Bincangperempuan.com- B’Pers, pernahkah perhatianmu terhenti saat melihat video seseorang sedang membereskan dapur, menyikat lantai, atau menata perabot rumah di linimasa TikTok? Tanpa sadar, jari kita berhenti menggulir, mata terpaku pada layar, lalu muncul rasa puas saat melihat setiap sudut yang kotor berubah menjadi rapi dan berkilau.
Padahal, sebagian besar orang tidak terlalu menyukai pekerjaan rumah tangga. Tetapi di dunia maya, terutama di TikTok, aktivitas membersihkan rumah justru menjadi tontonan yang menyenangkan—bahkan terkadang terasa hipnotis. Coba saja telusuri tagar #CleanTok, dan kamu akan menemukan ratusan ribu video berisi orang-orang yang dengan sabar menggosok wastafel, menata lemari dapur, hingga mengisi ulang wadah sabun dan kebutuhan rumah tangga.
Kenapa Kita Betah Nonton Orang Bersih-Bersih?
Menurut wawancara Discover Magazine dengan Giulia Lara Poerio, psikolog dari University of Essex, daya tarik video bersih-bersih tak jauh berbeda dengan video ASMR (Autonomous Sensory Meridian Response). ASMR merujuk pada respons sensori yang menimbulkan rasa nyaman dan geli halus di kulit kepala, leher, atau bahu saat seseorang mendengar atau melihat rangsangan tertentu.
Rangsangan ini bisa berupa suara bisikan, bunyi ketikan keyboard, atau bahkan suara air mengalir dan gerakan spons yang menggosok permukaan kotor.
Poerio menjelaskan bahwa pengalaman audio-visual seperti ini dapat memicu reaksi fisiologis yang menyenangkan. Banyak orang menggambarkannya sebagai sensasi menenangkan yang membuat mereka lebih rileks, bahkan membantu mereka tidur lebih nyenyak.
Namun, bagi sebagian orang yang tidak merasakan sensasi ASMR, konten bersih-bersih tetap membawa manfaat emosional. Poerio juga menyoroti aspek psikologis dari kebiasaan menonton video bersih-bersih. Manusia, katanya, memiliki dorongan alami untuk merasa berdaya dan mampu mengendalikan lingkungannya.
Dunia yang sering terasa kacau dan penuh ketidakpastian, tontonan seperti ini menghadirkan ilusi kendali dari ruangan yang berantakan diubah menjadi rapi hanya dalam hitungan menit. Banyak video mempercepat prosesnya, membuat pekerjaan yang seharusnya memakan waktu berjam-jam selesai hanya dalam satu menit dan hasilnya selalu sempurna.
“Jika seseorang ingin merasakan kembali sensasi mengontrol sesuatu, pengalaman itu bisa didapatkan secara tidak langsung melalui video seperti membersihkan rumah,” ujar Poerio. Dengan kata lain, menonton orang lain membersihkan memberi kita rasa puas dan tenteram, seolah-olah kita turut menata kembali kekacauan hidup sendiri.
Baca juga: Momen Sumpah Pemuda, Gen Z Menagih Tanggung Jawab Iklim
Lebih Suka Menonton daripada Bersih-Bersih Sendiri
Menurut survei yang dilakukan oleh lembaga OnePoll untuk perusahaan pembersih Stanley Steemer yang dimuat di laman Realtor.com, sekitar 64 persen responden mengaku lebih menikmati menonton orang lain membersihkan rumah dibanding melakukannya sendiri. Bahkan, 45 persen di antaranya menonton video semacam itu secara rutin setiap minggu.
Angka ini menggambarkan paradoks: kita mencari motivasi untuk beres-beres rumah, tetapi justru betah menonton orang lain yang melakukannya. Aktivitas yang mestinya melelahkan berubah menjadi hiburan visual yang menghadirkan rasa puas tanpa harus bergerak sedikit pun.
