlah virus).
Baca juga: Pendanaan Merosot, Perjuangan Melawan HIV Terancam Mundur 20 Tahun
Mitos: HIV Hanya Menyerang Pekerja Seks dan Pengguna Narkotika
Ini juga keliru dan sangat merugikan karena mengalihkan perhatian dari fakta medis yang sebenarnya. HIV tidak memilih profesi, identitas, atau kelompok sosial. Siapa saja bisa terinfeksi bila melakukan aktivitas berisiko tanpa perlindungan, seperti hubungan seksual tanpa kondom atau penggunaan jarum suntik tidak steril.
Yang sering terlupa adalah bahwa orang yang aktif secara seksual menjadi lebih rentan bukan karena identitas atau orientasinya, melainkan karena stigma yang membuat mereka malu, takut dihakimi, atau enggan mengakses layanan kesehatan reproduksi dan edukasi seksual. Ketika pendidikan, konseling, dan layanan tes HIV dianggap tabu, orang akhirnya bergerak tanpa informasi yang cukup dan tidak berani melakukan pemeriksaan rutin. Padahal akses terhadap layanan-layanan ini justru menjadi kunci pencegahan.
Mengaitkan HIV dengan moralitas atau kelompok tertentu hanya memperkuat stigma tersebut dan membuat orang semakin enggan memeriksakan diri. Akibatnya, deteksi dini terhambat, risiko penularan meningkat, dan beban sosial terhadap ODHIV semakin berat.
Mitos: HIV Sama dengan Vonis Mati
Banyak orang masih percaya bahwa kalau seseorang positif HIV, maka ia otomatis akan terlihat kurus, lemah, sakit berat bahkan dianggap memiliki angka harapan hidup yang kecil. Keyakinan seperti ini bukan saja keliru tapi juga menyakitkan bagi mereka yang hidup dengan HIV, karena menutup kemungkinan untuk berempati dan mendukung.
Sejak kemajuan pengobatan Antiretroviral Therapy (ART) pada pertengahan 1990-an, orang yang hidup dengan HIV dan menjalani ART secara benar bisa memiliki harapan hidup mendekati normal. Mitos ini menyebar stigma bahwa HIV identik dengan kelemahan, kematian, dan tidak bisa hidup normal. Padahal, banyak ODHIV menjalani hidup produktif, bekerja, berkeluarga, dan menikmati kehidupan seperti biasa.
Sudah waktunya kita meninggalkan cara pandang yang keliru tentang HIV. Menggunakan istilah ODHIV (Orang dengan HIV) bukan sekadar soal bahasa, tetapi juga komitmen untuk menghormati martabat manusia yang hidup dengan kondisi ini. Istilah tersebut menegaskan bahwa mereka tetap manusia seutuhnya—punya hak, kontribusi, dan kehidupan yang sama berharganya.
Mengulang dan menyebarkan mitos hanya akan mempertebal stigma, menghalangi orang untuk memeriksakan diri, dan memperburuk kualitas hidup ODHIV. Sebaliknya, memahami fakta medis, membuka ruang edukasi seksual yang aman, serta berhenti menautkan HIV dengan moralitas atau kelompok tertentu adalah langkah nyata untuk mendorong masyarakat yang lebih sehat dan inklusif. Karena pada akhirnya, HIV dapat dikendalikan, dicegah, dan dikelola.
Referensi:
- Pita Merah. (2023). Stop Gunakan Kata ODHA, Gunakan Kata ODHIV. https://pitamerah.org/2023/11/01/stop-gunakan-kata-odha-gunakan-kata-odhiv/
- Cleveland Clinic. (n.d.). HIV and AIDS. https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/4251-hiv-aids
- Healthline. (n.d.). Misconceptions about HIV/AIDS. https://www.healthline.com/health/hiv-aids/misconceptions-about-hiv-aids#Myth-5-HIV-always-leads-to-AIDS