Kalau di luar negeri video bersih-bersih identik dengan ASMR yang menenangkan—suara spons, atau sikat—maka di Indonesia suasananya justru kebalikannya. Banyak kreator CleanTok lokal yang tampil dengan nada tinggi, gaya marah-marah, atau berteriak lucu sambil menyapu dan mengepel. Alih-alih menenangkan, video seperti ini terasa lebih jujur dan menghibur, karena dekat dengan realitas: bersih-bersih memang melelahkan, dan kadang butuh dilampiaskan dengan omelan kecil.
Bisa dibilang, di Indonesia kebersihan sudah jadi bentuk hiburan tersendiri. Entah lewat gaya marah-marah yang lucu, atau vlog santai penuh sapaan “halo gaes”, CleanTok menghadirkan sisi rumah tangga yang nyata tapi tetap menghibur.
Namun, di sisi lain, kebiasaan ini bisa menjadi bentuk pelarian kecil. Menonton video bersih-bersih memberi ilusi bahwa kita juga sedang membereskan sesuatu, padahal yang kita lakukan hanyalah menikmati keteraturan yang diciptakan orang lain. Tidak heran jika banyak orang merasa lega setelah menonton video semacam ini, meskipun tumpukan cucian di rumah masih menunggu.
Baca juga: Ramai Pembalut Repack di Pasaran, Apakah Aman?
Kontroversi di Balik #CleanTok
Meski terlihat polos, dunia #CleanTok tak lepas dari sisi gelapnya. Seiring popularitasnya meningkat, muncul pula konten-konten yang dibuat semata-mata demi menarik perhatian, bukan karena benar-benar membersihkan. Beberapa pembuat konten sengaja menata ruangan agar tampak lebih kotor atau jorok untuk menciptakan efek transformasi yang dramatis.
Salah satu kasus yang cukup ramai terjadi pada seorang kreator TikTok dengan nama pengguna Clean Girl. Ia menjadi viral karena videonya yang memperlihatkan dirinya membersihkan makam orang tak dikenal. Aksinya memang menarik simpati sebagian orang, tetapi juga menimbulkan kontroversi besar. Banyak pengguna menilai tindakannya tidak pantas karena dilakukan tanpa izin keluarga almarhum, bahkan ia sempat mengganti bunga dan benda di sekitar makam.
Peristiwa itu menimbulkan perdebatan tentang batas antara konten baik dan etika privasi. Niat yang tampak mulia bisa berubah menjadi tindakan yang dianggap tidak sensitif ketika kebersihan dijadikan performa untuk konten.
Di sini, #CleanTok memperlihatkan sisi lain media sosial—bahwa bahkan hal sesederhana membersihkan pun bisa berubah menjadi tontonan yang diatur dan dipentaskan. Para kreator menampilkan performa yang cepat, dan memuaskan; sesuatu yang kontras dengan kenyataan yang jauh lebih melelahkan.
Mungkin karena itu kita betah menatap layar, menyaksikan spons berputar dan busa sabun perlahan hilang. Di tengah hidup yang sering terasa berantakan, menonton orang lain menata ruang bisa memberi ilusi seolah pikiran kita ikut tertata.
Namun, di balik sensasi satisfying itu, penting untuk tidak terjebak dalam algoritma—menjadi penonton pasif yang terus scroll sambil rebahan (bed rotting), merasa produktif padahal tak bergerak sedikit pun. Sebab, kebersihan paling menenangkan bukan yang kita saksikan di layar, melainkan yang kita ciptakan sendiri.
Referensi:
- Discover Magazine. (2022, 29 August). Why deep cleaning videos are so satisfying to watch. https://www.discovermagazine.com/why-deep-cleaning-videos-are-so-satisfying-to-watch-44000
- Realtor.com. (2022, 03 May). What Is CleanTok? Get Ready for Viral Videos That Can Motivate You To Get Up and Clean. https://www.realtor.com/advice/home-improvement/cleantok-trend-tiktok-cleaning-hacks/
